Tampilkan postingan dengan label lampung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lampung. Tampilkan semua postingan
Minggu, 01 Januari 2017
Rabu, 28 September 2016
Sabtu, 24 September 2016
Ke Krakatau, Hore!
| Menepi jam 6 pagi |
E lha tenanan bar idul adha. Memang geng piknik yang ini betul-betul minim wacana.
Minggu, 15 Mei 2016
Jarak
Suatu hari, ketika
sedang menunggu seduhan kopi di kedai teman, ada sebuah pesan masuk ke ponsel
saya. Ngobrol pendek, lalu si pengirim pesan tanya apakah saya suka sastra. Saya
sejujurnya agak bingung mau jawab apa, karena kalau sastra-nya beneran sastra,
saya nggak pernah baca. Ya gimana mau baca, buku Food Engineering sama Mikrobiologi Pangan Pengolahan lebih menarik
sih (haha mbelgedes ndobos banget). Tapi
saya jawab, “Iya dulu suka bikin puisi”.
Minggu, 01 Mei 2016
Cerita Seduh : Arabika Kerinci di Kedai Anak Lanang
![]() |
| Reza |
Satu. Mereka
menyewa sebuah rumah kuno berarsitektur Belanda dengan bagian belakang rumah
yang masih dalam rekonstruksi. Pintu, jendela, dan kursi anyam yang mereka
pilih untuk interior kedai sungguh sangat “rumahan”. Ada sebuah meja bar
panjang dari kayu sebagai tempat untuk melakukan aktivitas seduh kopi di dalam
rumah, dan sebuah rak buku anyam menempel di salah satu sudut rumah. Pintunya
bercat hijau pastel, menambah ke-old
school-an tempat ini. Haha.
Sabtu, 30 April 2016
Setahun di lampung (bagian 2)
[lanjutan]
Belanja di pasar
Belanja di pasar
Di bawah ini saya ambilkan
beberapa cuplikan menarik yang saya temui ketika melakukan transaksi di pasar
tradisional. Antara heran, bingung, sekaligus bikin ketawa kalau diingat-ingat.
Setahun di Lampung (bagian 1)
Selamat setahunan!!
Iya, selamat setahunan di
Lampung. Seru banget kota ini. Lain daripada yang lain!!! :D Untuk yang belum
pernah ke Lampung dan berencana memiliki karir panjang di Lampung, saya bantu
kasih gambaran sedikit nih seperti apa di sini, walau hanya gambaran umum.
Boleh percaya boleh enggak, tapi yang pasti ini kumpulan cerita dari apa-apa
yang saya temui dan alami selama setahun ke belakang. Mariii...
Cerita Seduh : Red Bourbon
Saya lagi punya project kecil untuk mencatat setiap kopi yang diseduhkan buat saya. Namanya Brewing Story Project atau bahasa gampangnya cerita seduh. Dalam cerita super singkat, saya pingin menampilkan profil seduhan yang dikasih ke saya secara detil, berikut penyeduhnya, notes yang timbul, dan foto. Belum selengkap itu sih, tapi ini lagi usaha. Dimulai dari kopi.
Kenapa saya melakukan ini? Sederhana aja, sambil belajar, sembari menghargai setiap seduhan dan karya orang lain. Saya buka pakai cerita pertama ya.
Label:
ceritaseduh,
kopi,
lampung,
rasa
Minggu, 13 Maret 2016
Kejutan Way Ratai (2)
[lanjutan]
![]() |
| fiuh |
Ini baru
cerita menuju kebun kopi. Belum kisah jalan pulangnya. Jadi ketika di atas
gunung, hujan turun deras sekali. Sudah terbayang di benak saya bagaimana
licinnya jalan pulang nanti. Dan benar saja. Beberapa korban terpeleset unjuk
gigi, saya sendiri sempat terjerembab sekali bertumpu lutut, sekali terjun
bebas sampai harus menggapai rumput liar untuk menghentikan plesetan, dan
beberapa kali harus lari-lari karena ketidakmampuan
mengendalikan rem kaki lalu berakhir dengan melompat ke rerumputan terdekat
untuk menghentikan laju. Sebagian besar dilakukan dengan kemayu sambil bawa
payung ungu. Haha. Untuk jalan pulang ini, saya hanya sekali naik motor selama
5 menit terakhir. Prestasi!
