Tampilkan postingan dengan label lampung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lampung. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Januari 2017

Selamat Pagi, 2017!

Setelah semalam sukses merayakan tahun baru dengan riuh rendah pesta kembang api tidur, pagi yang malas pun datang bersama menyusupnya sinar matahari di sela-sela jendela kamar.  Terbangun pagi ini, saya ingat ada hal yang harus segera saya tulis sebelum benar-benar menguap karena lupa.

Rabu, 28 September 2016

4 Tips Berkendara Aman di Lampung



Seorang teman saya pernah sempat berkelakar, “Sin mending lu tulis deh tips-tips aman berkendara di Lampung. Pasti guna banget. ” Saya ketawa. Opooo jal.

Sabtu, 24 September 2016

Ke Krakatau, Hore!






Menepi jam 6 pagi
Seminggu yang lalu, saya dan beberapa teman dari Jakarta pergi piknik. Sebenarnya rencana piknik hanya berawal dari obrolan singkat yang tidak lebih dari : eh ke Lampung yuk / haha ayuk, tengokin aku / kapan? / habis idul adha aja / ok wrapped!
E lha tenanan bar idul adha. Memang geng piknik yang ini betul-betul minim wacana.

Minggu, 15 Mei 2016

Jarak

Suatu hari, ketika sedang menunggu seduhan kopi di kedai teman, ada sebuah pesan masuk ke ponsel saya. Ngobrol pendek, lalu si pengirim pesan tanya apakah saya suka sastra. Saya sejujurnya agak bingung mau jawab apa, karena kalau sastra-nya beneran sastra, saya nggak pernah baca. Ya gimana mau baca, buku Food Engineering sama Mikrobiologi Pangan Pengolahan lebih menarik sih (haha mbelgedes ndobos banget). Tapi saya jawab, “Iya dulu suka bikin puisi”.

Minggu, 01 Mei 2016

Cerita Seduh : Arabika Kerinci di Kedai Anak Lanang





Reza
Kali ini cerita seduh datang dari Kedai Anak Lanang. Kedai baru yang terletak di pusat kota tapi melipir sedikit, suasananya serem-serem-syahdu, mengusung tagline : ngopi serasadi rumah sendiri. Haha sebenarnya ini tagline bikinan saya sih, tapi serius ini representatif sekali untuk kedai kopi ini. Bagaimana tidak?

Satu. Mereka menyewa sebuah rumah kuno berarsitektur Belanda dengan bagian belakang rumah yang masih dalam rekonstruksi. Pintu, jendela, dan kursi anyam yang mereka pilih untuk interior kedai sungguh sangat “rumahan”. Ada sebuah meja bar panjang dari kayu sebagai tempat untuk melakukan aktivitas seduh kopi di dalam rumah, dan sebuah rak buku anyam menempel di salah satu sudut rumah. Pintunya bercat hijau pastel, menambah ke-old school-an tempat ini. Haha.

Sabtu, 30 April 2016

Setahun di lampung (bagian 2)



[lanjutan]
 Belanja di pasar
Di bawah ini saya ambilkan beberapa cuplikan menarik yang saya temui ketika melakukan transaksi di pasar tradisional. Antara heran, bingung, sekaligus bikin ketawa kalau diingat-ingat. 

Setahun di Lampung (bagian 1)



Selamat setahunan!!
Iya, selamat setahunan di Lampung. Seru banget kota ini. Lain daripada yang lain!!! :D Untuk yang belum pernah ke Lampung dan berencana memiliki karir panjang di Lampung, saya bantu kasih gambaran sedikit nih seperti apa di sini, walau hanya gambaran umum. Boleh percaya boleh enggak, tapi yang pasti ini kumpulan cerita dari apa-apa yang saya temui dan alami selama setahun ke belakang. Mariii...

Cerita Seduh : Red Bourbon


Saya lagi punya project kecil untuk mencatat setiap kopi yang diseduhkan buat saya. Namanya Brewing Story Project atau bahasa gampangnya cerita seduh. Dalam cerita super singkat, saya pingin menampilkan profil seduhan yang dikasih ke saya secara detil, berikut penyeduhnya, notes yang timbul, dan foto. Belum selengkap itu sih, tapi ini lagi usaha. Dimulai dari kopi.


