Selasa, 21 Januari 2014

Kembali

Perjalanan 14 bulan di bumi Kalimantan belahan timur seperti liburan yang telah menginjak senjanya. Awan-awan mulai menggelap, menggelantungkan redupnya di atas kepalaku sembari berbisik sendu, “Yuk pulang.”

13 Januari 2013
Rumah yang setahun terakhir hanya berisi ayah dan ibuku ini dari luar kelihatan tak banyak berubah. Meski begitu, bagian dalamnya cukup membuatku pening sesaat. Aku menyebarkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan. Rumahku “ramai” sekali. Seperti toko kelontong, barang-barangnya rasanya banyak sekali.
Setelah bersih-bersih badan dan berbaring sebentar, aku menuju dapur untuk mengecek  kebiasaan ibuku, masih sama seperti dulu atau sudah berubah. Tidak sulit mengeceknya. Hanya perlu membuka pintu lemari pendingin, dan seperti biasa tumpukan makanan berjejalan di sana. Ibuku adalah tipe orang yang hemat dan tidak pernah tega membuang makanan, apalagi pemberian orang. Betul sekali bahwa pemberian orang, apapun itu, harus kita jaga. Tapi kalau sudah lebih dari 5 hari, tekstur makanan biasanya mulai berubah, rasa asli mulai samar dengan rasa kecut dan pahit, dan yang paling buruk : tumbuh jamur, apa iya masih harus dipertahankan? God. Dan sidak pagi itu menghasilkan penemuan 2 kotak roti berjamur dan sekotak kue-kue basah yang baunya kecut dan mulai mem-“batu”. Haha, ibuku belum berubah rupanya untuk hal satu ini.
Selain berkotak-kotak kue yang harus direlakan untuk pergi, secara mengejutkan masih ada 2 botol kecil susu asam yang tertangkap mataku di bagian pintu lemari pendingin. Meskipun heran karena biasanya kedua orangtuaku bukan penikmat susu asam, tanpa pikir panjang kuambil satu minuman tersebut dan meminumnya. Kecut. Apa karena cukup lama tidak pernah mengonsumsinya atau apa ya? Ah, tapi kan memang begini, kataku menentramkan hati. Namanya saja susu asam.

14 Januari 2013
Keesokan harinya, lemari pendingin menjadi destinasi utama lagi di pagi hari. Satu botol kecil susu asam masih berdiri setia di pojokan rak botol penyimpan air dingin – di tempat yang kemarin. Kuambil botol mungil itu dan bergegas membuka penutup mulut botolnya sampai tak sengaja rentetan pendek huruf-huruf komputer di leher botol tertangkap oleh mataku beberapa detik sebelum kuteguk susu asam itu. 24des2013.
Ya. 24 Desember 2013. Yang mana itu adalah 3 minggu sebelum hari dimana aku menemukannya bersandar santai di pintu lemari pendingin. Tanpa dosa, melambai-lambai minta diminum.  Susu asam itu sudah lewat tanggal aman konsumsi sejak 3 minggu yang lalu. Dan kemarin aku minum itu. Fiuh. -________-

Sedikit cerita, waktu masih bertugas di penempatan, sekalinya saya dan teman-teman pernah makan telur yang digoreng dengan margarin kadaluarsa. Beberapa teman mengaku tetap kuat, tapi saya ingat betul perut saya langsung bergejolak keesokan harinya. Dan kini terulang lagi hal serupa di rumah. Tapi untungnya kali ini tidak terjadi gangguan pencernaan apapun seperti dulu. Gantinya malah demam tinggi selama beberapa hari. Zzzzz...
Pulang ke rumah memberikan kelegaan yang luar biasa bagi saya pribadi. Melihat kedua orangtua yang masih tangguh beraktivitas, melihat kota kecil ini bergerak cepat, serta mengistirahatkan tubuh ini secara total. Tapi hari terus berjalan pergi. Kenangan demi kenangan datang, hingga kenangan lama tertutupi, mengendap lalu hilang terganti.
Kebiasaan menyimpan makanan sampai kering dan berjamur sebenarnya mirip seperti saat kita menyimpan kenangan. Tangan-tangan kita sudah tergoda oleh makanan yang lain, sementara masih banyak makanan di dalam lemari pendingin yang belum habis. Akibatnya, makanan terpaksa harus dibuang karena basi. Oleh karena itu, makanan harus dikeluarkan dalam waktu tertentu. Kalau kita tak mampu menghabiskan makanan dalam lemari pendingin itu sendirian, mengapa tidak dibagi?

