Suatu hari, ketika
sedang menunggu seduhan kopi di kedai teman, ada sebuah pesan masuk ke ponsel
saya. Ngobrol pendek, lalu si pengirim pesan tanya apakah saya suka sastra. Saya
sejujurnya agak bingung mau jawab apa, karena kalau sastra-nya beneran sastra,
saya nggak pernah baca. Ya gimana mau baca, buku Food Engineering sama Mikrobiologi Pangan Pengolahan lebih menarik
sih (haha mbelgedes ndobos banget). Tapi
saya jawab, “Iya dulu suka bikin puisi”.
Tampilkan postingan dengan label rasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rasa. Tampilkan semua postingan
Minggu, 15 Mei 2016
Minggu, 01 Mei 2016
Cerita Seduh : Arabika Kerinci di Kedai Anak Lanang
![]() |
| Reza |
Satu. Mereka
menyewa sebuah rumah kuno berarsitektur Belanda dengan bagian belakang rumah
yang masih dalam rekonstruksi. Pintu, jendela, dan kursi anyam yang mereka
pilih untuk interior kedai sungguh sangat “rumahan”. Ada sebuah meja bar
panjang dari kayu sebagai tempat untuk melakukan aktivitas seduh kopi di dalam
rumah, dan sebuah rak buku anyam menempel di salah satu sudut rumah. Pintunya
bercat hijau pastel, menambah ke-old
school-an tempat ini. Haha.
Sabtu, 30 April 2016
Cerita Seduh : Red Bourbon
Saya lagi punya project kecil untuk mencatat setiap kopi yang diseduhkan buat saya. Namanya Brewing Story Project atau bahasa gampangnya cerita seduh. Dalam cerita super singkat, saya pingin menampilkan profil seduhan yang dikasih ke saya secara detil, berikut penyeduhnya, notes yang timbul, dan foto. Belum selengkap itu sih, tapi ini lagi usaha. Dimulai dari kopi.
Kenapa saya melakukan ini? Sederhana aja, sambil belajar, sembari menghargai setiap seduhan dan karya orang lain. Saya buka pakai cerita pertama ya.
Label:
ceritaseduh,
kopi,
lampung,
rasa
Minggu, 13 Maret 2016
Kejutan Way Ratai (1)
Berawal dari perkenalan kami di
sebuah kedai kopi, Hasti yang membawa bendera Coffee Trip dalam rantai
bisnisnya ini membuat saya penasaran. Saya sendiri bukan maniak kopi, tapi saya
suka sekali kopi (dan coklat #tetep). Lalu ada tawaran piknik ke kebun kopi? Wuah,
orang dengan tingkat penasaran setinggi saya tentu saja nggak bisa tinggal
diam. Akhirnya, begitu ada kesempatan, mintalah saya sama Hasti untuk diikutkan
dalam trip, terserah trip siapapun, sebagai peserta. Rombongan yang bersama
saya kemarin kebetulan adalah guru-guru TK dan SD di sekolah Tunas Mekar
Indonesia, Bandar Lampung.
Ada beberapa kejutan di piknik
kopi kali ini. Karena panjang, saya pecah jadi 2 bagian ya.
Minggu, 21 Juni 2015
Pertanyaan Revi
“Emang sebenernya apa sih
yang lu cari?”
Pertanyaan pendek itu
terlontar tepat beberapa detik setelah giliran saya bercerita selesai dengan
penutup, “ Jadi gitu, Vi. Random idup gue mah.” Obrolan kami sebenarnya hanya berawal
dari seputar hal remeh temeh tentang musik kesukaan. Bukan, jelas bukan obrolan
serius tentang perkembangan musik dunia ala pengamat musik, melainkan lagu-lagu
yang sering lewat saja di telinga kami. Dari
kamarnya, saya sering mendengar ada suara petikan gitar mengalunkan nada-nada
lawas yang lebih familiar di telinga saya dibandingkan lagu-lagu kekinian. Sebulan
berjalan, saya baru tahu bahwa orang inilah yang sering mengalunkan nada-nada
petik itu dari kamar sebelah. Namanya Revi.
Sabtu, 23 Mei 2015
26!!
Entah
harus tertawa gembira atau tersenyum kalem dengan bertambahnya simbol satuan di
belakang angka 2. Tapi tentu saja saya sungguh bersyukur, sebab 4 tahun
terakhir pasca kelar kuliah, saya bisa merasakan momen pertambahan usia di 4
tempat yang berbeda : Jakarta-Kalimantan Timur-Jogja-Lampung. Yey!
Minggu, 11 Januari 2015
Ternyata
Pada suatu
sore di Stasiun Bogor yang ruwet, becek, dan bising, saya turun dari sebuah
angkot bersama seorang laki-laki. Walaupun tadinya di dalam angkot saya pesan
untuk diturunkan di stasiun ke supir angkot, malah laki-laki ini yang akhirnya
memberitahu saya untuk turun dari angkot karena sudah sampai di depan stasiun.
Laki-laki ini berbadan tegap dengan garis-garis wajah yang tegas dan kulit
terbakar sinar matahari, agak sangar kalau buat saya.
Selasa, 04 November 2014
Minggu, 12 Oktober 2014
Mengapa Jalan Terus, Bu?