Kenapa saya melakukan ini? Sederhana aja, sambil belajar, sembari menghargai setiap seduhan dan karya orang lain. Saya buka pakai cerita pertama ya.

Minggu, 13 Maret 2016

Kejutan Way Ratai (2)

[lanjutan]

fiuh
Ini baru cerita menuju kebun kopi. Belum kisah jalan pulangnya. Jadi ketika di atas gunung, hujan turun deras sekali. Sudah terbayang di benak saya bagaimana licinnya jalan pulang nanti. Dan benar saja. Beberapa korban terpeleset unjuk gigi, saya sendiri sempat terjerembab sekali bertumpu lutut, sekali terjun bebas sampai harus menggapai rumput liar untuk menghentikan plesetan, dan beberapa kali harus lari-lari karena ketidakmampuan mengendalikan rem kaki lalu berakhir dengan melompat ke rerumputan terdekat untuk menghentikan laju. Sebagian besar dilakukan dengan kemayu sambil bawa payung ungu. Haha. Untuk jalan pulang ini, saya hanya sekali naik motor selama 5 menit terakhir. Prestasi!

Kejutan Way Ratai (1)

Berawal dari perkenalan kami di sebuah kedai kopi, Hasti yang membawa bendera Coffee Trip dalam rantai bisnisnya ini membuat saya penasaran. Saya sendiri bukan maniak kopi, tapi saya suka sekali kopi (dan coklat #tetep). Lalu ada tawaran piknik ke kebun kopi? Wuah, orang dengan tingkat penasaran setinggi saya tentu saja nggak bisa tinggal diam. Akhirnya, begitu ada kesempatan, mintalah saya sama Hasti untuk diikutkan dalam trip, terserah trip siapapun, sebagai peserta. Rombongan yang bersama saya kemarin kebetulan adalah guru-guru TK dan SD di sekolah Tunas Mekar Indonesia, Bandar Lampung.
Ada beberapa kejutan di piknik kopi kali ini. Karena panjang, saya pecah jadi 2 bagian ya.

Minggu, 14 Februari 2016

The Boss' Talks



Apa yang lebih baik ketimbang bertemu orang-orang menyenangkan yang suka berbagi, menjalani hari-harinya secara rendah hati, dan tahu ke mana arah hidup mereka akan berjalan? Namanya Sueng dan Hasti, orang-orang yang ceritanya semalam bikin saya masuk kamar kosan sambil ngelamun. 

Sabtu, 13 Februari 2016

Langit Samping Jendela

Tulisan super pendek (pas 200 kata) dalam rangka iseng menanggapi tantangan salah satu penerbit di Jogja untuk menulis dengan tema "petir" tanpa ada kata-kata petir di dalamnya. Aneh sih jadinya, tapi biarlah. Akhirnya menulis fiksi lagiiiiii kyaaaa.

Seorang wanita datang ke kedai. Katanya dia mencari tempat duduk dimana ia bisa melihat langit dengan leluasa. Kukatakan padanya, kedai kami tidak punya ruang terbuka.
Ia menggeleng. Kata dia, tempat itu ada di kedai ini. Kulirik jendela, awan gelap menggantung . Kilatan kecil cahaya di sela-selanya menyisik disusul geraman kecil geluduk. Kutawarkan pada wanita itu untuk duduk di meja bar sementara kucarikan tempat yang dia maksud.
“Bolehkah?” tanya wanita itu. Aku tersenyum, dan mengangguk. Duduklah wanita itu di depan meja bar, memandang ke luar lewat jendela. Tak lama kemudian, hujan benar-benar turun.
“Mbak dengar suara barusan? Suara seperti pecahan piring tapi di langit.” Aku tersenyum kecil. “Pacar saya bilang benar ini tempatnya. Dimana saya bisa lihat langit luas dan juga dia.”

Belakangan baru kusadari, meja bar kami terletak 4 anak tangga lebih tinggi daripada lantai meja para tamu dengan jendela besar tanpa terali dan mengarah ke sawah belakang. Jendela ini hiburan kami para barista saat menarik nafas dalam sebelum mulai mengucurkan susu di atas espresso dan me-latte. Wanita ini, tunangan Rama, barista kami yang beberapa bulan lalu meninggal tertimpa pohon tumbang di tengah badai hebat dalam perjalanan menuju bandara. Kata Rama sore itu, “Pacarku dateng. Aku jemput dia dulu ya.”

