Tampilkan postingan dengan label dengar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dengar. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Januari 2017

Selamat Pagi, 2017!

Setelah semalam sukses merayakan tahun baru dengan riuh rendah pesta kembang api tidur, pagi yang malas pun datang bersama menyusupnya sinar matahari di sela-sela jendela kamar.  Terbangun pagi ini, saya ingat ada hal yang harus segera saya tulis sebelum benar-benar menguap karena lupa.

Selasa, 10 Mei 2016

Memoritmo : Petualangan Para Pendengar

Atas nama mood yang sedang bagus, saya mau tulis tentang bacaan terakhir saya. Haha. Bukan buku sarat ilmu pun setebal Kamus Besar Bahasa Indonesia, hanya buku kecil kurang dari 200 halaman berjudul Memoritmo yang saya temukan di bazaar buku dan tertarik beli karena ada nama Eross Chandra dan Cholil Mahmud sebagai salah dua kontributornya.
Adalah Maradilla Syachridar, penggagas project buku ini. Ditilik dari profilnya, mbak-mbak ini ternyata adalah additional vocal dan synthetizer di Homogenic. Ia membuka buku ini dengan pertanyaan : lagu apa yang paling bermakna dalam hidupmu, lalu melempar pertanyaan itu ke 13 musisi dan music enthusiast pengisi buku ini. 

Minggu, 14 Februari 2016

The Boss' Talks



Apa yang lebih baik ketimbang bertemu orang-orang menyenangkan yang suka berbagi, menjalani hari-harinya secara rendah hati, dan tahu ke mana arah hidup mereka akan berjalan? Namanya Sueng dan Hasti, orang-orang yang ceritanya semalam bikin saya masuk kamar kosan sambil ngelamun. 

Senin, 16 Februari 2015

Lagu Suka-Suka (1)


Sumber gambar:
 https://cnbstorm.files.wordpress.com/2011/12/20111205_cnblue_724484_5.jpg
Ada sebuah tantangan yang saya buat untuk diri saya sendiri, yaitu menuliskan tentang lagu-yang-paling-sering-didengar dalam hari-hari belakangan. Niat pertamanya sih seminggu sekali mau review, tapi daripada pasang target terlalu tinggi di awal dan gagal dilakukan, saya pilih yang lebih santai saja : dua minggu sekali untuk menuliskan tentang most-played-songs-recently versi saya. Dari sekian banyak lagu, saya menyadari bahwa beberapa hari belakangan paling sering mendengarkan musik dari grup band (bukan boyband) Korea bernama CN BLUE.

Selasa, 04 November 2014

Kelas Sabtu bersama Padi dan Cacing

Ada kalanya ketika kita menginjak usia tertentu, usia itu menjadikan kita serba salah. Namanya usia tanggung. Jelas, bukan botol air mineral saja yang punya kemasan ukuran tanggung, nyatanya usia juga.

Mau ikut acaranya PEMUDA : udah ketuaan.
Mau ikut acara orang DEWASA : terlihat paling muda sendiri.
Huft.

Rabu, 28 Mei 2014

Surabaya dan Senky


Surabaya kota besar, WAJAR kalau mal-nya banyak.
Walikotanya sangat perhatian terhadap lingkungan, WAJAR kalau ruang hijau di tengah kota-nya rapi dan menarik hati.
Harga karcis tol Suramadu mahal sekali, WAJAR karena sebagai ganti waktu penyebrangan yang terpangkas dari dahulunya yang masih pakai feri.
Segala kewajaran itu kami pelajari dari seorang kawan baru, Senky namanya.

Karena suatu proyek lepas, 5 orang pemuda-pemudi tanggung itu diharuskan bertemu di ibukota Jawa Timur pada pertengahan Mei lalu. Saya dan Umur yang berangkat dari Jogja, serta Neke, Nina, dan Wanya yang memulai perjalanan dari Jakarta. Itu pertama kalinya bagi saya menginjakkan kaki di Bandara Juanda, karena jarang terpikirkan oleh saya ke Surabaya pakai pesawat, mengingat jaraknya dengan Jogja hanya dekat saja jika ditempuh dengan kereta (dibandingkan ke Jakarta sih maksudnya).

Di terminal pertama kami pagi itu, sebuah kantor yang mengurusi masalah pendidikan di bilangan Jagir Wonokromo, kami bertemu dengan anggota tim ke-6  kami. Namanya sudah saya sebutkan di atas tadi, Senky. Iya, itu namanya, bukan typo atau nama samaran. Saya nggak tahu usianya, tapi waktu dia memperkenalkan diri sebagai mahasiswa semester 10, saya bisa menebak sekiranya dia lebih muda 2 tahun dari rata-rata kami. Oh kecuali Wanya, tentu saja, yang belakangan terungkap bahwa angkatan tahun kuliahnya adalah 200* (digit angka terakhir dirahasiakan demi hajat hidup orang banyak).

