Selasa, 05 Agustus 2014

Waktu Puasa Pertama

Dulu kami pernah hidup bersama dalam satu rumah selama 2 bulan dalam rangka menuntaskan titah suci milik kampus tercinta bagi mahasiswa tahun ke-3 (dan tahun-tahun di atasnya) bernama KKN, Kuliah Kerja Nyata. Saya dan dia, berbeda 180 derajat. Kalau dia tipe yang sabar, saya tipe yang mudah tersulut. Kalau dia tipe keibuan, maka saya tipe remaja SMA yang kurang stabil. Kalau dia santun dan relijius, maka saya…. yah, itulah. 
Tahun 2013 lalu, melalui undangan yang disampaikannya lewat salah satu media sosial pertemanan, saya tahu dia sudah memutuskan untuk menikah. Saya absen hadir, karena sedang di Kalimantan. Lalu sekitar 3 bulan yang lalu, putri pertamanya lahir. Hingga minggu kemarin, berawal dari sebuah sapaan singkat di malam pertama tarawih, dia mengabarkan sedang berada di Yogyakarta. Dan besoknya, kami putuskan untuk bertemu.
Kami tidak banyak berbicara tentang nostalgia. Mungkin karena masa lalu terlalu rumit untuk dikenang kembali. Halah. Kami lebih banyak bicara tentang keadaan kami masing-masing saat ini, apa rencana masa depan kami, sedang bersama siapa saat ini, dan hal-hal semacam itu. Hingga kemudian sampai pada topik menjalani hidup berrumahtangga *lapkringet*. Saya pikir, teman saya ini tipe yang memang akan menjadi full time mommy, seperti dulu, agak dulu sekali, dia pernah menyiratkan yang demikian tentang pandangannya terhadap seorang wanita yang sudah berkeluarga.
Saya pikir dia tipikal seorang ibu yang dengan mantap memilih berkarir di rumah bersama anaknya dan memiliki usaha rumahan, online, atau semacamnya, sementara suaminya bekerja di luar. Selesai. Well, itu bagus, karena setiap orang normal pasti juga mendambakan  hidup yang sejahtera dan bahagia. Tapi ternyata pikiran saya agak meleset. Lagi, bukti nyata bahwa manusia kerap kali berasumsi dan terjebak asumsi serta kenangan masa lalu, adalah bahwa saya tak menyadari kemungkinan adanya gesekan kecil bernama “perubahan”. Sebenarnya saya tidak tahu apakah memang ada perubahan dalam pandangan hidup teman saya itu, atau memang dari dulu demikian, tapi ada satu hal yang jelas membuat saya tersenyum dari obrolan kami tempo hari itu.
“Jadi kamu bakal kerja lagi?”
“Iya dong. Kan kita harus bertanggungjawab sama ilmu kita.”

***

Kalau kata Agustinus Wibowo di bukunya Titik Nol, dia tulis “Rumahku sekarang adalah jalanan yang membentang. Aku adalah nomad, rumahku adalah perpindahan”. Saya sendiri mungkin tak akan mampu mendefinisikan cara mengisi hidup sekuat Agustinus meletakkan definisinya pada perjalanan hidupnya. Tapi yang saya yakini, perjalanan (dan BUKAN waktu), bisa membuat seseorang mengalami gesekan-gesekan yang bisa jadi membuat seseorang itu berubah jadi bukan dirinya yang dulu. Dan Agustinus, pernah memilih cara yang demikian untuk mengisi hidupnya, hingga sampai juga dia berjumpa dengan “gesekan” lain lagi yang melahirkan sebuah masa baru untuk mengisi hidupnya. Mungkin, teman saya juga.
Bukan berubah, tapi meluaskan pandangan. Bukan lupa daratan, tapi mencoba menyelam lebih dalam (pinjam istilah Banda Neira dari salah satu lagunya “Berjalan Lebih Jauh”). Menikah, memiliki keturunan, menyaksikan pernikahan keturunan, karir yang sukses, dan seterusnya adalah gelembung-gelembung besar yang menjadi kabar-kabar baik yang ingin didengar orang dalam rangka mengisi hidup.
Meskipun, nyatanya hidup tidak hanya diisi dengan kabar-kabar baik. Ada hambatan yang tak kelihatan, ada kegagalan yang tak menyenangkan, ada kebingungan yang tak terjelaskan, ada pula kesedihan yang disembunyikan. Dan tentu saja, pasti akan selalu ada ilmu bermanfaat yang harus diutarakan.