Dalam
tulisan sebelum ini, saya sempat mengatakan untuk menuliskan tentang alasan
saya turut membantu kegiatan Pameran Kelas Inspirasi Yogyakarta bulan September
2014 lalu. Walaupun judul awalnya “alasan turut membantu”, pada akhirnya saya
lah yang terbantu. Terbantu untuk memahami kerelaan. Tsaah.
Kalo
kata Mitch Albom sih,
Satu-satunya waktu yang kita sia-siakan adalah
ketika kita menghabiskan waktu dengan mengira kita sendirian.
Berjuang
itu, walaupun untuk kebaikan diri sendiri, tidak bisa sendiri. Misalnya, ingin
punya bisnis beromset besar. Apa mungkin sendiri membangun rancang proses produksi,
jaringan, pemasaran, dan keuangannya? Ingin bisa sekolah lanjut. Apa mungkin
sendiri hanya dengan belajar teori siang malam, tanpa peduli siapa yang harus
bayar SPP, harus mencari beasiswa atau cari pekerjaan tambahan, siapa yang
mendanai kebutuhan kuliah, dan sebagainya? Ingatlah bahwa di suatu tempat entah
dimana, setidaknya ada 1 orang lain yang bermimpi sama, sedang berjuang sama
kerasnya dengan kita. Masalah hasil? Tergantung.
Tergantung usaha dan keputusan pihak-pihak
terkait.
See? Kalau itu sebuah bisnis,
maka pihak-pihak terkait itu bisa mulai dari investor, suplier bahan baku produksi,
hingga konsumen di pasar. Kalau itu adalah beasiswa, maka pihak-pihak itu bisa
orangtua, teman dekat, atau bahkan pewawancara.
Mereka
adalah orang-orang di belakang layar yang memberikan kepercayaan bahwa potensi
keberhasilan dalam cita-cita atau tujuan yang kita bawa. Nah, dalam pameran
Kelas Inspirasi Yogyakarta yang lalu, saya bertemu dengan orang-orang di
belakang layar ini. Singkatnya,
mereka-lah “alasan-turut-membantu” saya, orang-orang yang ada ketika ide ini
dibuat, yang percaya bahwa ide tersebut bisa terwujud, dan yang MASIH ADA hingga
akhir cerita.
Orang-orang
ini bekerja atas nama “relawan”, yang menyisihkan beberapa waktu produktifnya
yang berharga untuk mencari uang ataupun mengejar gelar hanya demi berkejaran
dengan keinginan merealisasikan ide dan kenyataan bahwa dukungan untuk
mewujudkannya tidak banyak. Dulu, saya hanya familiar dengan istilah “relawan” saat
ada bencana alam. Dengan sigap dan heroik, orang-orang dewasa ini (saya sebut
orang dewasa karena saat itu saya masih remaja, kalau tidak salah saat bencana
tsunami Aceh tahun 2004) bahu membahu pergi ke pelosok tempat terjadinya bencana
untuk bertemu para korban yang kehilangan nyaris seluruh hidupnya, baik itu
materi maupun keluarga, dengan cara mengisi kegiatan, menyalurkan logistik,
memantau kondisi bencana terkini, menggalang bantuan, dan sebagainya. Saya
lihat semua itu lewat televisi dimana kata “relawan” sering mampir di telinga
saya. Ada relawan medis, logistik, guru, psikolog, tentara, dan banyak lagi, baik
dari dalam maupun luar negeri. Yang saya tahu, mereka datang dan menyibukkan
diri tanpa bayaran berarti di tempat bencana itu karena satu hal : empati.
Empati
membentuk sebuah harapan. Harapan merangkai suatu cita-cita. Cita-cita meminta penggerak.
Dan bergerak memerlukan wadah serta pemikiran dan tentunya, keikhlasan. Tak
selesai di situ, nyatanya relawan di kegiatan berbasis voluntir yang lain,
tidak cukup hanya berbekal empati. Setidaknya, harus ada semangat jalan-terus untuk
menyambung nyalanya empati yang kadang meredup nyaris mati.
Saya
sendiri menemukan fase redup itu saat ikut mempersiapkan acara pameran ini baik
dari dalam diri saya sendiri maupun saat saya memandang kepada orang lain. Tapi
kemudian, dalam obrolan singkat sambil makan di satu malam, kawan saya
mengatakan, “Kadang aku nanya sama diriku sendiri. Kita ini lagi ngapain sih? Memangnya
ada sangkut pautnya dengan profesionalisme kita? Kok mau sih capek-capek?” Dia
meneruskan makan sebentar, lalu menyambung, “Tapi semakin banyak pertanyaan
macem itu, rasanya kok cuma jadi semakin jauh ya dari ikhlas.”
Kalimat
itu dikatakannya dengan sangat ringan, dan darinya saya belajar 2 hal. Satu, bahwa
dengan keluhan, tak akan pernah ada jalan. Dua, bahwa dari kegiatan yang awalnya
serba minim bisa menjadi kegiatan pameran yang berjalan secara layak.
Lalu pada akhirnya, hanya niat bersih dan
cita-cita besar yang akan menjaga kita semua dan negeri ini ke depan – Hikmat Hardono.