Jangan simpan ceritamu. Ceritakan, tuliskan, bisikkan padaku. Kalau kita sudah tak bisa saling membagi waktu dalam pembicaraan-pembicaraan kecil seperti dulu, biarkan aku ikut berdoa dan mendukung perjalanan panjangmu. Tahukah? Aku rindu.

*Tulisan ini dibuat untuk teman-teman seperjuangan yang kini sudah menyebar satu per satu. Ayo masih ada “utang menulis”  lohh kitaa.. jangan disimpan lama-lama, nanti jamuran kayak roti di kulkasku! Ahaha.


Minggu, 15 Desember 2013

Menjadi Ibu


Usianya hanya terpaut sekitar 10 tahun denganku, dan anaknya sudah dua, Doni (7 tahun) dan Nanda (13 tahun).  Wajahnya belum menampakkan kerutan berarti dan gerak-geriknya sangat cekatan. Nada bicaranya selalu antusias ketika mengetahui sesuatu yang baru dan pernah berkata paling tidak tega melihat anak kucing kedinginan di jalanan. Ia ibuku, ibu angkatku yang selama setahun terakhir ini kurepoti hidupnya dan hidup keluarganya. Namanya Ibu Umi, kalau para tetangga memanggilnya.

Suatu ketika aku sedang membantu anak pertamanya, Nanda,yang sudah SMP kelas 1 mengerjakan PR Bahasa Inggris di dalam kamar. Ibu Umi memanggilku dan menanyakan tentang petunjuk penggunaan suatu alat di buku manual yang bahasa pengantarnya Bahasa Inggris. Selesai membacakan artinya, ibu berkata,
“Kalau Cuma ON sama OFF aku tahu, Sin (karena usia yang terpaut tak jauh, ayah dan ibu angkatku di sini lebih menganggapku sebagai adik mereka, sehingga sering panggil nama). Soalnya di kompor itu juga ada yang buat nyalakan itu.”
“Ooh dulu pernah belajar bahasa Inggris kah?” tanyaku.
“ Dulu waktu sekolah ngaji suka lihat ada guru yang ngasih belajar bahasa Inggris sama anak-anak SMP. Trus aku sering ikut-ikut belajar juga,” jawab ibuku sambil tertawa-tawa sambil mengenang.

Aku seperti bisa membayangkan pada hari itu. Bertahun-tahun yang lalu, Ibu Umi kecil yang habis lulus SD pergi mengaji setiap hari di sebuah pondok ngaji dekat rumahnya alih-alih mengenyam bangku SMP. Sesekali saat istirahat mengaji, ia intip-intip sekolah SMP sebelah yang ada guru yang mengajar Bahasa Inggrisnya. Ia ikut belajar dengan mendengarkan ala kadarnya, dan mengingat sebisanya.
Aku ingin berada pada hari itu. Hari ketika aku melihat seorang gadis kecil dengan tekun menonton anak-anak sebayanya belajar karena rasa ingin tahunya yang besar. Aku ingin bisa menyapanya. Menanyakan siapa namanya, dan mengapa dia tidak ikut masuk ke kelas. Aku ingin membawanya ke sekolah dan melihat dia duduk di salah satu bangkunya.
Tapi....