p.s : terimakasih untuk Silvy Arundita, untuk pesan menariknya di hari pertama puasa saya. J

Jumat, 27 Juni 2014

7 Tips Menikmati Perjalanan dengan Riang Gembira

Beberapa hari yang lalu, saya dan beberapa orang teman bermaksud menghadiri resepsi pernikahan di Malang. Ini perjalanan ke-3 saya ke arah timur (area Jawa Timur dan sekitarnya), setelah 2 kali sebelumnya selalu mendarat di Surabaya. Pernah mencoba menggunakan moda transportasi umum darat (kereta) dan udara, kali ini saya dan beberapa teman dari Jogja berangkat dengan menyewa mobil bersama-sama. Next, mungkin bis Mira atau Eka bisa jadi pilihan berkendara ke sana. Ada satu lagi sih, Sumber Selamat, yang dulunya sempat punya nama panggil Sumber Kencana. Rrrr…entahlah, mungkin ada yang bisa bujuk saya untuk mencoba bis satu ini? Mengingat sebagai outsider (pengguna jalan di luar penumpang bis SS itu, maksud saya), saya beberapa kali punya pengalaman menegangkan saat membersamai SS.

Kebetulan saya kebagian jatah sebagai supir cadangan, jadi porsi menikmati perjalanan masih lumayan banyak. Berangkat lewat Solo yang ditempuh dari Jogja dalam waktu 4 jam, kota-kota kecil macam Sragen, Magetan, Madiun, Kediri, Blitar menjadi pemanis perjalanan 14 jam kami ke Malang. Kembali dari Malang menuju Jogja, kami ternyata bisa hemat 3 jam dengan lewat jalur gunung (Blitar-Tulungagung-Trenggalek-Ponorogo-Wonogiri-Solo). Jadi dari total 36 jam pulang-pergi, 25 jam di antaranya kami habiskan di perjalanan. -___-

Walau begitu, saya cukup suka perjalanan ke timur ini. Kenapa ya? Mungkin karena ini pengalaman pertama buat saya, atau mungkin juga karena suka jalan, atau mungkin juga karena kota-kotanya klasik dan tak terlalu padat jadi rasanya ikut selo. Hehe. Nah, lewat tulisan ini saya juga mau coba kasih beberapa tips melewati 25 jam bermobil di jalanan dengan riang, versi saya tentunya.

1. Bawalah teman-teman yang selo. Dengan teman yang selo, niscaya perjalanan Anda tidak akan berada dalam tekanan rekan yang berorientasi pada hasil akhir semata, alias pingin cepat sampai ke tempat tujuan.

2. Sediakan supir cadangan, seperti saya misalnya. Walaupun kemampuan menyetir pas-pasan dan selalu deg-deg-an kalau mau menyalip truk gandeng atau bus AKAP, setidaknya cukup menyediakan waktu bagi supir utama untuk beristirahat sejenak dan kembali prima saat harus menyetir lagi.

3. Hindari membawa flashdisk berisi file musik. Biarkan radio lokal setempat, dari kota ke kota, menuntun Anda ke titik frekuensi paling gaul di kota itu hingga ke tingkatan yang menuntun pada kebajikan. Trust me. Tunggu sampai radio Anda menangkap siaran pengajian radio ala Jawa Timuran yang menyejukkan dan…. ngakak sakpole!

4. Malu bertanya sesat di jalan. Jangan salahkan power bank yang nihil atau ponsel yang habis baterai saat kebingungan mencari alamat di kota yang sama sekali asing. Jangan sampai lah kesana kemari membawa alamat…..dung crek!

