Tampilkan postingan dengan label paser. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label paser. Tampilkan semua postingan
Selasa, 04 November 2014
Selasa, 09 April 2013
Diuji Nasrini
Terakhir kali saya diuji, saya berada di sebuah ruangan kecil dan
dihujani pertanyaan serta sanggahan mengenai isi skripsi oleh dosen penguji.
Lalu di sini, hampir setiap malam saya “diuji” oleh siswa sendiri. Namanya
Nasrini.
Siswi kelas 6 yang
kesehariannya lebih akrab dipanggil Neneng ini hampir tak pernah absen
berkunjung ke rumah saya. Bicaranya banyak sekali, hingga semua yang saya
lakukan dikomentarinya habis tanpa malu-malu.
“Bu, kok kamarnya berantakan
sekali?”
Atau, “Ibu jangan pakai baju
yang itu. Jelek betul dilihatnya. Ini pakai yang ini saja, lebih cantik pakai
baju yang ini. “
Atau, “Bu, kok rambutnya
dipotong? Pendek betul. Jelek. “
Atau begini. “Ibu sekarang
sudah hitam kulitnya, tinggal di desa, panas-panas, ndak makan enak seperti di
kota. Seperti yang di TV itu ya Bu, yang Jika aku Menjadi itu.”
Kadang buat saya agak risih, tapi akhirnya
saya cuma senyum saja sambil menghela nafas dan bersiul-siul sampai akhirnya
keluar komentar satu lagi (“Bu jangan bersiul malam-malam begini. Manggil setan
itu namanya”). Sebenarnya tidak aneh mendengar celetukan jujur anak-anak
seusianya. Tapi yang buat saya janggal adalah karena Neneng ketika di rumah
berbeda dengan Neneng di sekolah.
Neneng duduk di kelas 6 sekarang. Dengan anak-anak kelas
6, interaksi saya terbatas hanya mengajar Bahasa Inggris dan les matematika
seminggu sekali. Di sekolah, Neneng bukan tipe anak yang banya bicara dan teman
bermainnya pun terbatas. Ketika anak-anak lain bermain dan berteriak-teriak sesuka
hati, Neneng cenderung menjadi kikuk dan diam. Hingga pernah suatu hari ketika
sedang menunggu les,di kala anak-anak lain asyik main sepeda dan
berteriak-teriak di luar, dia mendatangi saya di kantor.
“Lho Neneng nda ikut main sama
teman-teman? Masih istirahat kok ini, ” tanya saya.
Neneng menggeleng. “Mau sama
Ibu saja, “ jawabnya.
“Hahaha. Kenapa malah main
sama Ibu? Kenapa ndak sama teman-teman saja?” tanya saya lagi.
“Saya malas bermain dengan
anak-anak itu, habis mereka selalu olok-olok saya. Kalau ibu kan enggak, “
jawabnya.
Lonceng sekolah seperti berbunyi
nyaring sekali di kepala saya. Seketika “ujian” mengenal Neneng mendadak
dihentikan sejenak.
Mohon sudah semua prasangka kamu buang
Satu kata darimu itu adalah ruang
Dimana kamu bisa makin muram ataupun girang
Tinggal kamu pilih yang mana, Sayang
Buat apa lelah kau
pikirkan
Ayo jalan dan kita
buat ruang nyaman
Agar aku dan kamu
tak lagi segan
Memugar mimpi, menyusun
balok-balok masa depan
Label:
anak,
libur14bulan,
paser,
rasa
MARI MENULIS CERITA PENDEK (sebuah ajakan bermain)
Konsep menulis bersama ini awalnya kepikiran dari novel berisi
kumpulan cerita pendek Djenar Maesa Ayu, “1 Perempuan 14 Laki-laki”. Bagi Anda
yang sudah pernah membaca seri Djenar yang ini pasti tau bahwa dalam setiap
cerpen di bukunya itu adalah hasil karya bersama dengan “seseorang yang lain”.
