Fakta : dari 100% adonan jadi, hanya 50% yang mencapai bulat sempurna tanpa kehilangan isi (gula jawa). Sisanya, masuk surga.
Lalu percobaan ke-2 adalah mencoba memasak spaghetti carbonara. Akhirnya dengan modifikasi sana-sini, dapat juga sepiring carbonara yang menurut saya kali ini rasanya lebih "ringan". Mungkin karena pakai susu rendah lemak dan tak terlalu banyak keju (alasan sebenarnya sih karena cuma punya keju cheddar aja di rumah. Fiuh).
Fakta : tanpa olive oil (mahaaaal...), beef nya juga bukan smoked beef, tapi untung terselamatkan dengan spaghetti yang "pas". Hore!
-So there will always
be “first time” in our life. The hardest one is WHEN we decide to get started
with.-
Selasa, 12 Agustus 2014
Selasa, 05 Agustus 2014
Waktu Puasa Pertama
Dulu kami
pernah hidup bersama dalam satu rumah selama 2 bulan dalam rangka menuntaskan
titah suci milik kampus tercinta bagi mahasiswa tahun ke-3 (dan tahun-tahun
di atasnya) bernama KKN, Kuliah Kerja Nyata. Saya dan dia, berbeda 180 derajat.
Kalau dia tipe yang sabar, saya tipe yang mudah tersulut. Kalau dia tipe keibuan,
maka saya tipe remaja SMA yang kurang stabil. Kalau dia santun dan relijius,
maka saya…. yah, itulah.
Tahun 2013
lalu, melalui undangan yang disampaikannya lewat salah satu media sosial
pertemanan, saya tahu dia sudah memutuskan untuk menikah. Saya absen hadir,
karena sedang di Kalimantan. Lalu sekitar 3 bulan yang lalu, putri pertamanya
lahir. Hingga minggu kemarin, berawal dari sebuah sapaan singkat di malam
pertama tarawih, dia mengabarkan sedang berada di Yogyakarta. Dan besoknya,
kami putuskan untuk bertemu.
Kami tidak
banyak berbicara tentang nostalgia. Mungkin karena masa lalu terlalu rumit
untuk dikenang kembali. Halah. Kami lebih banyak bicara tentang keadaan kami
masing-masing saat ini, apa rencana masa depan kami, sedang bersama siapa saat
ini, dan hal-hal semacam itu. Hingga kemudian sampai pada topik menjalani hidup
berrumahtangga *lapkringet*. Saya pikir, teman saya ini tipe yang memang akan menjadi
full time mommy, seperti dulu, agak
dulu sekali, dia pernah menyiratkan yang demikian tentang pandangannya terhadap
seorang wanita yang sudah berkeluarga.
Saya pikir
dia tipikal seorang ibu yang dengan mantap memilih berkarir di rumah bersama anaknya
dan memiliki usaha rumahan, online,
atau semacamnya, sementara suaminya bekerja di luar. Selesai. Well, itu bagus, karena setiap orang normal pasti juga mendambakan hidup yang sejahtera dan bahagia. Tapi
ternyata pikiran saya agak meleset. Lagi, bukti nyata bahwa manusia kerap kali
berasumsi dan terjebak asumsi serta kenangan masa lalu, adalah bahwa saya tak
menyadari kemungkinan adanya gesekan kecil bernama “perubahan”. Sebenarnya saya
tidak tahu apakah memang ada perubahan dalam pandangan hidup teman saya itu,
atau memang dari dulu demikian, tapi ada satu hal yang jelas membuat saya
tersenyum dari obrolan kami tempo hari itu.
“Jadi kamu
bakal kerja lagi?”
“Iya dong.
Kan kita harus bertanggungjawab sama ilmu kita.”
***
Kalau kata
Agustinus Wibowo di bukunya Titik Nol, dia tulis “Rumahku sekarang adalah
jalanan yang membentang. Aku adalah nomad, rumahku adalah perpindahan”. Saya
sendiri mungkin tak akan mampu mendefinisikan cara mengisi hidup sekuat Agustinus
meletakkan definisinya pada perjalanan hidupnya. Tapi yang saya yakini,
perjalanan (dan BUKAN waktu), bisa membuat seseorang mengalami gesekan-gesekan yang
bisa jadi membuat seseorang itu berubah jadi bukan dirinya yang dulu. Dan Agustinus, pernah memilih cara yang
demikian untuk mengisi hidupnya, hingga sampai juga dia berjumpa dengan
“gesekan” lain lagi yang melahirkan sebuah masa baru untuk mengisi hidupnya.