Bukan
begitu?
p.s :
tulisan ini saya buat untuk seorang kawan sekaligus kakak dan juga orang-orang
yang berjuang di jalur yang sama, meski dengan kondisi jalan yang masing-masing
berbeda kelak-keloknya, lubangnya, bebatuannya, tapi yakin bahwa tetap bergerak
dalam keikhlasan adalah satu-satunya cara untuk terus maju dan mencapai tujuan.
Atau mungkin melampauinya.
Selasa, 02 September 2014
Terjaga Tengah Malam
Kata
Hukum Kekekalan Energi, energi itu tidak bisa diciptakan atau dimusnahkan,
melainkan hanya bisa diubah dari bentuk satu ke bentuk yang lain. Energi itu
ibarat sebuah cerita, dia mengalir bukan dicipta, dan bisa berada dalam bentuk
berbeda pada orang dan tempat yang berbeda-beda pula. Sebagai contoh, orang
hobi makan dan hobi masak. Sama-sama memiliki kesenangan terhadap benda berupa “makanan”.
Tapi perhatikan, bahwa ketika yang satu merasa senang karena masih punya rejeki
untuk membeli makanan enak, yang lainnya merasa senang masih bisa memasak
makanan enak untuk keluarga kecilnya. Bentuk energy (cerita)-nya beda, namun
efeknya sama : positif.
Saya
ingin mengawali September ini dengan menuliskan hal-hal yang secara personal membuat
saya senang sehingga mendorong saya untuk tetap berpikir positif. Hal-hal itu
bisa meliputi benda, manusia, kegiatan, maupun kejadian yang membuat saya senang
mengalaminya. Kalau Anda membaca post
ini dan berniat melakukan hal yang sama, sok
atuh, monggo. Karena sejatinya
kesenangan itu menular, makan jangan ragu untuk meneruskannya untuk dibaca oleh
lebih banyak orang.J
Semoga
bisa istiqomah dalam 30 hari ke depan, walau postingan pertama sudah telat
hari. Huahahaha. Saya rangkum perjalanan 30 hari ke depan dalam #30halmenyenangkan
dan #mymonthlyproject karena
#bahagiaitusederhana sudah terlalu mainstream,
dan karena saya bersyukur sama Allah untuk waktu hidup yang terlewati.
-1 September 2014-
Hal
menyenangkan buat saya adalah ketika bisa terjaga
di tengah malam
setelah sebelumnya sempat tertidur 2-3 jam. Kenapa menyenangkan? Karena ketika
jalanan di luar sudah lebih tenang, udara mulai sedikit turun suhunya (jadi
agak dingin), dan kepala sudah lebih segar, keheningan itu jadi harta berharga
sebagai modal dan persiapan untuk keesokan harinya.
Agak
sulit sebenarnya mendapatkan kesenangan ini, karena fase kritis saya, yaitu jam
9-11 malam, kalau sudah terlewati dengan kegiatan tidur pasti tak akan bangun
sampai subuh menjelang. Sebaliknya, jika jam 11 ke atas masih melek, artinya
kemungkinan bisa tidur baru akan terjadi menjelang pagi sekitar jam 2-3.
Kebiasaan yang ke-2 jelas bukan kebiasaan yang bagus untuk kesehatan, tapi
memang demikian yang terjadi. Terjaga tengah malam maksudnya bukan kemudian
melek sampai pagi juga, tapi ada 1-2 jam untuk melakukan hal-hal selo untuk
berdamai dengan hari-hari (halah). Contohnya? Baca buku, nonton film, cari
cemilan, menulisi blog sekalian blogwalking,
mengedit foto, sikat gigi (kalau kebetulan lupa karena kan ketiduran tadi
ceritanya. Hehe), youtube-an Queen
(ngomong-ngomong saya lagi suka banget lagu Queen yang “I Was Born to Love You”
setelah mendengarnya dijadikan soundtrack salah satu dorama Jepang. Liriknya
sederhana, ala-ala romantis klasik gitu,
dan terutama suara Freddie yang….ah, pasti Anda lebih tahu lah), dan hal-hal
semacam itu.
Tentu,
tidur itu sendiri adalah sebuah kesenangan. Mengistirahatkan otak sejenak,
mengisi ulang “baterai”, dan melupakan masalah sejenak. Tapi sekali-dua, malam
yang hening pasti juga selalu jadi kerinduan.
Selasa, 21 Januari 2014
Kembali
Perjalanan
14 bulan di bumi Kalimantan belahan timur seperti liburan yang telah menginjak senjanya.
Awan-awan mulai menggelap, menggelantungkan redupnya di atas kepalaku sembari
berbisik sendu, “Yuk pulang.”
13 Januari 2013
Rumah yang
setahun terakhir hanya berisi ayah dan ibuku ini dari luar kelihatan tak banyak
berubah. Meski begitu, bagian dalamnya cukup membuatku pening sesaat. Aku menyebarkan
pandanganku ke seluruh penjuru ruangan. Rumahku “ramai” sekali. Seperti toko
kelontong, barang-barangnya rasanya banyak sekali.