Unik, dua pikiran berbeda, dua profesi berbeda, dua budaya berbeda, dan dua-dua
yang berbeda lainnya melebur menjadi satu tulisan yang padu. Namun dalam
“sayembara” kali ini, tentu saja yang paling mencolok adalah dua usia yang
berbeda. Anak-anak murid saya, dan Anda. J
Berangkat dari situ, saya ingin ajak teman-teman untuk
menulis cerpen bersama, sekaligus berkomunikasi dengan para penulis cilik ini. Kalau
metode kirim surat dan kartu pos sudah kerap dilakukan, bagaimana dengan
kirim-kiriman cerpen? Mari kita cari tahu jawabannya.
Aturan menulis :
Mari kita buat yang sederhana saja ya.
1. Anak murid saya akan menuliskan paragraf awal
sebuah cerita yang mana cerita ini sifatnya unfinished
atau belum terselesaikan. Bagian
tengah hingga akhirnya, Anda yang bertugas meneruskan. Isi BEBAS, tapi tetap bergenre anak-anak
(halah emange lagu?) dan tidak mengandung SARA.
2. Panjang
paragraf yang boleh Anda tulis : BEBAS, ya sekitar 100-150 kata.
3.
Saya akan kirimkan cerita anak-anak yang masih
setengah jadi itu melalui email.
Selain cerita, di situ akan ada foto si anak serta biodata dia secara singkat.
Anda bisa berkenalan dengan para penulis cilik ini lewat situ.
4.
Pada
email balasan Anda, selain mengirim cerita balasan, kirimlah juga foto Anda
dan paragraf singkat yang berisi cerita tentang Anda serta kesan pesan Anda
buat partner menulis Anda. Mengenai foto, tidak harus melulu foto diri Anda.
Bisa saja Anda dengan latar tempat kerja Anda, Anda dan binatang peliharaan,
atau APAPUN yang mewakili Anda untuk dikenal lebih dekat oleh mereka.
5.
Cerita Anda dan anak murid akan diberi judul oleh anak murid partner Anda
disini, segera setelah dia membaca lanjutan cerita yang Anda tulis.
6.
Tulisan tersebut nantinya akan dibaca dan dinilai
oleh warga sekolah. Tiga tulisan yang terpilih akan ada rewardnya, Hehe
Jadi, alurnya :
Siswa (buat cerita awal+biodata+foto) à berikan ke PM (Pengajar
Muda, dalam hal ini saya) à
PM mengirimkan ke email Anda- à
Anda menulis ceritaà
kirim balik (beserta foto+pesan kesan) à
anak murid membaca ending dari ceritanyaa masing-masing dan memberikan judul
untuk cerita tersebut à
izin publish ya, kakak-kakak..
Ohya, ada juga yang
bertanya : apa pembelajaran yang bisa dipetik dari kegiatan ini?
Secara ringkas saya jawab
1.
Latihan menulis runtut dan logis (pengembangan
hardskill menulis buat anak murid)
2.
Apresiasi (karena mereka akan berinteraksi
dengan Anda melalui karya tulis buatan mereka sendiri)
3.
Membuka pandangan dan motivasi (dari cerita,
foto maupun pesan yang Anda tuliskan,
saya percaya akan meninggalkan kesan untuk mereka secara personal dan emosional.
Di situlah saya percaya saya tidak sedang berjuang sendiri untuk membuka
pikiran mereka) J
OK itu saja.
Kalau
Anda merasa selo dan tertarik menerima tantangan menulis cerpen “nanggung” ini,
langsung ya saya tunggu kesanggupan anda via wasap atw facebook atau twitter
beserta email kalian. 15 cerpen “nanggung” siap mampir di sela-sela inbox
kalian yang sibuk. J
Saya
akan kirimkan cerita dari partner menulis kalian via email segera dalam minggu
ini. Kami tunggu balasannya selambatnya 2 minggu kemudian yak. Terima kasih.
Salam
hangat dari anak-anak desa Maruat di kab paser, Kalimantan Timur.