Kejutan Way Ratai (1)
Berawal dari perkenalan kami di
sebuah kedai kopi, Hasti yang membawa bendera Coffee Trip dalam rantai
bisnisnya ini membuat saya penasaran. Saya sendiri bukan maniak kopi, tapi saya
suka sekali kopi (dan coklat #tetep). Lalu ada tawaran piknik ke kebun kopi? Wuah,
orang dengan tingkat penasaran setinggi saya tentu saja nggak bisa tinggal
diam. Akhirnya, begitu ada kesempatan, mintalah saya sama Hasti untuk diikutkan
dalam trip, terserah trip siapapun, sebagai peserta. Rombongan yang bersama
saya kemarin kebetulan adalah guru-guru TK dan SD di sekolah Tunas Mekar
Indonesia, Bandar Lampung.
Ada beberapa kejutan di piknik
kopi kali ini. Karena panjang, saya pecah jadi 2 bagian ya.
Minggu, 14 Februari 2016
The Boss' Talks
Apa yang
lebih baik ketimbang bertemu orang-orang menyenangkan yang suka berbagi,
menjalani hari-harinya secara rendah hati, dan tahu ke mana arah hidup mereka akan
berjalan? Namanya Sueng dan Hasti, orang-orang yang ceritanya semalam bikin saya masuk kamar kosan sambil
ngelamun.
Sabtu, 13 Februari 2016
Langit Samping Jendela
Tulisan super pendek (pas 200 kata) dalam rangka iseng menanggapi tantangan salah satu penerbit di Jogja untuk menulis dengan tema "petir" tanpa ada kata-kata petir di dalamnya. Aneh sih jadinya, tapi biarlah. Akhirnya menulis fiksi lagiiiiii kyaaaa.
Seorang
wanita datang ke kedai. Katanya dia mencari tempat duduk dimana ia bisa melihat
langit dengan leluasa. Kukatakan padanya, kedai kami tidak punya ruang terbuka.
Ia
menggeleng. Kata dia, tempat itu ada di kedai ini. Kulirik jendela, awan gelap
menggantung . Kilatan kecil cahaya di sela-selanya menyisik disusul geraman
kecil geluduk. Kutawarkan pada wanita itu untuk duduk di meja bar sementara
kucarikan tempat yang dia maksud.
“Bolehkah?”
tanya wanita itu. Aku tersenyum, dan mengangguk. Duduklah wanita itu di depan
meja bar, memandang ke luar lewat jendela. Tak lama kemudian, hujan benar-benar
turun.
“Mbak dengar
suara barusan? Suara seperti pecahan piring tapi di langit.” Aku tersenyum
kecil. “Pacar saya bilang benar ini tempatnya. Dimana saya bisa lihat langit
luas dan juga dia.”
Belakangan baru
kusadari, meja bar kami terletak 4 anak tangga lebih tinggi daripada lantai
meja para tamu dengan jendela besar tanpa terali dan mengarah ke sawah belakang.
Jendela ini hiburan kami para barista saat menarik nafas dalam sebelum mulai
mengucurkan susu di atas espresso dan me-latte. Wanita ini, tunangan Rama,
barista kami yang beberapa bulan lalu meninggal tertimpa pohon tumbang di
tengah badai hebat dalam perjalanan menuju bandara. Kata Rama sore itu,
“Pacarku dateng. Aku jemput dia dulu ya.”
Senin, 08 Februari 2016
Cerita Ibu PKK - Pencicip Kopi Keliling (1)
Huft.