Setelah bersih-bersih
badan dan berbaring sebentar, aku menuju dapur untuk mengecek kebiasaan ibuku, masih sama seperti dulu atau
sudah berubah. Tidak sulit mengeceknya. Hanya perlu membuka pintu lemari
pendingin, dan seperti biasa tumpukan makanan berjejalan di sana. Ibuku adalah tipe
orang yang hemat dan tidak pernah tega membuang makanan, apalagi pemberian
orang. Betul sekali bahwa pemberian orang, apapun itu, harus kita jaga. Tapi kalau
sudah lebih dari 5 hari, tekstur makanan biasanya mulai berubah, rasa asli
mulai samar dengan rasa kecut dan pahit, dan yang paling buruk : tumbuh jamur,
apa iya masih harus dipertahankan? God.
Dan sidak pagi itu menghasilkan penemuan 2 kotak roti berjamur dan sekotak
kue-kue basah yang baunya kecut dan mulai mem-“batu”. Haha, ibuku belum berubah
rupanya untuk hal satu ini.
Selain
berkotak-kotak kue yang harus direlakan untuk pergi, secara mengejutkan masih
ada 2 botol kecil susu asam yang tertangkap mataku di bagian pintu lemari
pendingin. Meskipun heran karena biasanya kedua orangtuaku bukan penikmat susu
asam, tanpa pikir panjang kuambil satu minuman tersebut dan meminumnya. Kecut. Apa
karena cukup lama tidak pernah mengonsumsinya atau apa ya? Ah, tapi kan memang
begini, kataku menentramkan hati. Namanya saja susu asam.
14 Januari 2013
Keesokan harinya,
lemari pendingin menjadi destinasi utama lagi di pagi hari. Satu botol kecil
susu asam masih berdiri setia di pojokan rak botol penyimpan air dingin – di tempat
yang kemarin. Kuambil botol mungil itu dan bergegas membuka penutup mulut
botolnya sampai tak sengaja rentetan pendek huruf-huruf komputer di leher botol
tertangkap oleh mataku beberapa detik sebelum kuteguk susu asam itu. 24des2013.
Ya. 24
Desember 2013. Yang mana itu adalah 3 minggu sebelum hari dimana aku menemukannya
bersandar santai di pintu lemari pendingin. Tanpa dosa, melambai-lambai minta
diminum. Susu asam itu sudah lewat
tanggal aman konsumsi sejak 3 minggu yang lalu. Dan kemarin aku minum itu. Fiuh.
-________-
Sedikit
cerita, waktu masih bertugas di penempatan, sekalinya saya dan teman-teman pernah
makan telur yang digoreng dengan margarin kadaluarsa. Beberapa teman mengaku
tetap kuat, tapi saya ingat betul perut saya langsung bergejolak keesokan
harinya. Dan kini terulang lagi hal serupa di rumah. Tapi untungnya kali ini
tidak terjadi gangguan pencernaan apapun seperti dulu. Gantinya malah demam tinggi
selama beberapa hari. Zzzzz...
Pulang ke
rumah memberikan kelegaan yang luar biasa bagi saya pribadi. Melihat kedua
orangtua yang masih tangguh beraktivitas, melihat kota kecil ini bergerak
cepat, serta mengistirahatkan tubuh ini secara total. Tapi hari terus berjalan
pergi. Kenangan demi kenangan datang, hingga kenangan lama tertutupi, mengendap
lalu hilang terganti.
Kebiasaan
menyimpan makanan sampai kering dan berjamur sebenarnya mirip seperti saat kita
menyimpan kenangan. Tangan-tangan kita sudah tergoda oleh makanan yang lain,
sementara masih banyak makanan di dalam lemari pendingin yang belum habis. Akibatnya,
makanan terpaksa harus dibuang karena basi. Oleh karena itu, makanan harus
dikeluarkan dalam waktu tertentu. Kalau kita tak mampu menghabiskan makanan
dalam lemari pendingin itu sendirian, mengapa tidak dibagi?
Jangan simpan ceritamu. Ceritakan, tuliskan,
bisikkan padaku. Kalau kita sudah tak bisa saling membagi waktu dalam
pembicaraan-pembicaraan kecil seperti dulu, biarkan aku ikut berdoa dan
mendukung perjalanan panjangmu. Tahukah? Aku rindu.
*Tulisan ini dibuat untuk teman-teman seperjuangan
yang kini sudah menyebar satu per satu. Ayo masih ada “utang menulis” lohh kitaa.. jangan disimpan lama-lama, nanti
jamuran kayak roti di kulkasku! Ahaha.
Selasa, 09 April 2013
Diuji Nasrini
Terakhir kali saya diuji, saya berada di sebuah ruangan kecil dan
dihujani pertanyaan serta sanggahan mengenai isi skripsi oleh dosen penguji.
Lalu di sini, hampir setiap malam saya “diuji” oleh siswa sendiri. Namanya
Nasrini.
Siswi kelas 6 yang
kesehariannya lebih akrab dipanggil Neneng ini hampir tak pernah absen
berkunjung ke rumah saya. Bicaranya banyak sekali, hingga semua yang saya
lakukan dikomentarinya habis tanpa malu-malu.
“Bu, kok kamarnya berantakan
sekali?”