Senin, 08 Februari 2016

Cerita Ibu PKK - Pencicip Kopi Keliling (1)


Huft.
Rasanya Januari terlalu banyak perjalanan dadakan yang menguras energi. Oleh karena itu, di bulan Februari saya memilih untuk lebih banyak berdiam diri. Lalu atas nama kesenggangan waktu yang demikian banyak di akhir pekan panjang yang tanpa piknik ini, saya buka tulisan Februari dengan bercerita tentang ketidaksengajaan saya bertemu kumpulan orang hobi minum kopi di Lampung.

Rabu, 07 Oktober 2015

Piknik Dadakan ke Kiluan

In many times, I told you. It is not only a matter of "where", but "whom" you made a journey with.

Dilatarbelakangi oleh kesamaan nggak-mudik-idul Adha, dua orang teman (yang katanya kehabisan tiket mudik padahal sebenarnya kangen mau mengunjungi saya di Bandar Lampung :p) datang dari Jakarta, seorang yang mati gaya dari Tulang Bawang Barat, serta 4 orang yang berkutat di Bandar Lampung dengan pekerjaan masing-masing, secara ajaib dipertemukan dalam satu waktu dan sepakat piknik.

Sabtu, 12 September 2015

Oleh-Oleh dari Pahawang

Suatu malam di Pahawang. Photo by @priyankawibisono

Sejujurnya, saya agak ragu jalan-jalan alam macam ke laut ini karena kulit saya yang gampang gosong dan sulit kembali seperti semula (yang sebenarnya sudah masuk kategori “gelap” juga) membuat saya nggak terlalu percaya diri setiap kali habis pulang jalan-jalan. Tapi lalu saya terpacu oleh kuot Rinso “nggak ada noda ya nggak belajar”, yang memantapkan tekad saya untuk pergi #halah.

Minggu, 21 Juni 2015

Training "Jadi Wanita"

Sudah jalan 3 malam sejak penghuni di kos saya, termasuk keluarga Bapak-Ibu Kos juga, sahurnya sama-sama. Berawal dari celetukan Ari (salah satu teman di kos) di warung soto untuk sahur bersama, berlanjut membawa isu tersebut ke Ibu Kos hingga obrolan penentuan udunan (istilah di Bahasa Sunda yang artinya urunan atau patungan kalo di Bahasa Jawa) di teras yang berjalan cukup alot, akhirnya terjadilah rutinitas makan bareng itu setiap jam 4 pagi. Bah, saya nggak pernah menyangka hidup bisa selucu ini di tempat perantauan.

Pertanyaan Revi


“Emang sebenernya apa sih yang lu cari?”

Pertanyaan pendek itu terlontar tepat beberapa detik setelah giliran saya bercerita selesai dengan penutup, “ Jadi gitu, Vi. Random idup gue mah.” Obrolan kami sebenarnya hanya berawal dari seputar hal remeh temeh tentang musik kesukaan. Bukan, jelas bukan obrolan serius tentang perkembangan musik dunia ala pengamat musik, melainkan lagu-lagu yang sering lewat saja di telinga kami.  Dari kamarnya, saya sering mendengar ada suara petikan gitar mengalunkan nada-nada lawas yang lebih familiar di telinga saya dibandingkan lagu-lagu kekinian. Sebulan berjalan, saya baru tahu bahwa orang inilah yang sering mengalunkan nada-nada petik itu dari kamar sebelah. Namanya Revi.

Senin, 27 April 2015

Salam Kenal, Lampung!

Relatif sama seperti kota-kota kabupaten di Pulau jawa (terutama bagian tengah dan timur), Bandar Lampung memiliki komposisi penduduk mayoritas berparas Jawa (baca : berkulit gelap manis kayak saya). Meski begitu, logatnya sudah bercampur, tidak terlalu “medhok”. Di daerah perkotaannya, lalu lintas tidak terlalu padat, lahan kosong yang dipagari lempengan seng tanpa status jelas bertebaran dimana-mana , tidak ada bangunan tinggi kecuali beberapa hotel yang tingginya hanya bisa diimbangi oleh 1-2 pusat perbelanjaan , dan pasar tradisional cukup mudah dijumpai. Penunjuk waktu saya sepertinya habis diputar mundur, membawa saya ke 5-7 tahun silam.