Label:
anak,
libur14bulan,
paser,
tulis
Kamis, 14 Februari 2013
Dia yang Sedang Membaca
Haris.
Empat hari menjelang ujian akhir semester ganjil kemarin,
tangan kirinya patah karena salto di dalam kelas saat jam istirahat. Sore
harinya sepulang sekolah saya menengoknya di rumah. Kata bapaknya, dia ingin
masuk sekolah keesokan harinya. Jelas saja mustahil. Dan dia waktu itu cuma diam saja sambil nonton tivi membiarkan lengan patahnya terkulai di sampingnya.
Hari ini, tangannya sudah hampir sembuh dan setiap saya sapa
dia kala berangkat dan pulang sekolah, dia selalu tersenyum lebar menyambutnya.
p.s : Gambar di atas diambil
pada minggu ke-2 masukan semester baru. Merupakan salah satu gambar favorit
saya selama tiga bulan ini karena...entahlah. Mungkin karena dia sedang membaca
dengan sungguh-sungguh. :)
Label:
anak,
bicara,
libur14bulan,
paser
Untuk Aksay
Jangan menangis,
Sayang
Karena pilumu
buatku tersentak
Jangan menangis,
Sayang
Karena sedih dalam
air matamu
Pasti tak mampu kuganti
dengan bahagia yang lebih
Satu lagi bocah menangis saat belajar dengan saya. Prestasi
gemilang, karena sepertinya saya hobi
sekali buat anak orang menangis. Apa mungkin itu passion saya? Ah pret.
Tidak ada siapapun yang suka diperintah atau diminta
melakukan apa yang tidak ingin dilakukan. Otak akan sangat resisten terhadap
hal tersebut. Khawatirnya, ketika tiba di puncak resistensi tersebut, maka rasa
kesal juga ikut naik yang berakibat pada tangisan. Sedikit demi sedikit, saya
coba ubah pola kebiasaan itu dengan cara lain, salah satunya dengan kata“ayo
kita coba dulu”. Kata “kita” ternyata punya efek cukup hebat dalam hal ini.
Dengan kata ganti tersebut, seolah-olah orang yang didaulat sebagai objek yang
diminta tidak akan merasa harus berjalan sendiri, setidaknya untuk beberapa waktu
pertama.
Aksay, kelas 3, membuat saya menyadarinya. Ingat saya
tentang anak ini adalah ketika guru wali kelasnya mengakatan bahwa Aksay adalah
salah satu anak yang dicap “malas berpikir”. Aksay ini tinggal tak jauh dari
rumah host saya. Kerap kali saya
bertemu orangtuanya, dan dia pun cukup rajin datang untuk main dan belajar di
rumah. Dari yang saya perhatikan, anak ini tak terbiasa diberi tantangan lebih.
Yang dia suka hanya tiga : berlari, menggambar, dan perkalian satu angka
(perkalian dari angka 1-9). Dan dia
hanya melakukan apa yang dia suka, selesai. Sekali saya coba ajari perkalian
yang setingkat lebih maju dan memberikan latihan, dia langsung diam dan
menangis. Tuhan, apa salah sayaaa?? Barulah saya dekati dia yang mematung
sambil menyembunyikan air matanya yang mengalir jatuh sambil berucap :”Tidak
apa, Say. Ayo, kita lajar bersama-sama. “
Lama dia tak bergerak. Saya tinggalkan dia untuk beralih
mengurusi yang lain. Ketika menoleh lagi beberapa saat kemudian, Aksay masih
juga menangis. Saya diamkan. Namun seiring waktu berlalu, dengan sendirinya dia
perlahan kembali ke tengah teman-temannya, mengerjakan kembali tugasnya. Saya
perhatikan tiap tingkahnya saat mewarnai pekerjaannya. Rasanya seperti tidak
pernah terjadi apa-apa sebelumnya, dia melakukan tugasnya dengan baik dan
gembira, menanyakan beberapa hal yang perlu dilakukan. Heran saya dalam hati,
cepat sekali dia pulih dari tangisnya. What
a kid.
