Selasa, 04 November 2014
Kelas Sabtu bersama Padi dan Cacing
Ada kalanya ketika kita
menginjak usia tertentu, usia itu menjadikan kita serba salah. Namanya usia
tanggung. Jelas, bukan botol air mineral saja yang punya kemasan ukuran
tanggung, nyatanya usia juga.
Mau ikut
acaranya PEMUDA : udah ketuaan.
Mau ikut
acara orang DEWASA : terlihat paling muda sendiri.
Huft.
Minggu, 12 Oktober 2014
Mengapa Jalan Terus, Bu?
Dalam
tulisan sebelum ini, saya sempat mengatakan untuk menuliskan tentang alasan
saya turut membantu kegiatan Pameran Kelas Inspirasi Yogyakarta bulan September
2014 lalu. Walaupun judul awalnya “alasan turut membantu”, pada akhirnya saya
lah yang terbantu. Terbantu untuk memahami kerelaan. Tsaah.
Kalo
kata Mitch Albom sih,
Satu-satunya waktu yang kita sia-siakan adalah
ketika kita menghabiskan waktu dengan mengira kita sendirian.
Berjuang
itu, walaupun untuk kebaikan diri sendiri, tidak bisa sendiri. Misalnya, ingin
punya bisnis beromset besar. Apa mungkin sendiri membangun rancang proses produksi,
jaringan, pemasaran, dan keuangannya? Ingin bisa sekolah lanjut. Apa mungkin
sendiri hanya dengan belajar teori siang malam, tanpa peduli siapa yang harus
bayar SPP, harus mencari beasiswa atau cari pekerjaan tambahan, siapa yang
mendanai kebutuhan kuliah, dan sebagainya? Ingatlah bahwa di suatu tempat entah
dimana, setidaknya ada 1 orang lain yang bermimpi sama, sedang berjuang sama
kerasnya dengan kita. Masalah hasil? Tergantung.
Tergantung usaha dan keputusan pihak-pihak
terkait.
See? Kalau itu sebuah bisnis,
maka pihak-pihak terkait itu bisa mulai dari investor, suplier bahan baku produksi,
hingga konsumen di pasar. Kalau itu adalah beasiswa, maka pihak-pihak itu bisa
orangtua, teman dekat, atau bahkan pewawancara.
Mereka
adalah orang-orang di belakang layar yang memberikan kepercayaan bahwa potensi
keberhasilan dalam cita-cita atau tujuan yang kita bawa. Nah, dalam pameran
Kelas Inspirasi Yogyakarta yang lalu, saya bertemu dengan orang-orang di
belakang layar ini. Singkatnya,
mereka-lah “alasan-turut-membantu” saya, orang-orang yang ada ketika ide ini
dibuat, yang percaya bahwa ide tersebut bisa terwujud, dan yang MASIH ADA hingga
akhir cerita.
Orang-orang
ini bekerja atas nama “relawan”, yang menyisihkan beberapa waktu produktifnya
yang berharga untuk mencari uang ataupun mengejar gelar hanya demi berkejaran
dengan keinginan merealisasikan ide dan kenyataan bahwa dukungan untuk
mewujudkannya tidak banyak. Dulu, saya hanya familiar dengan istilah “relawan” saat
ada bencana alam. Dengan sigap dan heroik, orang-orang dewasa ini (saya sebut
orang dewasa karena saat itu saya masih remaja, kalau tidak salah saat bencana
tsunami Aceh tahun 2004) bahu membahu pergi ke pelosok tempat terjadinya bencana
untuk bertemu para korban yang kehilangan nyaris seluruh hidupnya, baik itu
materi maupun keluarga, dengan cara mengisi kegiatan, menyalurkan logistik,
memantau kondisi bencana terkini, menggalang bantuan, dan sebagainya. Saya
lihat semua itu lewat televisi dimana kata “relawan” sering mampir di telinga
saya. Ada relawan medis, logistik, guru, psikolog, tentara, dan banyak lagi, baik
dari dalam maupun luar negeri. Yang saya tahu, mereka datang dan menyibukkan
diri tanpa bayaran berarti di tempat bencana itu karena satu hal : empati.