Gadis kecil itu kini sudah beranjak dewasa. Menjadi wanita dengan dua orang anak yang dicintainya. Menjadi pendongeng ketika malam tiba, temani anaknya yang paling kecil, Doni, berceloteh sesaat sebelum tidur. Menjadi guru yang baik di rumah bagi kedua anaknya. Dan menjadi pembelajar yang baik di setiap kesempatan hidupnya.
Menjadi Ibu.




Selasa, 10 September 2013

Bawah Laut Pertamaku

Selalu ada momen pertama sebelum yang ke-2,ke-3, dan seterusnya hingga menjadi biasa. Untuk sebuah jiwa yang kaya dan pandang yang luas menjangkau sudut-sudut terjauh mata, aku rela menanggalkan segala ketakutanku dan belajar berteman dengan resiko-resiko baru.
Welcome, Freedom!!

Beberapa waktu yang lalu, saya dan beberapa kawan sempat berjalan-jalan ke daerah Tarakan. Sebelumnya, Tarakan merupakan sebuah kabupaten di provinsi Kaimantan Timur. Tapi belakangan saya tahu bahwa saat ini sudah terbentuk provinsi baru yaitu Kalimantan Utara (atau disebut Kaltara) dan Tarakan menjadi salah satu kabupaten yang tergabung di dalamnya.
Semenjak perjalanan menegangkan akibat turbulensi hebat di pesawat saat pertama berangkat bertugas dulu dan perjalanan random ke Banjarmasin, perjalanan menegangkan berikutnya adalah ke Tarakan ini. sebenarnya Tarakan hanya sekedar persinggahan, karena tujuan sebenarnya adalah pulau-pulau kecil bernama Derawan, Kakaban, Maratua, dan Sangalaki.

1.       Saya belum pernah dibonceng naik motor dan hampir ditinggalkan di jalan. Tapi bersama Rara, teman sepenempatan saya, saya jadi pernah sekalinya. Itu juga gara-gara kami berdua dengan bawaan riweuh melewati jalanan desa yang berlubang-lubang dalam, gas motor tak cukup kuat, maka saya pun berinisiatif langsung turun dari motor untuk memperingan beban motor meloloskan diri dari lubang. Lalu dari tempat saya turun, saya perhatikan Rara bercakap-cakap entah dengan siapa, mengingat saat itu tak ada pengendara lain selain kami sementara saya memperhatikannya sambil melongo. Dan ternyata seperti adegan film komedi, dia benar-benar menyangka bahwa saya masih duduk manis di belakangnya. Paraaaaahh...-_____-

2.       Snorkling
Seorang teman saya adalah pecinta laut. Kampung halamannya di Kalimantan, dan setiap kali pulang dia sering bercerita tentang perjalanannya menjumpai laut-laut asing. Sesekali dia mengirimkan saya foto hasil buruannya saat menyelam via salah satu media layanan obrol berbasis internet. Sesekali pula dia memberikan gambar lokasi pendaratannya. Pantai yang biru, pasir yang putih, jangkau pandang yang luas,para penghuni laut yang “ajaib” membuat saya tidak habis bertanya kapan saya bisa berada di tempat yang sama. Dan baru saat momen snorkling saya yang pertama, saya mulai “agak” mengerti kenapa dia bisa tergila-gila dengan laut dan seisinya.
Snorkling pertama saya di Pulau Maratua, sekitar 60 menit dari Pulau Derawan. Disambut dermaga dan resort megah milik *ehm* warga negara Malaysia, Peter (guide kami saat itu) mengatakan bahwa boat kami tidak bisa bersandar. Tidak boleh, lebih tepatnya. Oleh karena itu, sekitar 100 meter dari resort tersebut boat kami berhenti dan menurunkan penumpangnya, diantaranya saya. Saya pasang snorkel pertama saya dengan gugup di tempatnya. Seperti orang udik yang baru pertama naik lift, kira-kira itu perasaan saya ketika melongokkan kepala ke dalam air dan bisa bernapas dengan lega selama lebih dari 30 detik.
There was no word can describe what i exactly felt, at that moment, but H-A-P-P-Y. Saya letakkan perasaan takut di bawah lindungan jaket pelampung dan mulai merasakan nikmatnya melihat “dunia baru” sambil (karena belum ahli) merasakan asinnya air laut. Oh, ini rupanya yang namanya snorkling.


