Entah
harus tertawa gembira atau tersenyum kalem dengan bertambahnya simbol satuan di
belakang angka 2. Tapi tentu saja saya sungguh bersyukur, sebab 4 tahun
terakhir pasca kelar kuliah, saya bisa merasakan momen pertambahan usia di 4
tempat yang berbeda : Jakarta-Kalimantan Timur-Jogja-Lampung. Yey!
Sabtu, 23 Mei 2015
Senin, 27 April 2015
Salam Kenal, Lampung!
Relatif sama
seperti kota-kota kabupaten di Pulau jawa (terutama bagian tengah dan timur), Bandar
Lampung memiliki komposisi penduduk mayoritas berparas Jawa (baca : berkulit
gelap manis kayak saya). Meski begitu, logatnya sudah bercampur, tidak terlalu
“medhok”. Di daerah perkotaannya, lalu lintas tidak terlalu padat, lahan kosong
yang dipagari lempengan seng tanpa status jelas bertebaran dimana-mana , tidak
ada bangunan tinggi kecuali beberapa hotel yang tingginya hanya bisa diimbangi oleh
1-2 pusat perbelanjaan , dan pasar tradisional cukup mudah dijumpai. Penunjuk
waktu saya sepertinya habis diputar mundur, membawa saya ke 5-7 tahun silam.
Jumat, 03 April 2015
Sore di Empang
Ada suatu hari dimana aku
sedang punya keperluan untuk bertemu dengan salah satu tetangga tapi berakhir
di sebuah empang dengan mendengarkan Frendi, Ayu, dan adiknya Ayu bercerita
tentang asiknya berburu tude
(kerang, dalam bahasa Bugis).
Frendi
dan Ayu adalah murid di sekolah dimana aku mengajar sebagai guru kala itu. Kami
tinggal di sebuah desa perantauan Jawa dan Bugis bernama Desa Maruat yang
dikelilingi oleh pohon kelapa hijau dan berpetak-petak sawah.
Senin, 02 Maret 2015
What Children Say to Their Mates
I remember a day when one of my former girl student, came to
me and said, “Miss, he (she referred to a boy in her class) said that I will
never be able to do math and my hand writing is so bad. He did it for many
times.” I looked at her and found that she cried. As usual, I didn’t believe
that easily, so I check the truth by asking her about who said that bullying
words to her. She told me a name, then automatically, I asked the boy who
bullied my student about what he did just now.
Senin, 16 Februari 2015
Lagu Suka-Suka (1)
![]() |
| Sumber gambar: https://cnbstorm.files.wordpress.com/2011/12/20111205_cnblue_724484_5.jpg |
Minggu, 11 Januari 2015
Where We Can Find “Jogja”
Yogyakarta is
a lovely city since I was a child until today, though a life atmosphere of this
city has already changed a lot and made me disappointed. Less public
transportation in line with more hotel and department store’s projects are two
reasons why this lovely city no more comfort to live in, for some people,
especially the natives. I still call it lovely for sure, but it’s not the best
place in my live-longer list, actually.
However,
instead of talking about my disappointment related to Jogja, I’d prefer talking
about some good places to attend either to have a me-time or group discussion.
I love being a part of crowd, but not on traffic jam, Slank’s concert, nor
Malioboro in peak season of holiday. Here I tell about my 3 favorite places to
hold a personal or grouping time (or a small reunion) to enjoy Yogyakarta.
Ternyata
Pada suatu
sore di Stasiun Bogor yang ruwet, becek, dan bising, saya turun dari sebuah
angkot bersama seorang laki-laki. Walaupun tadinya di dalam angkot saya pesan
untuk diturunkan di stasiun ke supir angkot, malah laki-laki ini yang akhirnya
memberitahu saya untuk turun dari angkot karena sudah sampai di depan stasiun.
Laki-laki ini berbadan tegap dengan garis-garis wajah yang tegas dan kulit
terbakar sinar matahari, agak sangar kalau buat saya.
Langganan:
Postingan (Atom)