Empati
membentuk sebuah harapan. Harapan merangkai suatu cita-cita. Cita-cita meminta penggerak.
Dan bergerak memerlukan wadah serta pemikiran dan tentunya, keikhlasan. Tak
selesai di situ, nyatanya relawan di kegiatan berbasis voluntir yang lain,
tidak cukup hanya berbekal empati. Setidaknya, harus ada semangat jalan-terus untuk
menyambung nyalanya empati yang kadang meredup nyaris mati.
Saya
sendiri menemukan fase redup itu saat ikut mempersiapkan acara pameran ini baik
dari dalam diri saya sendiri maupun saat saya memandang kepada orang lain. Tapi
kemudian, dalam obrolan singkat sambil makan di satu malam, kawan saya
mengatakan, “Kadang aku nanya sama diriku sendiri. Kita ini lagi ngapain sih? Memangnya
ada sangkut pautnya dengan profesionalisme kita? Kok mau sih capek-capek?” Dia
meneruskan makan sebentar, lalu menyambung, “Tapi semakin banyak pertanyaan
macem itu, rasanya kok cuma jadi semakin jauh ya dari ikhlas.”
Kalimat
itu dikatakannya dengan sangat ringan, dan darinya saya belajar 2 hal. Satu, bahwa
dengan keluhan, tak akan pernah ada jalan. Dua, bahwa dari kegiatan yang awalnya
serba minim bisa menjadi kegiatan pameran yang berjalan secara layak.
Lalu pada akhirnya, hanya niat bersih dan
cita-cita besar yang akan menjaga kita semua dan negeri ini ke depan – Hikmat Hardono.
Bukan
begitu?
p.s :
tulisan ini saya buat untuk seorang kawan sekaligus kakak dan juga orang-orang
yang berjuang di jalur yang sama, meski dengan kondisi jalan yang masing-masing
berbeda kelak-keloknya, lubangnya, bebatuannya, tapi yakin bahwa tetap bergerak
dalam keikhlasan adalah satu-satunya cara untuk terus maju dan mencapai tujuan.
Atau mungkin melampauinya.
Selasa, 16 September 2014
"Kecemplung" Pameran
Sepertinya catatan hutang tulisan
saya semakin bertambah. Di awal bulan September saya sempat meniatkan untuk
menulis setiap hari. Namun setelah 5 hari pertama, berikutnya tiada. Dan pada
akhirnya, baru 10 hari kemudian, yaitu hari ini, mulai menulis kembali.
Apa yang terjadi selama
seminggu kemarin? Jaga pameran.
Menjadi event organizer? Tidak juga, karena
kalau dibayar, saya pasti sudah terbang ke Pulau Togean, Sulawesi, saat ini
dengan bayaran tersebut. Haha. Ini pertama kalinya saya ikut mengurus suatu
acara semacam pameran foto, setelah sebelumnya lebih banyak berkutat mengurus acara-acara
seperti seminar, diskusi, latihan kepemimpinan, training, dll. Dan kalau biasanya
acara pameran hanya melibatkan saya sebagai pihak yang datang, berkunjung, lalu
terkagum-kagum, kali ini saya diberi kesempatan untuk belajar dari belakang
layar bersama orang-orang hebat yang bersedia “ikut campur” di dalamnya.
Saya bisa dibilang “kecemplung”
ketika akhirnya in charge secara
penuh di kegiatan ini sejak 2-3 minggu sebelum hari H. Era “jadi panitia” buat
saya sudah berakhir ketika Kelas Inspirasi Yogyakarta, 24 April 2014 lalu sudah
terlaksana. Tapi ada satu hal, yang dalam tulisan terpisah akan saya ceritakan
lebih detail, yang membuat saya kemudian memutuskan ikut mendukung acara
pameran ini sepenuhnya.