-Pulau Maratua-

3.       Menyentuh ubur-ubur
Saya melihat bentuk makhluk bernama ubur-ubur dari buku IPA waktu duduk di bangku SMP. Dan pertama kali menyentuh ubur-ubur dalam wujud aslinya adalah sekitar 10 tahun kemudian. Itu pun langsung dihadapkan dengan ubur-ubur tanpa sengat yang populasinya melimpah dan hanya ada di 2 lokasi di dunia. Salah satunya di Pulau Kakaban di sekitar Derawan ini. What a great day it was. Rasanya pingin berlama-lama berenang di laguna itu, mencari keempat spesies ubur-ubur tanpa sengat yang berdiam di sana dan tidur-tiduran di atas air sampai menjelang sore.

4.       Memegang (anak) penyu
Yap. Hampir segala yang saya lakukan pada liburan 3 hari itu adalah yang pertama kalinya. Penyu yang (lagi-lagi) Cuma sempat saya pernah amati dari TV dan buku, anakannya bisa tersentuh juga. Geli-geli lembek. Haha.

5.       Speedboat malam jam 9 selama 15 menit yang terasa seperti 1 jam
Karena liburan berakhir tepat sehari sebelum masuk sekolah, mau tak mau saya dan teman-teman harus buru-buru pulang semalam sebelumnya. Tanpa babibu lagi, menyeberang dari Balikpapan ke Penajam pakai speedboat pun kami jalani. Hari-hari itu ombak sedang sangat menggila. Bahkan ketika dari Derawan ke Tarakan (transit pesawat kami di Tarakan untuk menuju Balikpapan), speedboat yang membawa kami berguncang demikian kerasnya.

Dan kali ini, kami jalan malam hari. Berbekal rompi pelampung dan gadget yang sudah dibungkus dry bag, komat-kamit sudah mulut saya sepanjang perjalanan 15 menit di atas air di malam itu. Untunglah si supir lihai. Jadinya kami pun dengan bergemeletuk antara ke-angin-an dan tegang sampai juga di seberang.