5. Bersabarlah. Biarkan Sumber Selamat di belakang sana berjalan mendahului. Sebagai kapten yang baik, mengatur serangan dengan kepala dingin mutlak diperlukan. *uopoooo*

6. Berhentilah di beberapa tempat kece dan lakukan sesi foto bersama. Ini penting, karena bagaimanapun, kita butuh eksistensi. Halah.



jam 4 sore di suatu tempat yang dingin di Tawangmangu (foto diambil oleh bapak baik
yang saya curigai sebagai takmir masjid setempat)

7. Bersegeralah untuk membeli jajanan yang menarik di kerumunan yang terlewati di sebuah kota. Ini sangat berguna untuk merekatkan hubungan kekeluargaan antar penumpang. Itu, jajajan itu maksudnya.

Itu dulu sedikit tips yang bisa saya bagi, kalau membantu baguslah, kalau tidak ya tidak apa-apa. Tempat tujuan boleh selalu sama dan itu-itu saja, tapi mengalami perjalanan akan selalu jadi cerita yang berbeda. Kan? Nah, sampai jumpa di perjalanan-perjalanan yang lain! Hap hap hap!


ini dia pernikahan Mas Luqman dan Farida, di Malang. Blessed you both!!


Jumat, 06 Juni 2014

Napak Tilas Pentas

Selalu. Menonton penampilan langsung, adalah obat rindu, bisa jadi juga sendu.
Dunia panggung yang selalu menggebu-gebu. Alur cerita yang kadang mundur kadang maju.
Juga tentang mengaduk-aduk rasa ingin tahuku : bagaimana bisa tertulis naskah itu?

Teater menjadi salah satu tempat terbaik dimana saya selalu merasa diterima oleh orang-orang di sekitar saya meskipun saya datang tanpa bawa kemampuan apa-apa. Kenangan berada di atas panggung, diterangi cahaya lampu sorot, latihan tak kenal waktu, mengobrak-abrik pasar mencari kostum, mencari ekspresi dan logat bicara paling mengesankan di depan cermin…….ah! Saya bisa dibuat gila saking rindunya.
Jadi, Senin malam kemarin (2/6), kenangan itu dihidupkan kembali lewat mini teater di Kedai Kebun Forum dalam rangka menemani rasa penasaran seorang teman. Judulnya “Planet ke-11”, diproduksi oleh Teater Amarta besutan Nunung Deni Puspitasari yang sebelumnya sempat mengenyam pengalaman magang di Teater Koma, sebelum akhirnya kembali ke Jogja dan mandiri dengan karya-karyanya. Naskah yang dipentaskan mereka adalah adopsi terjemahan dari naskah seorang penulis naskah drama asal Slovenia, Evald Flisar. Kisahnya bercerita tentang persahabatan 3 sekawan gelandangan dengan latar tempat masa kini, dimana banyak orang berkeliaran untuk mencari kebahagiaan pribadi (saja) yang membuat ketiganya frustasi.
Tiga sekawan yang tadinya kabur dari rumah sakit jiwa itu bernama Paul yang harus menderita setiap kali mendengar dengungan suara sirene ambulans di kepalanya, Magdalena yang tergila-gila pada sepotong paha ayam yang nikmatnya bagai makanan surga, serta Peter yang sempat menjadi “musuh bersama” dengan gaya perlentenya hasil mencuri barang-barang mahal di toko. Konflik memuncak ketika ketiganya saling mencurigai satu sama lain karena menduga adanya pengkhianatan dalam persahabatan di antara mereka, diisyaratkan dengan berbunyinya telepon genggam curian mereka dengan nomor asing yang “aneh”.
Hingga pada akhirnya, setelah melalui serentetan adu kalimat yang cukup panjang, mereka mendapati adanya kedamaian untuk kembali. Kembali, ya, kembali ke dunia asal mereka. Dunia dengan imajinasi suka-suka mereka tanpa mesti terraih bentuk fisiknya, tanpa khawatir apa-apa, tanpa nafsu yang merajalela.  