Mungkin, teman saya juga.
Bukan
berubah, tapi meluaskan pandangan. Bukan lupa daratan, tapi mencoba menyelam
lebih dalam (pinjam istilah Banda Neira dari salah satu lagunya “Berjalan Lebih
Jauh”). Menikah, memiliki keturunan, menyaksikan pernikahan keturunan, karir
yang sukses, dan seterusnya adalah gelembung-gelembung besar yang menjadi
kabar-kabar baik yang ingin didengar orang dalam rangka mengisi hidup.
Meskipun,
nyatanya hidup tidak hanya diisi dengan kabar-kabar baik. Ada hambatan yang tak
kelihatan, ada kegagalan yang tak menyenangkan, ada kebingungan yang tak
terjelaskan, ada pula kesedihan yang disembunyikan. Dan tentu saja, pasti akan selalu
ada ilmu bermanfaat yang harus diutarakan.
p.s : terimakasih untuk Silvy Arundita, untuk
pesan menariknya di hari pertama puasa saya. J
Jumat, 27 Juni 2014
7 Tips Menikmati Perjalanan dengan Riang Gembira
Beberapa hari yang lalu, saya dan beberapa orang teman
bermaksud menghadiri resepsi pernikahan di Malang. Ini perjalanan ke-3 saya ke
arah timur (area Jawa Timur dan sekitarnya), setelah 2 kali sebelumnya selalu
mendarat di Surabaya. Pernah mencoba menggunakan moda transportasi umum darat
(kereta) dan udara, kali ini saya dan beberapa teman dari Jogja berangkat
dengan menyewa mobil bersama-sama. Next,
mungkin bis Mira atau Eka bisa jadi pilihan berkendara ke sana. Ada satu lagi
sih, Sumber Selamat, yang dulunya sempat punya nama panggil Sumber Kencana. Rrrr…entahlah, mungkin ada yang bisa bujuk saya untuk
mencoba bis satu ini? Mengingat sebagai outsider (pengguna jalan di luar
penumpang bis SS itu, maksud saya), saya beberapa kali punya pengalaman
menegangkan saat membersamai SS.
Kebetulan saya kebagian jatah sebagai supir cadangan, jadi
porsi menikmati perjalanan masih lumayan banyak. Berangkat lewat Solo yang
ditempuh dari Jogja dalam waktu 4 jam, kota-kota kecil macam Sragen, Magetan,
Madiun, Kediri, Blitar menjadi pemanis perjalanan 14 jam kami ke Malang. Kembali
dari Malang menuju Jogja, kami ternyata bisa hemat 3 jam dengan lewat jalur
gunung (Blitar-Tulungagung-Trenggalek-Ponorogo-Wonogiri-Solo). Jadi dari total
36 jam pulang-pergi, 25 jam di antaranya kami habiskan di perjalanan. -___-
Walau begitu, saya cukup suka perjalanan ke timur ini. Kenapa ya? Mungkin karena ini
pengalaman pertama buat saya, atau mungkin juga karena suka jalan, atau mungkin juga karena kota-kotanya klasik dan tak terlalu padat jadi rasanya ikut selo. Hehe. Nah, lewat tulisan ini saya juga mau coba kasih
beberapa tips melewati 25 jam bermobil di jalanan dengan riang, versi saya
tentunya.
1. Bawalah teman-teman yang selo. Dengan teman yang
selo, niscaya perjalanan Anda tidak akan berada dalam tekanan rekan yang
berorientasi pada hasil akhir semata, alias pingin cepat sampai ke tempat
tujuan.
2. Sediakan supir cadangan, seperti saya misalnya. Walaupun
kemampuan menyetir pas-pasan dan selalu deg-deg-an
kalau mau menyalip truk gandeng atau bus AKAP, setidaknya cukup menyediakan
waktu bagi supir utama untuk beristirahat sejenak dan kembali prima saat harus
menyetir lagi.
3. Hindari membawa flashdisk berisi file musik.
Biarkan radio lokal setempat, dari kota ke kota, menuntun Anda ke titik frekuensi
paling gaul di kota itu hingga ke tingkatan yang menuntun pada kebajikan. Trust me. Tunggu sampai radio Anda
menangkap siaran pengajian radio ala Jawa Timuran yang menyejukkan dan…. ngakak sakpole!
4. Malu
bertanya sesat di jalan. Jangan salahkan power bank yang nihil atau ponsel yang
habis baterai saat kebingungan mencari alamat di kota yang sama sekali asing. Jangan
sampai lah kesana kemari membawa alamat…..dung
crek!