                                       -Piknik ke SD setempat-



Waktu Mereka Ikut Lomba


Akhir April lalu, saya berkesempatan mengajak anak-anak murid saya yang lolos ke tahap semifinal sebuah lomba sains ke ibukota Kabupaten Paser, Tana Paser. Babak semifinal ini adalah lanjutan dari babak penyisihan tingkat kecamatan yang sudah diadakan sebulan sebelumnya. Secara mengejutkan, 14 dari 22 murid yang ikut seleksi tingkat kecamatan lolos ke babak semifinal. Dan jadilah kami beramai-ramai menginjak ibukota kabupaten nan ramai dan gemerlap.
Jarangnya mereka menginjak daerah perkotaan betul-betul membangkitkan rasa penasaran mereka yang terpendam. Jalan-jalan di malam hari menikmati kota menjadi satu pilihan hiburan aman saya untuk melepas lelah mereka setelah perjalanan jauh dengan mobil desa yang disertai muntah massal.
Di ibukota kabupaten ini ada satu tempat menarik yang sering saya dengar disebut dengan MTQ. Bangunannya bercat ungu dengan serambi di kedua pingginya dan lapangan keramik terbuka di tengahnya, hampir seluas lapangan sepakbola. Ketika malam tiba, tempat ini menjadi pusat kegiatan anak muda yang dinamis. Malam itu, saya melihat anak-anak begitu tertarik memperhatikan sekumpulan anak muda yang berjoged dengan radio tape yang memutar musik bergenre RnB. Tak jauh dari situ, kumpulan muda-mudi lain sedang latihan tari juga. Tak tertinggal kapoera, dimana saya dan anak-anak sempat minta diajari satu gerakan dasar oleh mereka. Fun!
Bertandang ke kota kabupaten mengiring anak-anak yang super penasaran menjadi keasyikan tersendiri bagi saya. Bagaimana tidak? Banyak hal yang tak tertangkap di sudut mata mereka di desa, sehingga membuat kunjungan ini begitu punya makna. Anak-anak ini bahkan sudah bangun sejak jam 3 pagi di hari H lombanya dan sudah rapi jali di kala gurunya yang satu ini baru memicingkan mata untuk mengenali datangnya matahari.
Sebulan kemudian, yaitu bulan Mei, pengumuman peserta yang lolos babak final pun datang. Dengan hati berdebar saya cermati nama-nama peserta yang lolos. Namun nasib baik belum juga datang, tak satu pun dari nama-nama itu terdengar familiar bagi saya. Empat belas mutiara kecil saya belum berkesempatan pergi ke tanah Jawa. Sedih, jelas iya. Tapi ketika mengabarkan hal ini pada mereka, saya tiba-tiba terkesiap sendiri.
Bukan, bukan titel kemenangan yang mengisi binar mata itu. Binar-binar mata itu berisi hari-hari ketika kami belajar bersama di sawah, di kelas, berjalan-jalan di sekitar sekolah, melakukan percobaan, perjalanan panjang ke Grogot untuk mengikuti lomba semifinal, dan lain-lain. Kemenangan adalah hal yang sangat baik. Dan tentu saja, menyenangkan. Tapi ketika berhasil mengalahkan ego masing-masing dan mau berrela hati untuk tinggal di sekolah sementara teman-temannya yang lain sudah pulang, selama berhari-hari, saya menyadari bahwa titel juara sudah melekat saat itu juga pada mereka.




“BERJUDI” DENGAN CUACA (1)



“Bersyukurlah, karena dimanapun kamu berada, dengan segala kekurangan dan kelebihan yang ada, itu adalah tempat terbaikmu berada.”