Ada beberapa scene yang demikian cepat berlalu tanpa bisa saya tangkap maksudnya kemudian sudah ganti dengan scene yang lain. Itu masalah saya pribadi, sih, sebenarnya.. hahaha.  Buat saya yang hanya pernah bermain-main teater di ekstrakurikuler sekolah, tentu saja akan sulit mengerti dialog-dialog satir yang dilontarkan dalam pentas sekitar-120-menit itu. Sambil tergopoh-gopoh mencerna isi pentas, saya mengamati situasi di belakang dialog yang berbalas tanpa henti. Sebuah level hitam kurang lebih sebesar kasur single standar, layar kaku seukuran sekitar 3x8 meter untuk jarak pandang 100 meter-an diletakkan horizontal dengan lekukan tengah seperti lipatan buku. Ringkas, kelam. Saya ingat dulu pelatih teater saya yang super keren, Pak Sugeng, hanya memerlukan selembar kain hitam besar seukuran 4x6 meter dan topeng-topeng buatan tangan dan mengantar anak-anak didiknya juara 1 lomba teater se-Kota Yogyakarta. Sederhana itu menakjubkan, Boi!

Baiklah, karena saya jadi mendadak melankolis akibat mengingat-ingat beberapa kenangan jaman dulu, lebih baik segera saya akhiri tulisan ini. Terima kasih Ajeng yang sudah ajak saya merapat ke pentas ini dan menyelami beberapa kenangan lama saya.
God, I miss that stage.

Sajak Kecewa

Aku tidak bisa bilang tidak sedang jatuh cinta
Apa namanya?
Ketika kamu begitu menantikan sapaan pribadinya
Ketika kamu berdebat tapi terasa nikmat
Ketika kamu kesal tapi tak mampu marah
Ketika kamu tak peduli apa yang dia miliki
Tapi hanya peduli  tentang “he’s the man!”
Ketika kamu tidak khawatir tentang hari besok
Karena kamu yakin kalian akan mengusahakannya
Bersama-sama

Aku tidak bisa bilang tidak sedang jatuh cinta
Apa disebutnya?
Ketika hati berdebar hanya karena baca namanya
Ketika segala semangatnya menyemangatimu juga
Ketika kata-kata pendeknya membuatmu tertawa
Tanpa kecuali, tidak terkecuali

Aku tidak bisa bilang tidak sedang jatuh cinta
Apa istilahnya?
Ketika pikiranmu hanya ingin memastikan dia ada di seberang sana
Ketika doa setelah orangtua dan hinder dari api neraka
Adalah tentang menyebut namanya
Ketika jarimu kemudian menyentuh gambar telepon warna hijau
Sedang jari satunya menyentuh gambar telepon warna merah 2 detik setelahnya
Ketika pesanmu sudah terketik sempurna
Tapi tanpa ampun kamu menghapusnya

Bagaimana sebaiknya meruntuhkan yang begini?
Rasanya ingin sembunyi
Malu mengakui, tapi memendam lama bakal tak kusanggupi
Bagaimana aku seharusnya?
Kalau dia ternyata sudah ada yang punya
Lalalalala….

Rabu, 28 Mei 2014

Surabaya dan Senky


Surabaya kota besar, WAJAR kalau mal-nya banyak.
Walikotanya sangat perhatian terhadap lingkungan, WAJAR kalau ruang hijau di tengah kota-nya rapi dan menarik hati.
Harga karcis tol Suramadu mahal sekali, WAJAR karena sebagai ganti waktu penyebrangan yang terpangkas dari dahulunya yang masih pakai feri.
Segala kewajaran itu kami pelajari dari seorang kawan baru, Senky namanya.

Karena suatu proyek lepas, 5 orang pemuda-pemudi tanggung itu diharuskan bertemu di ibukota Jawa Timur pada pertengahan Mei lalu. Saya dan Umur yang berangkat dari Jogja, serta Neke, Nina, dan Wanya yang memulai perjalanan dari Jakarta. Itu pertama kalinya bagi saya menginjakkan kaki di Bandara Juanda, karena jarang terpikirkan oleh saya ke Surabaya pakai pesawat, mengingat jaraknya dengan Jogja hanya dekat saja jika ditempuh dengan kereta (dibandingkan ke Jakarta sih maksudnya).