![]() |
| Suasana Pamera (foto : Fransisca Tika) |
Pameran yang berlangsung 8-14
September 2014 di Museum Pendidikan Indonesia UNY ini sebenarnya adalah
kelanjutan dari gerakan sosial bernama Kelas Inspirasi Yogyakarta. Kegiatan
puncak Kelas Inspirasi disebut dengan Hari Inspirasi, hari dimana ratusan profesional
diundang untuk mengajar selama 1 hari ke SD-SD di Yogyakarta sebagai relawan. Selama
berlangsungnya kegiatan, ada juga relawan fotografer dan videografer yang
merekam jejak-jejak tersebut. Muara dari kegiatan sehari itu akhirnya berujung
pada pameran 7 hari kemarin, Pameran Kelas Inspirasi. Konsepnya sederhana,
jajaran foto dan tampilan video dengan barang-barang kecil sebagai ornamen yang
mewakili keprofesian. Ide tentang barang-barang keprofesian ini sebenarnya
hanya berawal dari gurauan kecil dengan beberapa teman di malam pembukaan
pameran, tepat sebelum saling berpamitan pulang ke rumah masing-masing. Tapi
dari gurauan yang diseriusi, jadi juga konsep lumayan di keesokan hari. Lalala. J
Selain pameran, ada pula workshop komunitas dan talkshow
dengan 2 tema berbeda, tentang Kelas Inspirasi (yang diisi oleh relawan
pengajar Daniel Denny Setiawan, Feriawan Agung Nugroho, dan salah satu kepala
sekolah SD yang pernah disinggahi kegiatan Kelas Inspirasi) dan Pengajaran
Kreatif.
Sebanyak 12 komunitas pendidikan datang
untuk open house dan melakukan workshop dalam rangkaian acara pameran,
antara lain Solo Mengajar, Arsip UGM, Hoshizora Foundation, Koin Cinta
Pendidikan, Save Street Child, Jogja Menyala, Kamera Analog Jogja, Sanggar Anak
Alam, Book For Mountain, Gerakan KAMMI Mengajar, Kelas Inspirasi, dan Coin A
Chance. Dari kehadiran mereka, saya ternyata bisa belajar bagaimana sebuah inisiatif
gerakan menjadi berarti karena ada wadahnya, yaitu komunitas-nya. Seperti dalam
sebuah tayangan presentasi TED-x nya Ridwan Kamil, beliau bilang :
“Temukan dulu masalahnya, pilih satu yang spesifik, cari solusi, bikin komunitas. Mengapa harus bikin komunitas? Karena tanpa komunitas, ya ngga ada penggeraknya. Nggak jalan solusinya.”
![]() |
| Salah satu stand komunitas - Sanggar Anak Alam Foto : Fransisca Tika |
"Inspirasi itu datangnya dari interaksi, bukan hasil dari berdiam diri."
Ada juga pesan menarik
dari Pak Andy, salah satu pengisi acara talkshow tentang pengajaran kreatif
dari Rumah Belajar Semi Palar, Bandung.
“Sekolah
seringkali mengkotak-kotakkan pelajaran. Padahal di kehidupan nyata, semua ilmu
itu tak bersekat. Metode belajar holistik mempersiapkan anak untuk dapat
beradaptasi di kehidupan nyata.”
(terima kasih buat Mba
Wulan yang sudah berbagi catatan dan foto yang menarik dari Pak Andy di atas)
Saya masih ingat betul
bagian dimana beliau mengatakan hal di atas, yaitu saat ditunjukkan slide pertama dalam presentasinya untuk
menjelaskan Semi Palar lewat gambar gelas-gelas cat warna-warni dan selembar
kertas yang sudah penuh coretan warna.
![]() |
| Pak Andy-Semi Palar sedang berbicara mengenai konsep holistik Foto : Mba Wulan |
Pengisi talkshow yang lain adalah Pak Ahmad
Bahruddin dari Komunitas Belajar Qaryyah Thayybah yang banyak memberikan contoh
karya kreatif anak-anak didiknya seperti tulisan dan gambar. Kata beliau,
“Di sekolah kami guru dilarang mengajar. Guru harus belajar. Belajar memahami potensi anak, memfasilitasi kebutuhan dan kemampuan mereka.”