Seperti menerima guyuran air hujan setelah kemarau berhari-hari, kalimat singkat Bang Ade (rekan dari kantor Indonesia Mengajar di Jakarta) yang sedang mengunjungi saya dan teman-teman di Paser ini terasa se-menyegarkan itu. Bukan kalimat luar biasa sih sebenarnya, tapi di dalam kondisi kami, para pengajar muda, yang cuma punya 9 orang terdekat dalam jangkauan geografis untuk saling menguatkan ini, tambahan amunisi satu “peluru” ini cukup membuat pundak ini terangkat lebih ringan. Dan lebih nglegawa*, kalau orang Jawa bilang.
Meski pundak terangkat lebih ringan, guyuran hujan yang sesungguhnya justru membuat langkah kaki kami, warga desa Maruat, semakin berat. Literally, karena jalanan desa yang becek, licin, dan lengket terutama sejak bulan ke-4 yang lalu. Mau jalan kaki, naik sepeda, atau naik motor, jatuh berlumpur-lumpur sudah pernah saya alami melalui ketiga “metode” di atas. Hahaha. Ternyata 7 tahun berkendara motor kesana-sini belum cukup hebat untuk bertahan hidup di jalanan di sini.
Lagi, setiap tempat memiliki tantangan yang pas bagi penghuninya masing-masing. Kalau ada rekan yang ditantang untuk hidup di pesisir dengan kemampuan berenang nol sama sekali, atau di desa yang alat transportasinya hanya dengan ketinting (kapal kayu kecil bermuatan maks 5-6 orang dewasa), atau di desa dekat pusat pemerintahan tapi tak berlistrik sama sekali, mungkin saya memang diberi bagian menikmati aliran listrik PLN 24 jam dengan desa besar tengah hutan ini. Kembali ke masalah hujan, sekali ini saya ingin cerita sedikit tentang cuaca.
Cuaca menjadi hal yang saya garisbawahi di tempat saya tinggal saat ini. Jika di daerah pesisir cuaca berpengaruh terhadap besarnya angin, ombak, dan kegiatan menjaring ikan, di tempat saya cuaca berpengaruh terhadap semangat untuk melakukan kegiatan apapun. Jadilah peraturan pertama dalam mengadakan kegiatan di desa adalah harus bersedia “berjudi” dengan cuaca. Disebut “berjudi” karena demi lancarnya mobilisasi untuk mengerjakan suatu aktivitas, kita harus bertaruh apakah di hari H akan turun hujan atau tidak. Saya senang jika hari hujan karena berarti asupan air bersih di rumah tangga tercukupi. Tapi sekaligus sedih karena hujan juga menjadi pematah semangat saat harus berkegiatan. Jalan yang becek biasanya akan disambut dengan alasan pembatalan acara.
Ada beberapa momen “perjudian” yang membuat saya tersenyum lebar, meringis, bahkan terharu. “Perjudian” kami (saya, anak-anak, dan warga desa) dengan cuaca yang meninggalkan senyum  terakhir kali terjadi saat malam takbiran Idul Fitri kemarin. Rencana untuk meramaikan hari raya dengan takbir keliling memang sudah sejak awal bulan Ramadhan. Tapi baru 3 hari menjelang hari raya saya mengumpulkan “bala tentara” dan menanyakan kembali keyakinan mereka untuk men-jadi-kan takbiran keliling atau tidak di ruangan 3x2 yang biasa kami sebut Perpus Matahari.
“Ayo, Ibu tanyakan sekali lagi nih ya. Kalau mau jadi takbiran, ayo kita sama-sama buat obornya, tentukan rutenya. Kalau tidak jadi, ya sudah tidak apa-apa, kita takbir di masjid kita masing-masing”, kata saya kala itu. FYI, masjid di desa tempat saya tinggal jumlahnya ada 3, masing-masing berlokasi di 3 gang panjang yang berbeda yang sering disebut Handil Beringin Mekar, Handil Beringin Mekar, dan Maruat.
Rahmat, Nanda, Tenri, Ayu, dan Wulan, anak-anak SMP yang waktu itu hadir dalam rapat pengambilan keputusan itu pun sejenak ragu. Ada kekhawatiran bahwa takbirannya tidak meriah karena pastilah banyak orang malas keluar rumah karena (takutnya) waktu hari H hujan dan becek. Setelah pertimbangan ini-itu, kami pun ambil keputusan untuk membuat obor bambu terlebih dahulu. Perkara malam takbiran hujan atau becek, itu urusan belakangan. Yes, take a bit risk and do what we can do for now.
Hari Senin panas seharian. Hari Selasa panas seharian. Hari Rabu hujan lebat di pagi hari. Saya cuma bisa menatap langit lalu menatap ke jalanan sambil meringis kecil. Jam berganti jam, sore menjelang, buka puasa terakhir lewat dan saya bersama adik angkat saya, Nanda, pergi ke tempat janji berkumpul untuk takbiran, sekolah. Pringisan saya yang sudah memprediksi hanya sedikit orang yang datang takbiran berganti dengan senyum lebar. Sebanyak 34 orang datang malam itu. J


*nglegawa = berbesar hati/berlapang dada

Selasa, 30 Juli 2013

Duo Cilik Pemberani

“Dan bersama saya Nur Indah dan rekan saya Maya dari kelas 4, kami akan memandu acara perpisahan kelas 6 ini dari awal sampai selesai nanti”.