Di terminal pertama kami pagi itu, sebuah kantor yang mengurusi masalah pendidikan di bilangan Jagir Wonokromo, kami bertemu dengan anggota tim ke-6  kami. Namanya sudah saya sebutkan di atas tadi, Senky. Iya, itu namanya, bukan typo atau nama samaran. Saya nggak tahu usianya, tapi waktu dia memperkenalkan diri sebagai mahasiswa semester 10, saya bisa menebak sekiranya dia lebih muda 2 tahun dari rata-rata kami. Oh kecuali Wanya, tentu saja, yang belakangan terungkap bahwa angkatan tahun kuliahnya adalah 200* (digit angka terakhir dirahasiakan demi hajat hidup orang banyak).

Masing-masing dari kami punya teman asli Jawa Timur juga, tapi kami berlima sepakat berpendapat bahwa Senky termasuk salah satu spesies Jawa Timur yang langka. Bagaimana tidak? Dia selalu bisa menjawab dan menjelaskan segala hal yang kami tanyakan tentang dirinya maupun tentang pengetahuan ke-Surabaya-annya kecuali 1, letak rumah makan Bu Rudi yang sambal rumahannya terkenal hingga kemana-mana. Momen yang paling unik tentu saja adalah kami mampir ke tempat karaoke dan playlist nya si Senky ini luar biasa bervariasi mulai dari lagu super jadul, top forty, lagu rohani jaman SD hingga lagu rohani kekinian macam band Wali. Dan kata Senky, ini pertama kalinya dia bernyanyi setelah sekitar 2-3 tahun yang lalu terakhir kali melakukannya. Hmm…saya sepintas jadi bertanya-tanya apakah yang kami lakukan dengan mengajaknya menyanyi malam itu adalah dosa atau luar biasa.  

Mulai dari Tugu Pahlawan, hotel Majapahit tempat perusakan bendera Belanda pada September 1945 dulu, taman Bungkul yang sedang hits karena problematika eskrim gratis tempo hari, hingga museum rokok HM Sampoerna sempat terjamah di perjalanan singkat lalu. Selain itu, satu lagi hal yang menarik buat saya adalah tentang bagaimana hampir setiap narasumber yang kami jumpai tidak pernah tidak menyebut nama Bu Risma dalam cerita panjangnya. Mengutip kata favorit Senky, “WAJAR, “ karena proyek yang kami bawa kebetulan nyerempet banyak dengan topik lingkungan dimana beliau sangat concern dalam menanganinya. Terlepas dari wawancara menggetarkan di Mata Najwa serta artikel dan buku yang ditulis tentang sepak terjang Bu Risma, saya kali ini benar-benar takjub karena ada juga masanya saat berita di TV serta kesaksian rakyat sendiri bisa sejalan.

Yah, intinya saya sih tulisan ini mau bilang terimakasih sama Senky dan untuk bantuannya selama kami berada di kota kesayangannya itu. Cepetan lulus ya, Senk, terus jadi PM! (hahahahah) dan berpetualang lebih jauh sampai rindu kampung halaman. Seperti Neke dan Wanya yang selalu kangen Bogor, Umur yang selalu bangga akan ke-Cirebon-an nya, saya yang selalu cinta sama Yogyakarta, atau Nina yang tak pernah jenuh kembali ke Jakarta.
Salam metal!


Rabu, 21 Mei 2014

Usia Dua Lima

Lahir di tengah-tengah keluarga yang jarang menselebrasi hari lahir, sesekali kado manis yang datang buat saya betul-betul gembira .Namun mengulang kembali peringatan hari lahir untuk ke-25 kalinya, rasanya jadi  lebih tegang sekaligus lebih santai daripada sebelum-sebelumnya. Kok bisa? Ya nggak  tahu juga.

Kalau kata teman saya, manusia berumur 25 tahun itu seperti ini.


        Terima kasih yaa semua yang sudah mau jawab pertanyaan selo saya kemarin. *sunsatusatu*

Mungkin buat saya sendiri, 25 itu seperti harus sudah berani memperjuangkan pilihan dan menghadapi segala risiko yang menyertainya. Sekian.