Atau, “Ibu jangan pakai baju
yang itu. Jelek betul dilihatnya. Ini pakai yang ini saja, lebih cantik pakai
baju yang ini. “
Atau, “Bu, kok rambutnya
dipotong? Pendek betul. Jelek. “
Atau begini. “Ibu sekarang
sudah hitam kulitnya, tinggal di desa, panas-panas, ndak makan enak seperti di
kota. Seperti yang di TV itu ya Bu, yang Jika aku Menjadi itu.”
Kadang buat saya agak risih, tapi akhirnya
saya cuma senyum saja sambil menghela nafas dan bersiul-siul sampai akhirnya
keluar komentar satu lagi (“Bu jangan bersiul malam-malam begini. Manggil setan
itu namanya”). Sebenarnya tidak aneh mendengar celetukan jujur anak-anak
seusianya. Tapi yang buat saya janggal adalah karena Neneng ketika di rumah
berbeda dengan Neneng di sekolah.
Neneng duduk di kelas 6 sekarang. Dengan anak-anak kelas
6, interaksi saya terbatas hanya mengajar Bahasa Inggris dan les matematika
seminggu sekali. Di sekolah, Neneng bukan tipe anak yang banya bicara dan teman
bermainnya pun terbatas. Ketika anak-anak lain bermain dan berteriak-teriak sesuka
hati, Neneng cenderung menjadi kikuk dan diam. Hingga pernah suatu hari ketika
sedang menunggu les,di kala anak-anak lain asyik main sepeda dan
berteriak-teriak di luar, dia mendatangi saya di kantor.
“Lho Neneng nda ikut main sama
teman-teman? Masih istirahat kok ini, ” tanya saya.
Neneng menggeleng. “Mau sama
Ibu saja, “ jawabnya.
“Hahaha. Kenapa malah main
sama Ibu? Kenapa ndak sama teman-teman saja?” tanya saya lagi.
“Saya malas bermain dengan
anak-anak itu, habis mereka selalu olok-olok saya. Kalau ibu kan enggak, “
jawabnya.
Lonceng sekolah seperti berbunyi
nyaring sekali di kepala saya. Seketika “ujian” mengenal Neneng mendadak
dihentikan sejenak.
Mohon sudah semua prasangka kamu buang
Satu kata darimu itu adalah ruang
Dimana kamu bisa makin muram ataupun girang
Tinggal kamu pilih yang mana, Sayang
Buat apa lelah kau
pikirkan
Ayo jalan dan kita
buat ruang nyaman
Agar aku dan kamu
tak lagi segan
Memugar mimpi, menyusun
balok-balok masa depan
Label:
anak,
libur14bulan,
paser,
rasa
Mengukur Perjalanan
Nilai itu bukan dari angka-angka di atas kertas. Nilai itu asalnya dari
hati.
Sebuah kuotasi
milik Bapak Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Gantong di dalam film Laskar Pelangi
itu menghentak saya. Tengah asyik menelusuri penggalan-penggalan dialog film
yang sempat saya simpan di salah satu folder komputer jinjing saya, di kalimat
itu mata saya terhenti. Lama.
Saya
rasanya harus menginjak pedal rem dalam-dalam sekaligus menarik rem tangan
untuk segera berhenti saat itu juga. Sebelum berlalu terlalu jauh dan sebelum
terlalu asyik merencanakan ini-itu, kembali saya diingatkan untuk melakukan hal
satu ini : refleksi. Setelah cukup lama berjalan, agaknya sudah waktunya untuk
beristirahat sambil berkompromi dengan diri sendiri. Tidak, tidak sedalam
filsuf saya bisa berpikir mendalam. Cukup berpikir ringan, tapi membuka semua
celah utnuk dimasuki dan dikoreksi.
Setiap
habis ulangan atau tugas, sebuah nilai akan terpampang rapi di bawah jawaban
terakhir sebagai cerminan dari pekerjaan murid saya pada kala itu. Biasanya,
saya memberikan pengurangan poin 2,5 per kesalahan untuk nilai maksimum 100. Kemudian
di samping nilai akan ada gambar orang mungil dengan ekspresi muka berbeda-beda
tergantung berapa nilainya, berikut balon kata-kata dengan kata penyemangat.
Kemudian anak-anak itu akan mengambil bukunya masing-masing dan membandingkan
dengan teman-temannya. Sudahkah tugas belajar itu selesai di situ dan diukur
ketika ulangan?
Nilai nyatanya
memang menjadi salah satu data terukur untuk mempertanggungjawabkan kinerja
mengajar guru di kelas. Tapi saya masih mencari tahu apakah nilai-nilai “yang
lain” juga sudah tertanam pada mereka, dan kalau sudah bisa diukur dengan cara
apa. Saya masih sibuk mencari-cari cara yang ternyata dengan berhenti sejenak
di tengah perjalanan panjang ini, saya disadarkan bahwa nilai “yang itu” tidak
dicari tapi dimunculkan. Jelas, karena asalnya dari hati, maka sepanjang saya sedang
tidak memberikan nilai angka di atas kertas, maka selama itulah nilai-nilai
yang berasal dari hati mencetak rapornya.
Dan sudah
sampai sejauh mana hatimu bekerja, Sin?