Rasanya Januari terlalu banyak
perjalanan dadakan yang menguras energi. Oleh karena itu, di bulan Februari
saya memilih untuk lebih banyak berdiam diri. Lalu atas nama kesenggangan waktu
yang demikian banyak di akhir pekan panjang yang tanpa piknik ini, saya buka
tulisan Februari dengan bercerita tentang ketidaksengajaan saya bertemu
kumpulan orang hobi minum kopi di Lampung.
Rabu, 07 Oktober 2015
Piknik Dadakan ke Kiluan
Dilatarbelakangi
oleh kesamaan nggak-mudik-idul Adha, dua orang teman (yang katanya kehabisan
tiket mudik padahal sebenarnya kangen mau mengunjungi saya di Bandar Lampung :p)
datang dari Jakarta, seorang yang mati gaya dari Tulang Bawang Barat, serta 4
orang yang berkutat di Bandar Lampung dengan pekerjaan masing-masing, secara
ajaib dipertemukan dalam satu waktu dan sepakat piknik.
Sabtu, 12 September 2015
Oleh-Oleh dari Pahawang
![]() |
| Suatu malam di Pahawang. Photo by @priyankawibisono |
Sejujurnya, saya agak ragu jalan-jalan alam macam ke laut ini karena kulit saya yang gampang gosong dan sulit kembali seperti semula (yang sebenarnya sudah masuk kategori “gelap” juga) membuat saya nggak terlalu percaya diri setiap kali habis pulang jalan-jalan. Tapi lalu saya terpacu oleh kuot Rinso “nggak ada noda ya nggak belajar”, yang memantapkan tekad saya untuk pergi #halah.
Minggu, 21 Juni 2015
Training "Jadi Wanita"
Sudah jalan 3 malam sejak
penghuni di kos saya, termasuk keluarga Bapak-Ibu Kos juga, sahurnya sama-sama.
Berawal dari celetukan Ari (salah satu teman di kos) di warung soto untuk sahur
bersama, berlanjut membawa isu tersebut ke Ibu Kos hingga obrolan penentuan
udunan (istilah di Bahasa Sunda yang artinya urunan atau patungan kalo di
Bahasa Jawa) di teras yang berjalan cukup alot, akhirnya terjadilah rutinitas
makan bareng itu setiap jam 4 pagi. Bah, saya nggak pernah menyangka hidup bisa
selucu ini di tempat perantauan.
Pertanyaan Revi
“Emang sebenernya apa sih
yang lu cari?”
Pertanyaan pendek itu
terlontar tepat beberapa detik setelah giliran saya bercerita selesai dengan
penutup, “ Jadi gitu, Vi. Random idup gue mah.” Obrolan kami sebenarnya hanya berawal
dari seputar hal remeh temeh tentang musik kesukaan. Bukan, jelas bukan obrolan
serius tentang perkembangan musik dunia ala pengamat musik, melainkan lagu-lagu
yang sering lewat saja di telinga kami. Dari
kamarnya, saya sering mendengar ada suara petikan gitar mengalunkan nada-nada
lawas yang lebih familiar di telinga saya dibandingkan lagu-lagu kekinian. Sebulan
berjalan, saya baru tahu bahwa orang inilah yang sering mengalunkan nada-nada
petik itu dari kamar sebelah. Namanya Revi.
Senin, 27 April 2015
Salam Kenal, Lampung!
Relatif sama
seperti kota-kota kabupaten di Pulau jawa (terutama bagian tengah dan timur), Bandar
Lampung memiliki komposisi penduduk mayoritas berparas Jawa (baca : berkulit
gelap manis kayak saya). Meski begitu, logatnya sudah bercampur, tidak terlalu
“medhok”. Di daerah perkotaannya, lalu lintas tidak terlalu padat, lahan kosong
yang dipagari lempengan seng tanpa status jelas bertebaran dimana-mana , tidak
ada bangunan tinggi kecuali beberapa hotel yang tingginya hanya bisa diimbangi oleh
1-2 pusat perbelanjaan , dan pasar tradisional cukup mudah dijumpai. Penunjuk
waktu saya sepertinya habis diputar mundur, membawa saya ke 5-7 tahun silam.
Langganan:
Postingan (Atom)