Melihatnya bekerja lebih mandiri dengan sesekali melongok ke
teman di sampingnya buat saya tertawa-tawa kecil sepanjang sisa sore itu.
Mungkin bukan karena Aksay “malas berpikir”, melainkan kebutuhan akan sebuah
ruang dan kelegaan untuk “melakukan sesuatu”. Dan tentu saja : pembiasaan tanpa
paksaan.
Label:
anak,
libur14bulan,
paser,
rasa
Mari Menulis Mimpi
"Kala kulihat layang-layang dapat terbang tinggi namun sesekali goyah dan dia jatuh lagi...." Bermimpi - Base Jam
Tempo hari saat mengisi pelajaran IPA di kelas 6, saya
menyisipkan kegiatan menulis mimpi. Berbekal kertas lipat warna-warni, selotip
kertas, dan kertas plano selembar, jadilah potongan-potongan mimpi tersebut.
Terkejutnya saya adalah bahwa ternyata di usia mereka ini, mimpi itu bukan lagi
semata ingin jadi dokter, supir truk, polisi, atau pengemudi jimbo (sejenis
traktor pengeruk tanah yang oleh masyarakat setempat dipatenkan nama
panggilannya sesuai nama perusahaan pembuatnya, JIMBO). Those dreams are silently created on real paths in their mind.
Ada empat hal yang saya minta mereka tulis di atas kertas lipat. Satu, tentang keinginan atau cita-cita mereka. Dua, tentang usaha mereka mencapainya. Tiga, tentang pelajaran yang paling disukai. Empat, tentang pelajaran yang paling dibenci TAPI ingin bisa menguasai. Kira-kira beginilah jadinya.
Ada empat hal yang saya minta mereka tulis di atas kertas lipat. Satu, tentang keinginan atau cita-cita mereka. Dua, tentang usaha mereka mencapainya. Tiga, tentang pelajaran yang paling disukai. Empat, tentang pelajaran yang paling dibenci TAPI ingin bisa menguasai. Kira-kira beginilah jadinya.
Kalau
tak punya mimpi, orang-orang seperti kita ini Cuma akan mati, Boy (Arai – Sang
Pemimpi)
Kelas 6, polos dan bergairah. Beberapa yang menarik, here are some of them :
Saya ingin menjadi montir tapi orangtua saya melarang
saya disuruh menjadi guru saya tidak bisa menjadi saya harus menjadi guru
(Ardiyanto)
Keinginan saya = ingin menjadi Pengajar Muda seperti Ibu
Vivin dan Ibu Sinta. Saya ingin meneruskan sekolah saya sampai kuliah. Setelah
lulus kuliah saya mau giat belajar menjadi Pengajar Muda. Agar saya bisa
menjadi Pengajar Muda saya harus giat dan Rajin belajar (Selviana)
Keinginan saya : menjadi penghapal Al Quran 30 juz karena
saya ingin memasukkan kedua orangtua saya masuk syurga beserta adik, tante, om,
nenek, kakek, dan keluarga saya semuanya. Itulah keinginan saya (Hafidzah)
“Keinginan saya adalah ingin menjadi atlit yang sukses”
(M. Jaiz)
Tiba di bagian “pelajaran yang paling tidak disuka”,
tersebutlah disana Bahasa Inggris sebagai nominasi terbaiknya. Ardiyanto tetap
menjadi juara saya dalam hal penyampaian opini pribadi.
Pelajaran Bahasa Inggris tapi saya ingin bisa. Sapa tau
ada turis atau buleee datang kesini saya akan tanya how are you tokke tokke you
nau (Ardiyanto)
Oh man. Sesungguhnya saya tidak begitu mengerti dan tidak
kasih lajar “tokke-tokke you nau”. Tapi apa boleh buat, kadang-kadang imajinasi
bisa jauh lebih liar daripada babi hutan.
Dan satu testimoni
lain yang paling membuat kening saya berkerut adalah dari Rahman.