Perlahan
saya angkat pedal rem dan melepas rem tangan untuk memulai melaju lagi. Saya
belum tahu akan harus berhenti dimana lagi, tapi saya pasti akan lebih sering
berhenti untuk melihat apa saja yang sudah terlalui. Tidak apa-apa agak lebih
lama sampai tujuan, tapi saya yakin bahwa setiap pondasi jalan yang saya lalui
aman sehingga suatu hari anak-anak saya bisa melewatinya dengan lancar, bahkan
mengembangkannya menjadi lebih baik lagi. Karena sekali lagi, pondasi itu
hendaknya dibangun dari hati, bukan melulu dari tambah-kurang-bagi-kali.
Sabtu, 23 Februari 2013
Kado Buat Ibu
Kalau Himalaya punya
puncaknya yang tertinggi di Everest, maka rinduku pun punya puncaknya di bulan
ini. Melebihi apapun yang tengah berputar di kepalaku, inginku ucap satu :
Selamat ulang tahun, Ibu.
Tiga puluh tahun. Dan Sinta baru tiga bulan mencoba merasakannya.
Tapi dengan kondisi dan situasi yang Sinta yakin jauh lebih baik dari jaman
tiga bulan-nya Ibu dulu. Sinta tahu betapa Ibu pun mempertanyakan kenapa Sinta
memilih jalan yang ini, karena cukup bercakap dengan Ibu pun sebenarnya Sinta
sudah akan bisa tahu.
Menjadi guru. Bukan tentang rasanya menjadi, tapi tentang
rasanya melihat anak-anak ini wira-wiri. Menjadi guru. Bukan tentang lamanya
mengabdi, tapi tentang seberapa banyak bisa berbagi. Menjadi guru, (tentu saja)
bukan tentang gaji, tapi tentang memaknai fonem “mensyukuri”.
Ibu saya yang lugu dan apa adanya, yang tanpa sadar saya pun
tumbuh serupa tapi dengan tambahan bandel dan keras kepala di belakangnya. Ibu
saya yang sudah jarang masak menjelang saya dewasa tapi tetap rajin masak kalau
Lebaran. Ibu saya yang ngga punya fesbuk atau watsap atau twitter tapi
(katanya) selalu baca blog saya, how I
amaze how you remind me to update my blog frequently.
Selamat ulang tahun, Bu.
Maafkan anakmu yang bandel, serampangan, dan selalu menghindar
dari pertanyaan “mau menikah kapan?” ini
yang belum bisa kembali. No more words.
Only “Just for my mom” (Cuma Buat Ibuku) for you. Arti lagunya tanya mas
Duta atau mas Eross aja ya bu. Haha.
Love you, Bu. :))
22feb2013 –Sheila On
7 – Just for My Mom
Sometimes I feel my
heart so lonely but that's ok
No matter how my girl just left me, I just
don't care
Whenever the rain comes down and it's seems
there's no one to hold me
She's there for me, she's my mom
Just for my mom, I write this song
Just for my mom, I sing this song
Coz just my mom, can wipe my tears
Coz just my mom, can only here
Trap in a subway, can't remember the day but I
feel ok
Damped in damn situation, in every condition
with no conclusion
Whenever the rain comes down and it's seems
there's none to hold me
She's there for me, she's my mom
You may say I have noone, to cover me under
the sun
You only get it from your mom, Mom!
p.s : waktu itu ibu bilang mau tau bentuk sinta sekarang. Nih : tetap sehat dan tetap gendut. Haha
Kamis, 14 Februari 2013
Untuk Aksay
Jangan menangis,
Sayang
Karena pilumu
buatku tersentak
Jangan menangis,
Sayang
Karena sedih dalam
air matamu
Pasti tak mampu kuganti
dengan bahagia yang lebih
Satu lagi bocah menangis saat belajar dengan saya. Prestasi
gemilang, karena sepertinya saya hobi
sekali buat anak orang menangis. Apa mungkin itu passion saya? Ah pret.
Tidak ada siapapun yang suka diperintah atau diminta
melakukan apa yang tidak ingin dilakukan. Otak akan sangat resisten terhadap
hal tersebut. Khawatirnya, ketika tiba di puncak resistensi tersebut, maka rasa
kesal juga ikut naik yang berakibat pada tangisan. Sedikit demi sedikit, saya
coba ubah pola kebiasaan itu dengan cara lain, salah satunya dengan kata“ayo
kita coba dulu”. Kata “kita” ternyata punya efek cukup hebat dalam hal ini.
Dengan kata ganti tersebut, seolah-olah orang yang didaulat sebagai objek yang
diminta tidak akan merasa harus berjalan sendiri, setidaknya untuk beberapa waktu
pertama.
Aksay, kelas 3, membuat saya menyadarinya. Ingat saya
tentang anak ini adalah ketika guru wali kelasnya mengakatan bahwa Aksay adalah
salah satu anak yang dicap “malas berpikir”. Aksay ini tinggal tak jauh dari
rumah host saya. Kerap kali saya
bertemu orangtuanya, dan dia pun cukup rajin datang untuk main dan belajar di
rumah. Dari yang saya perhatikan, anak ini tak terbiasa diberi tantangan lebih.