Minggu, 16 Maret 2014

JEDA

Wanita itu bilang, ia hanya tak ingin aku bermimpi terlampau jauh
dan jatuh dengan kesakitan yang sangat.
Wanita yang lain bilang, betulkah keputusanku saat ini serius
dan bukan hanya ajang pelarian diri dari kenyataan.
Wanita yang lain lagi bilang, mengingatkanku bahwa ada sekat-sekat dimana seorang wanita harus rela membagi hidupnya dalam sebagian kodrat dan sebagian lain dengan mimpi-mimpinya.

Mendengarnya, aku meringis dan hanya tenggelam dengan helaan nafas dalam-dalam.

Beberapa waktu kosong saya yang lalu saya pakai untuk mengunjungi tempat-tempat tinggal beberapa teman. Kenapa ke rumah teman? Karena rumah, seringkali bercerita lebih asyik dan lebih banyak daripada lama perkenalan yang kita habiskan dengan si penghuni di luar rumah. Kartu kepanitiaannya, tumpukan buku ceritanya dari jaman teenlit sampai fiksi ilmiah, bingkai-bingkai foto yang dipilih untuk dipajang, hal-hal semacam itu lah. Buat apa? Iseng. Iseng untuk tahu tempat dimana kawan-kawan ini akan selalu kembali setelah melakukan perjalanan yang mungkin tak terkira jauhnya.

 Saya sempat pergi ke rumah nenek Ajeng bersama Ajeng di Solo. Rumah putih yang luas, saudara-saudara yang hangat, serta jalanan yang ramai tapi santai. Saya tak bisa berpikir bahwa orang-orang di tempat itu punya ambisi lain selain membangun keluarga yang harmonis, pekerjaan yang memadai, dan sebuah rumah nyaman dengan teras kecil yang hangat untuk menutup malam.

Saya sempat juga pergi menengok rumah Halida di Sumenep, Madura di minggu depannya. Ini pertama kalinya saya melakukan perjalanan ke timur sendirian berirama dengan gesekan rel dan kereta menuju Stasiun Gubeng di Surabaya. Meneruskan jalan selama 3 jam dengan travel sambil menyusur tepian pantai penghasil garam, saya dipertemukan dengan keponakan Halida yang berisik dan lincah, dialog-dialog sederhana dalam sebuah keluarga yang super baik, serta jajaran rumah yang membawa saya ke 30 tahun silam. Saya tak bisa menduga apa lagi yang diinginkan sebagian besar orang di tempat itu, kini, selain pergi ke kota Surabaya dan hidup tenang di hari-hari sisanya.

Saya mengunjungi rumah Raras yang baru di bilangan Imogiri Timur. Saya masih ingat 6 tahun terakhir ini kami jarang sekali bertemu karena keperluan menuntut ilmu dan penghidupan masing-masing di tempat yang berbeda, hingga Februari lalu bisa bertemu lagi di Jogja dengan mimpi yang kurang lebih sama. Ia memperkenalkan saya dengan nama-nama seperti Banda Neira, Tigapagi, Yuna, Dialog Dini Hari, membawa saya memutar kembali Bangkutaman, The Adams, Frau, dan beberapa lagi lainnya. Hanya ada ayah dan ibunya di rumah, persis sama dengan penghuni rumah saya dua tahun belakangan. Kami tumbuh dewasa di lingkungan ilmu dan pekerjaan yang berbeda dan beberapa hal seperti potret keluarga kami yang kurang lebih senada serta kesukaan terhadap musik, buku, beberapa macam seni, sampai Takuya Kimura membuat kami bisa bicara ngalor ngidul tentang perjalanan 6 tahun yang sudah-sudah. Darinya, saya tak meragukan apa lagi yang diinginkannya selain hidup dari keputusan bulat yang telah dia ambil dan menikmatinya secara maksimal.  

Bermimpi yang tinggi, hati-hati jarak jatuhnya ke tanah bumi juga lebar. Bercita-cita yang besar, hati-hati dengan nyatanya yang tak sebesar harapan. Untuk para pencerita dan wanita-wanita yang tak saya sebut namanya, terimakasih untuk “jeda” agar tak lupa menyiapkan kapling “kecewa” serta untuk mengingat selalu tempat kembali selepas perjalanan-perjalanan panjang nanti. Cheer up!