![]() |
| Foto oleh : Mba Wulan |
Kedua sekolah tersebut terhubung
melalui satu benang merah : kebebasan. Saya sendiri sempat membatin, apa
jadinya seseorang dengan kebebasan tanpa ada penanaman sistem kontrol, baik
dari luar maupun dari dalam dirinya? Yang mungkin terjadi adalah dia bisa jadi
orang yang lupa filosofi padi (bahasa gampangnya jadi orang yang “sok”) dan
tidak mengerti unggah-ungguh
ketimuran (jika kita bicara dalam konteks orang timur). Sebaliknya, pengekangan
kebebasan bisa berdampak buruk pada matinya kreativitas dan berakhir pada ke-tidak
produktif-an.
Namun tiap-tiap sekolah senyatanya
(dan semestinya) memiliki cara sendiri untuk mengelola bagaimana kebebasan
tersebut dalam porsi yang pas, menjadi
hal menyenangkan yang tetap terarah. Konsep tematik yang ditawarkan sekolah
Semi Palar sudah demikian bagus contohnya, konkret, dan bisa dijalankan sesuai
kurikulum pendidikan yang saat ini juga mengusung konsep tematik di tingkatan
pendidikan dasar. Diam-diam saya menunggu saat dimana Semi Palar bisa menjadi
salah satu rujukan dan contoh praktek penerapan tematik yang menarik bagi para
guru yang masih bingung dengan konsep tersebut dalam aktivitas di kelasnya.
Dulu waktu diberi
kesempatan sejenak jadi guru SD, terasa mudah untuk mengonsep tematik di atas lembar-lembar
RPP tapi cukup kelabakan saat praktek dan melakukan pengukuran terhadap
kemajuan siswa. Terminologi “kemajuan” di sini tidak melulu tentang angka, tapi
kemajuan siswa juga perlu dituangkan dalam catatan, toh?
Terima kasih untuk sesinya
yang menarik, Pak Andy dan Pak Bahrudin. Semoga pembaharuan-pembaharuan seperti
yang Anda lakukan bisa lebih masif lagi terjadi di kemudian hari.
Senin, 08 September 2014
Sebuah Traktiran
-5
September 2014-
Yang
menyenangkan hari ini adalah ditraktir teman di kafenya. Namanya Milk Bar,
jualan susu (jelas termaktub dalam judul kafenya) yang dimodifikasi cantik
menjadi berbagai varian rasa. Harga produk utamanya, minuman yang berbahan baku
susu sapi dengan aneka campuran buah
hingga biskuit, dibandrol antara Rp 17-20 ribu.
ENAK!
Menurut
saya lebih enak daripada jenis-jenis susu lain yang dijual di warung susu
sejenis. Orang Jawa bilang, “ono rego ono rupo”, artinya ada harga ada wujud. Mendambakan
sesuatu yang murah meriah tapi berkualitas tinggi? Weits! Daripada buang bensin
mencari-cari yang entah ada entah tidak, pilih saja pilihan-pilihan terdekat di
depan mata.
Kalau
setiap hari jajan seperti ini sih agak berat juga. Berat di lemak terutama. Huahahah.
Tapi kalau mau sekali-dua kali ganti suasana dan merasakan sajian susu enak
tanpa eneg, ya bisa dicoba. Apalagi kalau minumnya sambil berkontemplasi. Halah.
Malam
itu si pemilik kafe, Mbak Tika, setelah merampungkan acara launching varian produk
barunya, menyelakan waktu duduk bersama saya dan teman saya. Dalam obrolan yang
sangat biasa, orang yang dulu hanya saya kenal lewat acara paginya di radio
itu, berbagi beberapa kabar dengan kami yang sedang mampir. Salah satu yang
saya paling ingat adalah kalimat singkatnya tentang “sekarang orang udah nggak
bisa jualan produk aja. Mereka jual hal lain yang kemudian bikin itu produk
jadi berharga tinggi”.