Masing-masing dari kami punya teman asli Jawa Timur juga, tapi kami berlima sepakat berpendapat bahwa Senky termasuk salah satu spesies Jawa Timur yang langka. Bagaimana tidak? Dia selalu bisa menjawab dan menjelaskan segala hal yang kami tanyakan tentang dirinya maupun tentang pengetahuan ke-Surabaya-annya kecuali 1, letak rumah makan Bu Rudi yang sambal rumahannya terkenal hingga kemana-mana. Momen yang paling unik tentu saja adalah kami mampir ke tempat karaoke dan playlist nya si Senky ini luar biasa bervariasi mulai dari lagu super jadul, top forty, lagu rohani jaman SD hingga lagu rohani kekinian macam band Wali. Dan kata Senky, ini pertama kalinya dia bernyanyi setelah sekitar 2-3 tahun yang lalu terakhir kali melakukannya. Hmm…saya sepintas jadi bertanya-tanya apakah yang kami lakukan dengan mengajaknya menyanyi malam itu adalah dosa atau luar biasa.  

Mulai dari Tugu Pahlawan, hotel Majapahit tempat perusakan bendera Belanda pada September 1945 dulu, taman Bungkul yang sedang hits karena problematika eskrim gratis tempo hari, hingga museum rokok HM Sampoerna sempat terjamah di perjalanan singkat lalu. Selain itu, satu lagi hal yang menarik buat saya adalah tentang bagaimana hampir setiap narasumber yang kami jumpai tidak pernah tidak menyebut nama Bu Risma dalam cerita panjangnya. Mengutip kata favorit Senky, “WAJAR, “ karena proyek yang kami bawa kebetulan nyerempet banyak dengan topik lingkungan dimana beliau sangat concern dalam menanganinya. Terlepas dari wawancara menggetarkan di Mata Najwa serta artikel dan buku yang ditulis tentang sepak terjang Bu Risma, saya kali ini benar-benar takjub karena ada juga masanya saat berita di TV serta kesaksian rakyat sendiri bisa sejalan.

Yah, intinya saya sih tulisan ini mau bilang terimakasih sama Senky dan untuk bantuannya selama kami berada di kota kesayangannya itu. Cepetan lulus ya, Senk, terus jadi PM! (hahahahah) dan berpetualang lebih jauh sampai rindu kampung halaman. Seperti Neke dan Wanya yang selalu kangen Bogor, Umur yang selalu bangga akan ke-Cirebon-an nya, saya yang selalu cinta sama Yogyakarta, atau Nina yang tak pernah jenuh kembali ke Jakarta.
Salam metal!