Saya tidak suka pelajaran Bahasa Inggris karena bahasa
munafik (Rahman)
Karena sangat penasaran, tanyalah saya pada si penulisnya
sendiri. Ternyata pernyataan tersebut dia peroleh dari mulut salah seorang guru. Ujarnya, “ Karena
bahasa inggris itu tulisan sama ucapannya berbeda, Bu. Misalnya lima.
Tulisannya f-i-v-e tapi bacanya faif bukan fife”. Saya hanya ketawa saja dengar
jawaban Rahman yang demikian. Luar
biasa, karena sungguh apa yang dikatakan guru mereka adalah pemahaman mereka,
dan mereka mengadopsinya secara alamiah, walau kadang meleset karena dijelaskan
secara utuh.
Mungkin sekali mimpi-mimpi dan kesukaan mereka ini
berubah nantinya, bukan? Tapi sembari mereka bertumbuh, saya merasa beruntung
bisa melihat sebagian prosesnya.
Label:
anak,
libur14bulan,
paser,
up up up
Minggu, 03 Februari 2013
Janji Ibu Guru
Adalah Risma,
gadis Bugis chubby yang tinggal di
rumah sebelah, yang menanyai saya ketika saya sedang berkunjung melayat
neneknya yang baru saja meninggal. “Kapan kita jalan-jalan lagi, Bu?” Lagi, dia maksudkan karena sudah pernah
kami jalan-jalan dengan sepeda waktu kapan hari. Tujuan jalan-jalan kami waktu
itu adalah empang (semacam petak kolam atau tambak) di dusun saya, Urip.
Berawal dari rasa penasaran saya terhadap ujung dusun yang misterius, berakhir
dengan tenggelamnya kaki saya hingga selutut ke dalam lumpur empang sisa hujan
semalam sebelumnya.
Pertanyaan
Risma membuat saya terdiam beberapa detik. Memang sudah agak lama saya tidak
jalan dengan anak-anak, dikarenakan ada liburan antar semester dan kejadian ini
itu yang mengharuskan saya tak bisa pulang ke desa cukup lama. Dan setelah
memastikan bahwa hari Minggu terdekat masih bebas agenda, segera saya buat
kesepakatan untuk jalan di hari tersebut. “Jam 8 saja ya, biar ndak terlalu
panas, “ ujar saya kala itu.
Hari Minggu
yang dimaksud pun tiba. Jam setengah 7 pagi, ketika saya sudah akan
bersiap-siap jalan-jalan, Nanda, adik angkat saya mengajak saya untuk cuci baju
di sumur bor. Hari itu sudah sekitar 10 hari hujan tak turun sehingga air hujan
yang biasanya digunakan sebagai sumber air bersih untuk mandi, cuci baju,
hingga masak, ludes. Akibatnya, sumber air untuk mandi dan cuci baju bergeser
ke air sumur pada hari ke-7. Air sumur ini adalah air yang disimpan di galian
tanah berbentuk persegi panjang menyerupai kolam, asalnya dari tanah. Rasa air
sumur yang sedikit asin dan “berlogam” membuat air ini tidak bisa dibuat
memasak. Namun lagi-lagi, karena sudah lamanya tak turun hujan, persediaan air
di situ pun menipis sehingga sumur bor lah alternatif ke-3 nya.
Sumur bor
ini letaknya sekitar 10 menit berjalan kaki dari rumah saya, melewati kebun
belakang rumah yang penuh pohon kelapa dengan jalur berupa jalan setapak
bernyamuk. Jadilah, setelah menimbang-nimbang dan melirik tumpukan cucian di sudut
kamar, saya mengiyakan ajakan Nanda dengan perkiraan jam setengah 9 kelar dan
bisa memenuhi janji jalan-jalan. Lekas saya ambil baju-baju kotor dan saya
rendam selama 30-45 menit. Kemudian, baju hasil rendaman yang sudah diperas
dimasukkan ke dalam kantong besar dan diikat di boncengan sepeda. Jam sudah
menunjukkan pukul 8 kurang seperempat ketika saya dan Nanda berangkat.