Yang dia suka hanya tiga : berlari, menggambar, dan perkalian satu angka
(perkalian dari angka 1-9). Dan dia
hanya melakukan apa yang dia suka, selesai. Sekali saya coba ajari perkalian
yang setingkat lebih maju dan memberikan latihan, dia langsung diam dan
menangis. Tuhan, apa salah sayaaa?? Barulah saya dekati dia yang mematung
sambil menyembunyikan air matanya yang mengalir jatuh sambil berucap :”Tidak
apa, Say. Ayo, kita lajar bersama-sama. “
Lama dia tak bergerak. Saya tinggalkan dia untuk beralih
mengurusi yang lain. Ketika menoleh lagi beberapa saat kemudian, Aksay masih
juga menangis. Saya diamkan. Namun seiring waktu berlalu, dengan sendirinya dia
perlahan kembali ke tengah teman-temannya, mengerjakan kembali tugasnya. Saya
perhatikan tiap tingkahnya saat mewarnai pekerjaannya. Rasanya seperti tidak
pernah terjadi apa-apa sebelumnya, dia melakukan tugasnya dengan baik dan
gembira, menanyakan beberapa hal yang perlu dilakukan. Heran saya dalam hati,
cepat sekali dia pulih dari tangisnya. What
a kid.
Melihatnya bekerja lebih mandiri dengan sesekali melongok ke
teman di sampingnya buat saya tertawa-tawa kecil sepanjang sisa sore itu.
Mungkin bukan karena Aksay “malas berpikir”, melainkan kebutuhan akan sebuah
ruang dan kelegaan untuk “melakukan sesuatu”. Dan tentu saja : pembiasaan tanpa
paksaan.
Label:
anak,
libur14bulan,
paser,
rasa
Minggu, 06 Januari 2013
Empat Januari
Setiap
tanggal ini tiba saya selalu diingatkan untuk mengingat-ingat sesuatu. Saya
memang tidak pernah berusaha melupakannya karena percuma. Dua hal yang bisa
membantu saya lupa adalah hanya kalau saya tiba-tiba amnesia atau terlahir
kembali.
Kala itu waktu SMP kelas satu, kamu ditunjuk menjadi ketua kelas dalam kelasku. Menurutku kamu cengengesan, tapi entah kenapa semuanya teryakinkan bahwa kelas kita akan aman jika ketua kelasnya itu kamu. Aku yang selama di SD langganan jadi ketua kelas sempat kesal juga karena harus kalah penunjukan. Sama kamu, lagi, kalahnya. Haha. Meski begitu, tahukah kamu bahwa semester itu adalah yang terbaik karena kamu ajarkan aku bahwa jadi ketua kelas tidak harus galak?
Kala itu, ulang tahun sekolah kita dan tiap kelas akan melakukan pawai di sore hari. Kita sekelas semua sepakat untuk berpakaian ala gembel dan bernyanyilah kita ramai-ramai dengan lagunya Oppie Andaresta “andai a...a...a...a...aku jadi orang kaya”. Dan tahukah kamu bahwa tidak ada yang lebih mengherankan selain kamu yang tak lepas dari tawa sepanjang jalan?
Kala itu, ketika kita berangkat untuk lomba musik ansambel beramai-ramai. Seragam putih-putih dengan rompi bunga-bunga (eh atau batik ya?) dan dasi kita pakainya. Demam panggung sudah aku saat itu, terlebih karena takut salah not saat menyanyi. Bersamaan dengan itu, saat sedang bengong melihat giliran sekolah lain tampil tiba-tiba kamu datang dan minta tolong padaku untuk merapikan dasimu. Tahukah kamu bahwa setengah mati aku betulkan dasimu dengan tanganku yang tiba-tiba kena tremor?
Kala itu, ketika kita tidak sekelas lagi, aku sudah hampir sukses lupa punya teman kamu. Tapi terkadang aku ingin jajan juga di kantin yang berarti mengharuskanku lewati kelasmu. Tak terpikir olehku apapun hingga aku tahu bahwa seringnya kamu duduk di bangku paling belakang di dekat jendela yang dekat dengan koridor tempat lalu-lalang orang. Dan mulai saat itu, tahukah kamu bahwa aku selalu ingin menyapa kamu setiap lewat situ saat kamu masih ada kelas tapi aku tak pernah berani?
Kala itu, kita sudah kelas tiga SMP. Kamu seringnya duduk di tempat itu, tepat di belakang kursiku. Hingga suatu hari, karena teman-teman mengolok-olok kita, kamu marah dan menghindar selama beberapa hari dengan tidak duduk di kursi itu dan memalingkan wajah jauh-jauh dariku. Tahukah kamu, itu adalah pertama kalinya aku mengerti kalau patah hati itu sakit? Hahaha.
Kala itu, aku tahu pasti tanganmu menunjuk ke atas dengan mantap saat seorang guru bertanya ke seluruh siswa dalam kelas itu mengenai SMA yang ingin dituju setelah lulus : sebuah SMA berpredikat teladan di kota kita. Sedih juga aku melihatnya karena aku tidak pernah berkeinginan untuk masuk sekolah itu. Satu, jauh dari rumahku. Dua, terlalu teladan buatku. Tapi rasanya aman saat itu, karena tahu bahwa aku tidak akan susah-susah kesal menahan diri untuk tidak nangis dan marah kalau kamu sudah mulai menghindari komunikasi denganku. Tapi tahukah kamu betapa kagetnya aku ketika kita bertemu di sebuah SMA yang sama dan kamu juga mendaftar di sana, sekolah yang tidak pernah kamu janjikan dengan acungan jarimu?