Cuplikan kalimat pembuka yang dibawakan oleh Indah tersebut mengawali senyum lebar saya di pagi hari itu. Saya baru membagikan naskah pembawa acara pada Indah dan Maya, yang bertugas sebagai pembawa acara, sehari sebelumnya. Walau saya pun bukan seorang presenter handal, apa boleh buat, mereka butuh pelatih untuk simulasi. Hasilnya? Pertama-tama mereka bagaikan robot MC, membawa acara dengan membaca teks persis sama seperti yang saya ketikkan. Kedua kali, saya minta untuk melepas teks sesekali sambil memandang ke para tamu. Masih tetap ke-robot-robot-an. Ketiga kali, sedikit-sedikit bisa lepas teks dan membawa acara dengan bermodalkan hafalan di kepala sesuai teks. Haha.
Time to take some rest, I guess. Di kelas itu tinggal ada kami bertiga dengan kertas-kertas dan pita-pita berserakan untuk hiasan kelas. Murid-murid yang lain sudah pulang lebih dahulu, karena saya janjikan untuk memulai lagi menghias kelas jam 4 sore selepas yasinan. Dan tinggallah Maya dan Indah yang latihan menjadi pembawa acara.
Sambil menempel-nempel kertas dengan selotip bolak-balik, Indah dan Maya berceloteh sambil sesekali menanyakan pendapat ibu gurunya yang sibuk menggambar huruf-huruf tempelan. Dari makanan di rumah sampai jalanan desa yang rusak, dari rasa takut jadi pembawa acara hingga acara perpisahan tahun lalu. Betapa sulitnya menjadi pembawa acara tanpa teks, betapa asingnya kata MC (dibaca emsi) ketika saya gunakan kata itu untuk pengganti kata “pembawa acara” yang terlalu panjang, dan betapa keukeuh-nya mereka memilih tidak pulang untuk berlatih.
Selepas istirahat dan mengoceh sana-sini, mereka latihan lagi. Kali ini, teks masih di tangan tapi pelan-pelan sudah mulai tertutup. Aksen membawakan acara dengan metode menghafal membuat saya tersenyum geli dibuatnya. Saya selipkan gurauan antar presenter juga dalam teks nya, tapi kalau dihafal terdengar tidak alami dan cenderung kaku. Maka saya putuskan untuk mencoba mengganti teks MC itu dengan susunan acara dari pembukaan hingga penutupan. Di akhir latihan, saat mengambil sepeda bersiap mau pulang, Indah bilang, “Aku ngga bilang mamak ah kalau besok jadi pembawa acara”. Timpal Maya, “Iya, aku juga biar kejutan ya Ndah”. Saya ketawa. There is a proud inside, feel it?

***

Pagi hari sebelum tampil, Maya masih sibuk menghafal teks pembawa acara dengan Indah membantu mengingat-ingat di sampingnya. “Deg-deg an bu. Nanti kalau salah-salah gimana?” tanya Maya gugup. Saya berhenti sejenak dari kesibukan mengurus printilan perpisahan dan bilang, “Maya tidak perlu khawatir salah. Indah juga. Maya dan Indah yang sudah berani jadi pembawa acara dan mau berlatih dengan sungguh-sungguh sudah sangat hebat lho. Pasti orangtua kalian juga bangga. Yuk, sekarang ambil mikrofonnya. Kita mulai acaranya. “

Seringkali kita mengabaikan bahwa orang-orang yang jauh lebih muda daripada kita karena merasa kita sudah lebih tahu dari pengalaman. Saya harus mengakui bahwa sumber inspirasi terbaik datangnya dari kerendahan hati dan keberanian yang murni. Indah dan Maya, dalam hal ini, telah meruntuhkan tembok pengabaian itu.

“Di balik dinding malu itu, kamu bisa jumpa dengan keberanianmu. Melompatlah yang tinggi, Nak, tak perlu malu apalagi ragu. ” 

Sepuluh Hari Merenteng Rindu

Balikpapan-Jogja-Jakarta-Bogor-Jakarta-Jogja-Balikpapan.

Kala liburan sekolah, gurunya pun tertarik ikut libur juga. Mau menenangkan diri? Jelas tidak karena liburan si guru justru menuju ke arah keramaian. Mencari inspirasi? Di tempat ini justru berhambur lebih banyak. Menyegarkan kepala? Tentu tidak karena bertemunya dengan kemacetan kota. Menjumput serenteng rindu? Nah mungkin ini sedikit lebih tepat.