Minggu, 03 Februari 2013

Janji Ibu Guru


Adalah Risma, gadis Bugis chubby yang tinggal di rumah sebelah, yang menanyai saya ketika saya sedang berkunjung melayat neneknya yang baru saja meninggal. “Kapan kita jalan-jalan lagi, Bu?” Lagi, dia maksudkan karena sudah pernah kami jalan-jalan dengan sepeda waktu kapan hari. Tujuan jalan-jalan kami waktu itu adalah empang (semacam petak kolam atau tambak) di dusun saya, Urip. Berawal dari rasa penasaran saya terhadap ujung dusun yang misterius, berakhir dengan tenggelamnya kaki saya hingga selutut ke dalam lumpur empang sisa hujan semalam sebelumnya.
Pertanyaan Risma membuat saya terdiam beberapa detik. Memang sudah agak lama saya tidak jalan dengan anak-anak, dikarenakan ada liburan antar semester dan kejadian ini itu yang mengharuskan saya tak bisa pulang ke desa cukup lama. Dan setelah memastikan bahwa hari Minggu terdekat masih bebas agenda, segera saya buat kesepakatan untuk jalan di hari tersebut. “Jam 8 saja ya, biar ndak terlalu panas, “ ujar saya kala itu.
Hari Minggu yang dimaksud pun tiba. Jam setengah 7 pagi, ketika saya sudah akan bersiap-siap jalan-jalan, Nanda, adik angkat saya mengajak saya untuk cuci baju di sumur bor. Hari itu sudah sekitar 10 hari hujan tak turun sehingga air hujan yang biasanya digunakan sebagai sumber air bersih untuk mandi, cuci baju, hingga masak, ludes. Akibatnya, sumber air untuk mandi dan cuci baju bergeser ke air sumur pada hari ke-7. Air sumur ini adalah air yang disimpan di galian tanah berbentuk persegi panjang menyerupai kolam, asalnya dari tanah. Rasa air sumur yang sedikit asin dan “berlogam” membuat air ini tidak bisa dibuat memasak. Namun lagi-lagi, karena sudah lamanya tak turun hujan, persediaan air di situ pun menipis sehingga sumur bor lah alternatif ke-3 nya.
Sumur bor ini letaknya sekitar 10 menit berjalan kaki dari rumah saya, melewati kebun belakang rumah yang penuh pohon kelapa dengan jalur berupa jalan setapak bernyamuk. Jadilah, setelah menimbang-nimbang dan melirik tumpukan cucian di sudut kamar, saya mengiyakan ajakan Nanda dengan perkiraan jam setengah 9 kelar dan bisa memenuhi janji jalan-jalan. Lekas saya ambil baju-baju kotor dan saya rendam selama 30-45 menit. Kemudian, baju hasil rendaman yang sudah diperas dimasukkan ke dalam kantong besar dan diikat di boncengan sepeda. Jam sudah menunjukkan pukul 8 kurang seperempat ketika saya dan Nanda berangkat.
Ternyata mencuci butuh lebih dari sekedar membilas dan menggosok. Ya mengantri, ya naik turun badan, ya menunggu. Dan karena cucian Nanda sangat banyak, akhirnya kami baru bisa pulang sekitar sejam kemudian. Di tengah jalan pulang, kami disusul oleh dua makhluk kecil berbaju rapi yang mengayuh sepeda. Ternyata mereka sudah menunggu di rumah sejak jam 8, dan karena saya tidak kunjung pulang maka mereka susul saya. Risma dan Doni.
Jalan-jalan yang saya janjikan waktu itu adalah menggunakan sepeda dengan asumsi bahwa Lola sudah diperbaiki. Namun karena si Lola rantainya putus di tengah perjalanan pulang dari mencuci baju di sumur bor tadi, saya pun membatalkan agenda jalan-jalan (ohya, Lola ini adalah nama sepeda saya). Tentu saja usulan ini langsung ditolak mentah-mentah oleh Risma. Segera saja dia menawarkan untuk jalan kaki saja dan mengabarkan bahwa rute jalan yang akan ditempuh tidak terlalu jauh. Doni kecil pun hanya menurut . Saya tersenyum saja dengarnya. Saya tinggalkan mereka untuk menjemur baju, mandi dan sebagainya sampai sejam kemudian baru selesai dengan dugaan mereka akan capek menunggu dan mengurungkan niat jalan-jalan.
Namun apa yang terjadi? Mereka berdua masih nongkrong dengan bahagia di depan TV, menunggu saya selesai mandi dan ganti baju. Akhirnya, atas nama kemanusiaan, saya pun “menjadikan” agenda jalan-jalan hari itu. Walau jam sudah menunjukkan waktu tak layak jalan karena sudah terlampau siang, kami tetap jalan. Sinar matahari terik, ketika dengan lugu Doni berkata sebelum berangkat, “Ibu lama sekali kami tunggu”. Oh God.
Kami memilih untuk jalan ke dusun sebelah lewat jalan tembus hutan. Di tengah jalan, seorang anak ikut bergabung, Mawar namanya. Saya di belakang menyaksikan mereka bercakap banyak sekali. Sesekali mereka tanyai saya, “Ibu suka buah jambu kah? Suka buah belimbing? Suka buah ceri (ceri yang dimaksud ini dikenal luas dengan sebutan kersen atau talok dalam Bahasa Jawa)? Tapi cerinya habis. Ibu suka sirsak? Bu nanti kita beli es ya. Bu istirahat di bawah pohon situ saja naah”, dan seterusnya. Kami berjalan di tengah teriknya matahari yang mulai naik tepat di atas kepala, latihan memotret, beli es, dan melakuan razia ceri di rumah tukang jualan es. Sederhana, tapi saya senang bisa terlaksana. Dalam hati saya berjanji, walau apapun yang terjadi, sebuah janji haram hukumnya untuk diingkari. Menunda janji mungkin bisa saja, tapi tak terpenuhinya janji akan lain lagi persoalannya.
Janji itu seperti matahari ya ternyata. Mengikuti di atas kepala kita dari pagi hingga senja, tak hilang dengan alasan apapun kecuali karena kodratnya berakhir saat waktunya tiba. Kalau janji, berakhir kalau memang kedua pihak (si pemberi janji dan yang diberi janji) lupa.
“Bu, kapan kita ke Muara (desa sebelah yang letaknya sekitar 20 menit naik motor, -Pen)? Katanya kemarin setelah terima rapot, “ celetuk Mawar di tengah jalan pulang.
Saya menatap Mawar sambil tersenyum. “Hmm..iya, terima rapor kenaikan kelas, kan?”


                                                                 Memetik ceri



 Membugkus hasil petikan sendiri


                                                  Tiga tokoh utama