Ternyata
mencuci butuh lebih dari sekedar membilas dan menggosok. Ya mengantri, ya naik
turun badan, ya menunggu. Dan karena cucian Nanda sangat banyak, akhirnya kami
baru bisa pulang sekitar sejam kemudian. Di tengah jalan pulang, kami disusul
oleh dua makhluk kecil berbaju rapi yang mengayuh sepeda. Ternyata mereka sudah
menunggu di rumah sejak jam 8, dan karena saya tidak kunjung pulang maka mereka
susul saya. Risma dan Doni.
Jalan-jalan
yang saya janjikan waktu itu adalah menggunakan sepeda dengan asumsi bahwa Lola
sudah diperbaiki. Namun karena si Lola rantainya putus di tengah perjalanan
pulang dari mencuci baju di sumur bor tadi, saya pun membatalkan agenda
jalan-jalan (ohya, Lola ini adalah nama sepeda saya). Tentu saja usulan ini
langsung ditolak mentah-mentah oleh Risma. Segera saja dia menawarkan untuk
jalan kaki saja dan mengabarkan bahwa rute jalan yang akan ditempuh tidak
terlalu jauh. Doni kecil pun hanya menurut . Saya tersenyum saja dengarnya. Saya
tinggalkan mereka untuk menjemur baju, mandi dan sebagainya sampai sejam
kemudian baru selesai dengan dugaan mereka akan capek menunggu dan mengurungkan
niat jalan-jalan.
Namun apa
yang terjadi? Mereka berdua masih nongkrong
dengan bahagia di depan TV, menunggu saya selesai mandi dan ganti baju.
Akhirnya, atas nama kemanusiaan, saya pun “menjadikan” agenda jalan-jalan hari
itu. Walau jam sudah menunjukkan waktu tak layak jalan karena sudah terlampau
siang, kami tetap jalan. Sinar matahari terik, ketika dengan lugu Doni berkata
sebelum berangkat, “Ibu lama sekali kami tunggu”. Oh God.
Kami memilih
untuk jalan ke dusun sebelah lewat jalan tembus hutan. Di tengah jalan, seorang
anak ikut bergabung, Mawar namanya. Saya di belakang menyaksikan mereka
bercakap banyak sekali. Sesekali mereka tanyai saya, “Ibu suka buah jambu kah?
Suka buah belimbing? Suka buah ceri (ceri yang dimaksud ini dikenal luas dengan
sebutan kersen atau talok dalam Bahasa Jawa)? Tapi cerinya habis. Ibu suka
sirsak? Bu nanti kita beli es ya. Bu istirahat di bawah pohon situ saja naah”,
dan seterusnya. Kami berjalan di tengah teriknya matahari yang mulai naik tepat
di atas kepala, latihan memotret, beli es, dan melakuan razia ceri di rumah
tukang jualan es. Sederhana, tapi saya senang bisa terlaksana. Dalam hati saya
berjanji, walau apapun yang terjadi, sebuah janji haram hukumnya untuk
diingkari. Menunda janji mungkin bisa saja, tapi tak terpenuhinya janji akan
lain lagi persoalannya.
Janji itu
seperti matahari ya ternyata.
Mengikuti di atas kepala kita dari pagi hingga senja, tak hilang dengan alasan
apapun kecuali karena kodratnya berakhir saat waktunya tiba. Kalau janji,
berakhir kalau memang kedua pihak (si pemberi janji dan yang diberi janji)
lupa.
“Bu, kapan
kita ke Muara (desa sebelah yang letaknya sekitar 20 menit naik motor, -Pen)?
Katanya kemarin setelah terima rapot, “ celetuk Mawar di tengah jalan pulang.
Saya menatap Mawar sambil tersenyum. “Hmm..iya, terima rapor kenaikan kelas, kan?”