Jogja, 20-21 Juli 2013.
Hujan sangat deras. Bau aspal hujan dan bau tanah hujan memang agak berbeda. Hujan di Jogja rasanya hangat, berbeda dengan hujan di desa yang dingin. Dari balik kaca jendela pesawat yang mendarat di Adisucipto, saya membatin : Saya belum pulang. Saya singgah.

Jakarta-Bogor, 22-24 Juli 2013.
Masih macet, padat, dan modern. Singgah saya 3 hari di sana. Cukuplah penuh tubuh saya dengan asap angkot dan kopaja. Mungkin banyak sudah perubahan dimana-mana, mulai dari kawasan belanja elite hingga tarif angkutan kota. Sayangnya, tingkah para penghuninya belum juga berubah-berubah. Haha. Berjalan sendirian melintas kota, bingung cari angkot sambil bawa-bawa ransel gunung saya jalani saja dengan ringan. Bau selokan, genangan air, dan besi kopaja yang karatan tercium jelas setiap kali saya melintas. Sempat dalam sebuah angkutan umum menuju Senen, seorang bocah sekolah memilih berdiri di dekat pintu bis daripada duduk. Keberadaannya agak merepotkan bagi para penumpang yang mau naik bis, saya baca dari kalimat-kalimat yang terlontar dari si supir beberapa kali saat menaik-turunkan penumpang. Hingga akhirnya, jelas betul emosinya sudah memuncak, disuruhlah si anak turun dari bis. Si anak bingung, kelihatan pasrah dengan usiran si supir, akhirnya turunlah ia.
Manusia macam apa yang terlahir setega itu?

Jogja, 25-30 Juli 2013.
Ke Jogja saya (berpikir) selalu ingin pulang. Tapi di dalam pesawat yang membawa saya dari Balikpapan kala itu, saya senang bahwa kali ini saya hanya akan singgah. Beberapa bulan terakhir ini saya jadi menyukai kata “singgah” ini. Singgah berarti hanya sementara, tidak tahu kapan akan pulang, tapi selama masih berkesempatan menetap, kita belajar banyak hal di tempat singgah. Lalu kapan akan pulang? Nanti. Mungkin ke Jogja, atau ke tempat lain dimana saya mungkin akan jatuh cinta.
Saya benci mengatakannya, tapi kota sejuta kenangan dan budaya itu kini menderita macet. Entah karena liburan anak-anak, atau karena memang sudah terlalu banyak “pengembara” yang menggeser pergerakan kota kecil ini. Mengutuk macet juga tiada guna, saya alihkan liburan saya untuk berkunjung ke desa. Jogja ini kaya sekali dengan UKM dan UMKM. Kesempatan sehari libur saya gunakan untuk datang ke Desa Wukirsari, salah satu desa pusat perajin batik tulis dan wayang kulit. Desa di bagian selatan Jogja ini tidak beda dengan desa-desa pada umumnya. Sepi, dengan jalan penghubung selebar satu buah mobil sedan, pohon-pohon bambu dimana-mana, segerombolan sapi ternak dan berpetak-petak sawah di sekelilingnya, dan sesekali terlihat kumpulan warga bercengkrama di sebuah rumah berhalaman rumah luas.
Jogja adalah kotak nostalgia terbaik. Sudutnya tak mengenal “mati”, rusuknya tak habis merangkai cerita, dan sisi permukaannya selalu berganti dengan irisan gambar-gambar manis. Persinggahan singkat kali ini hanya memberi waktu saya untuk hadir di sebuah festival seni budaya dan reuni para musisi lama Indonesia di lapangan sepakbola dekat rumah. Tidak terlalu banyak sudut yang terkunjungi, tapi saya cukupkan untuk menuntaskan rindu dan mengisi tabung-tabung semangat yang sempat kosong untuk jadi penuh lagi.
Ah, kota ini sudah banyak sekali memberi untuk saya.

Mari, kembali.