Kamu mungkin tidak akan pernah membaca tulisan ini. Ya, karena saya juga terlalu malu untuk katakan sama kamu apa adanya, walau jika kamu ingat saya pernah katakan langsung sama kamu dan langsung menghilang ditelan asap bus kota. But as we grow old, cerita ini rasanya jadi semacam joke saja ya, bukan lagi rentetan curhat masam di atas kertas diary yang wangi. Terima kasih ya, karena kamu sudah menjadi satu-satunya alasan kenapa saya sempat tertarik baca ramalan zodiak di majalah-majalah atau siaran TV remaja.
Selamat ulang tahun.
Kala itu waktu SMP kelas satu, kamu ditunjuk menjadi ketua kelas dalam kelasku. Menurutku kamu cengengesan, tapi entah kenapa semuanya teryakinkan bahwa kelas kita akan aman jika ketua kelasnya itu kamu. Aku yang selama di SD langganan jadi ketua kelas sempat kesal juga karena harus kalah penunjukan. Sama kamu, lagi, kalahnya. Haha. Meski begitu, tahukah kamu bahwa semester itu adalah yang terbaik karena kamu ajarkan aku bahwa jadi ketua kelas tidak harus galak?
Kala itu, ulang tahun sekolah kita dan tiap kelas akan melakukan pawai di sore hari. Kita sekelas semua sepakat untuk berpakaian ala gembel dan bernyanyilah kita ramai-ramai dengan lagunya Oppie Andaresta “andai a...a...a...a...aku jadi orang kaya”. Dan tahukah kamu bahwa tidak ada yang lebih mengherankan selain kamu yang tak lepas dari tawa sepanjang jalan?
Kala itu, ketika kita berangkat untuk lomba musik ansambel beramai-ramai. Seragam putih-putih dengan rompi bunga-bunga (eh atau batik ya?) dan dasi kita pakainya. Demam panggung sudah aku saat itu, terlebih karena takut salah not saat menyanyi. Bersamaan dengan itu, saat sedang bengong melihat giliran sekolah lain tampil tiba-tiba kamu datang dan minta tolong padaku untuk merapikan dasimu. Tahukah kamu bahwa setengah mati aku betulkan dasimu dengan tanganku yang tiba-tiba kena tremor?
Kala itu, ketika kita tidak sekelas lagi, aku sudah hampir sukses lupa punya teman kamu. Tapi terkadang aku ingin jajan juga di kantin yang berarti mengharuskanku lewati kelasmu. Tak terpikir olehku apapun hingga aku tahu bahwa seringnya kamu duduk di bangku paling belakang di dekat jendela yang dekat dengan koridor tempat lalu-lalang orang. Dan mulai saat itu, tahukah kamu bahwa aku selalu ingin menyapa kamu setiap lewat situ saat kamu masih ada kelas tapi aku tak pernah berani?
Kala itu, kita sudah kelas tiga SMP. Kamu seringnya duduk di tempat itu, tepat di belakang kursiku. Hingga suatu hari, karena teman-teman mengolok-olok kita, kamu marah dan menghindar selama beberapa hari dengan tidak duduk di kursi itu dan memalingkan wajah jauh-jauh dariku. Tahukah kamu, itu adalah pertama kalinya aku mengerti kalau patah hati itu sakit? Hahaha.
Kala itu, aku tahu pasti tanganmu menunjuk ke atas dengan mantap saat seorang guru bertanya ke seluruh siswa dalam kelas itu mengenai SMA yang ingin dituju setelah lulus : sebuah SMA berpredikat teladan di kota kita. Sedih juga aku melihatnya karena aku tidak pernah berkeinginan untuk masuk sekolah itu. Satu, jauh dari rumahku. Dua, terlalu teladan buatku. Tapi rasanya aman saat itu, karena tahu bahwa aku tidak akan susah-susah kesal menahan diri untuk tidak nangis dan marah kalau kamu sudah mulai menghindari komunikasi denganku. Tapi tahukah kamu betapa kagetnya aku ketika kita bertemu di sebuah SMA yang sama dan kamu juga mendaftar di sana, sekolah yang tidak pernah kamu janjikan dengan acungan jarimu?
Kamu mungkin tidak akan pernah membaca tulisan ini. Ya, karena saya juga terlalu malu untuk katakan sama kamu apa adanya, walau jika kamu ingat saya pernah katakan langsung sama kamu dan langsung menghilang ditelan asap bus kota. But as we grow old, cerita ini rasanya jadi semacam joke saja ya, bukan lagi rentetan curhat masam di atas kertas diary yang wangi. Terima kasih ya, karena kamu sudah menjadi satu-satunya alasan kenapa saya sempat tertarik baca ramalan zodiak di majalah-majalah atau siaran TV remaja.
Selamat ulang tahun.
Langganan:
Postingan (Atom)