Tiga tokoh utama
Label:
anak,
dengar,
libur14bulan,
paser
Sabtu, 05 Januari 2013
About a Family
Tinggal bersama keluarga Jawa mulanya sedikit buat saya
kecewa, karena harapan saya awalnya ingin belajar bahasa lain ketika tiba di
tanah Borneo. Tapi perlahan selama dua bulan saya menyadari bahwa rasa kecewa
itu sebenarnya hanya excuse murahan
saja yang justru membuat saya jadi tidak maju. Mengapa begitu? Di penghujung
tahun 2012 ini ternyata baru saya diberitahu jawabannya.
Saya tinggal di tengah perkampungan kelapa. Ya kelapa sawit, ya kelapa hijau. Kalau sawit dibuat minyak, kalau kelapa hijau
dibuat gula dari hasil sadapan niranya. Di perkampungan saya, Maruat khususnya
Dusun Urip, hidup suku Jawa dan Bugis sebagai suku mayoritasnya, dengan label
transmigran yang datang semenjak jaman pemerintahan bos besar Soeharto.
Keluarga host saya adalah murni orang
Banyuwangi. Bukan keluarga muda, tapi bukan juga keluarga yang sudah melepaskan
anaknya kemana-mana.
Bapak adalah pria berusia awal 40 yang acuh. Pribadi yang
hangat memang tidak melekat dalam dirinya, tapi beliau sangat penyayang. Kalau
bertemu Bapak, jangan kaget dengan sikapnya yang agak kaku dan cenderung dingin
tak banyak bicara. Meski begitu, Bapak adalah orang yang sangat perhatian dan nggak tegaan. Well, tiap orang betul memang punya caranya sendiri untuk
menunjukkan sebenar-benar dirinya, terlebih caranya memberikan perhatian
terhadap sesuatu. Itu Bapakku.
Ibu, perempuan di awal 30an yang cekatan dan ramah. Hobi
karaoke, suaranya bagus dan cengkoknya mendekati sempurna. Beliau merdu sekali
jika menyanyikan lagu-lagu jawa timuran, dan kebaikan hatinya cukup
menyelamatkan saya dalam kebimbangan ikut karaokean dengan menyodorkan Nike
Ardila sebagai salah satu list lagu karaoke favoritnya. Yeah! She is absolutely a good learner, showed by
her enthusiasm when i play some videos at night for her children, discuss about
anything, and teach the children every noon.
Anak pertama mereka bernama Nanda, dan dia mandiri sekali. Duduk
di kelas 1 SMP, rajin cuci motor, dan suka dengan musik yang saya sendiri nggak
tahu musik apa yang sedang dia perdengarkan. Untuk anak seusianya, menurut saya
dia sangat keren, mengingat hidup saya dulu di usia yang sama adalah untuk
bersekolah dengan baik (saja). Tapi satu kelemahan dia adalah tidak terbiasa
jalan jauh dan bau ikan. Sekali lagi, lingkungan rumahmu akan menentukan KAMU.
Pernah sekali saya ajak ke desa nelayan tempat salah satu teman saya mengajar,
dan dalam waktu singkat dia langsung mabok ikan asin. Hahaha. She’s cute, and will become my blessed roommate
along this year. Rock On!!
Si bungsu Doni tentu saja menjadi yang paling disayang di
rumah. Beberapa hal yang paling menarik perhatian dari bungsu satu ini adalah
warna rambutnya dan model potongan rambutnya. Dengan rambut sekuning jagung
saat saya pertama kali bertemu dengannya, sebagian rambut di atas tengkuknya
dibiarkan gondrong sementara bagian lagin dicepak. Bertemu pertama malu-malu,
lama-lama dia tak bisa lepas dari sampingmu. Doni, adek kecilku.
Tinggal lama di Jawa tidak menjamin tahu betul akan budaya
dan adat istiadatnya. Tidak berbatas keluarga sendiri juga, bukan, untuk
belajar berbudaya? We are exactly created
in a same way, but also put on each, makes a thing called differences. All we need
to do is just learn how to learn lots and adapt it well to ourselves.
Langganan:
Postingan (Atom)