Salah
satunya adalah dengan menjual cerita. Ada sebuah brand kain batik yang bisa
beromset sangat besar bukan hanya karena kain batik yang mereka jual
berkualitas, tapi juga karena ada cerita di balik lembaran kain yang mereka produksi.
Ada lagi sebuah brand clothing yang desainnya tak terlalu istimewa tapi bisa
menjual kaos dengan harga 3-4 kali lipat harga kaos sewajarnya. Bagaimana bisa?
Dengan mendampinginya pakai cerita yang membuat si pembeli kaos merasa bangga saat
memakainya.
Kedengarannya
menarik, bukan begitu?
:)
Niatnya.......
-4
September 2014-
Hari
ini menyenangkan karena saya sedang bersiap membuat kebun kecil di loteng. Terinspirasi
dari rumah seorang teman yang gersang tapi dia banyak tanam kangkung
memanfaatkan lahan terbatas di halaman rumahnya yang sempit. Belum tahu akan
berhasil atau tidak.
Doakaaannn.
Mehehehehe.
Bertemu Doberman
-3
September 2014-
Hari
ini saya bertemu seekor Doberman.
Iya,
pertamanya saya takut setengah mati karena harus masuk ke sebuah rumah yang
ketika saya masih di depan pagarnya, suara galak seekor anjing dari dalam sudah
terdengar nyaring. Begitu pagar dibuka, langsung tahan nafas! Seekor Doberman coklat
bertampang galak menyambut. Namun ternyata di balik tampang dan gonggongannya
yang galak, anjing ini pemalu. Gertak sedikit, mundur. Saya sempat
bertanya-tanya dalam hati, ini betul anjing spesies Doberman atau Doberman berhati
angora?
Saya
berada di rumah tersebut selama beberapa jam. Tidak ada berisik suara
gonggongan sama sekali. Lalu waktu saya pulang, anjing itu sedang duduk tenang
di jalan menuju motor saya. Melihat saya dan pemilik rumah datang, anjing
tersebut langsung menyingkir. Setelah saya mengeluarkan motor dari pagar rumah,
saya ingat ada sesuatu yang tertinggal dalam dan harus masuk lagi untuk
mengambilnya. Dan si Doberman itu? Dia ada di posisi yang sama saat saya keluar
tadi, dan lagi-lagi dengan sukarela menyingkir karena saya mengisyaratkan akan
melewati posisi nyamannya.
Melihatnya,
saya jadi ingat film Hachiko yang sukses membuat saya mimbik-mimbik (posisi kritis tepat sesaat sebelum air mata keluar
dari kantongnya) hingga akhirnya menangis terharu. Doberman yang biasanya
diwaspadai sebagai anjing pelacak berbahaya, di rumah ini dia bagaikan seekor
kucing berbulu anjing. Tidak ada yang salah, yang ada hanya kesadaran yang
bertambah bahwa lingkungan sekitar senyatanya membentuk karakter dalam diri
setiap individu. Hachiko tidak pernah meninggalkan kebiasaannya untuk menunggu
majikannya keluar dari pintu stasiun kereta dan berjalan pulang berdampingan,
bahkan hingga tuannya itu mengalami musibah dan meninggal. Kata orang-orang,
itu karena pada dasarnya anjing memiliki sifat dasar yang setia dan cukup
pintar untuk menerima perlakuan-perlakuan yang bersifat pembiasaan.
Terbiasa
dengan hidup nyaman membuat si Doberman pun tak perlu pusing-pusing bernafsu
memburu penjahat. Meskipun begitu, sebelum saya pergi dari rumah itu, melihat
si Doberman sejenak berputar-putar di halaman rumah.
“Ia mungkin
mencari. Mungkin juga tidak. Baginya majikannya-lah hidupnya, jantungnya,
darahnya. Se-penuh hati itu bisa diberikan oleh seekor binatang, bagaimana
mungkin manusia berjuang hanya setengah-setengah?”
Langganan:
Postingan (Atom)