5. Bersabarlah. Biarkan Sumber Selamat di belakang
sana berjalan mendahului. Sebagai kapten yang baik, mengatur serangan dengan
kepala dingin mutlak diperlukan. *uopoooo*
6. Berhentilah di beberapa tempat kece dan lakukan
sesi foto bersama. Ini penting, karena bagaimanapun, kita butuh eksistensi. Halah.
jam 4 sore di suatu tempat yang dingin di Tawangmangu (foto
diambil oleh bapak baik
yang saya curigai sebagai takmir masjid setempat)
7. Bersegeralah untuk membeli jajanan yang menarik
di kerumunan yang terlewati di sebuah kota. Ini sangat berguna untuk merekatkan
hubungan kekeluargaan antar penumpang. Itu, jajajan itu maksudnya.
Itu dulu sedikit tips yang bisa saya bagi, kalau membantu
baguslah, kalau tidak ya tidak apa-apa. Tempat tujuan boleh selalu sama dan
itu-itu saja, tapi mengalami perjalanan akan selalu jadi cerita yang berbeda. Kan?
Nah, sampai jumpa di perjalanan-perjalanan yang lain! Hap hap hap!
Jumat, 06 Juni 2014
Napak Tilas Pentas
Selalu.
Menonton penampilan langsung, adalah obat rindu, bisa jadi juga sendu.
Dunia
panggung yang selalu menggebu-gebu. Alur cerita yang kadang mundur kadang maju.
Juga
tentang mengaduk-aduk rasa ingin tahuku : bagaimana bisa tertulis naskah itu?
Teater
menjadi salah satu tempat terbaik dimana saya selalu merasa diterima oleh
orang-orang di sekitar saya meskipun saya datang tanpa bawa kemampuan apa-apa.
Kenangan berada di atas panggung, diterangi cahaya lampu sorot, latihan tak
kenal waktu, mengobrak-abrik pasar mencari kostum, mencari ekspresi dan logat
bicara paling mengesankan di depan cermin…….ah! Saya bisa dibuat gila saking
rindunya.
Jadi,
Senin malam kemarin (2/6), kenangan itu dihidupkan kembali lewat mini teater di
Kedai Kebun Forum dalam rangka menemani rasa penasaran seorang teman. Judulnya
“Planet ke-11”, diproduksi oleh Teater Amarta besutan Nunung Deni Puspitasari
yang sebelumnya sempat mengenyam pengalaman magang di Teater Koma, sebelum
akhirnya kembali ke Jogja dan mandiri dengan karya-karyanya. Naskah yang
dipentaskan mereka adalah adopsi terjemahan dari naskah seorang penulis naskah
drama asal Slovenia, Evald Flisar. Kisahnya bercerita tentang persahabatan 3 sekawan
gelandangan dengan latar tempat masa kini, dimana banyak orang berkeliaran
untuk mencari kebahagiaan pribadi (saja) yang membuat ketiganya frustasi.
Tiga
sekawan yang tadinya kabur dari rumah sakit jiwa itu bernama Paul yang harus
menderita setiap kali mendengar dengungan suara sirene ambulans di kepalanya,
Magdalena yang tergila-gila pada sepotong paha ayam yang nikmatnya bagai
makanan surga, serta Peter yang sempat menjadi “musuh bersama” dengan gaya
perlentenya hasil mencuri barang-barang mahal di toko. Konflik memuncak ketika
ketiganya saling mencurigai satu sama lain karena menduga adanya pengkhianatan
dalam persahabatan di antara mereka, diisyaratkan dengan berbunyinya telepon
genggam curian mereka dengan nomor asing yang “aneh”.
Hingga
pada akhirnya, setelah melalui serentetan adu kalimat yang cukup panjang,
mereka mendapati adanya kedamaian untuk kembali. Kembali, ya, kembali ke dunia
asal mereka. Dunia dengan imajinasi suka-suka mereka tanpa mesti terraih bentuk
fisiknya, tanpa khawatir apa-apa, tanpa nafsu yang merajalela.
Ada
beberapa scene yang demikian cepat
berlalu tanpa bisa saya tangkap maksudnya kemudian sudah ganti dengan scene
yang lain. Itu masalah saya pribadi, sih, sebenarnya.. hahaha. Buat saya yang hanya pernah bermain-main
teater di ekstrakurikuler sekolah, tentu saja akan sulit mengerti dialog-dialog
satir yang dilontarkan dalam pentas sekitar-120-menit itu. Sambil tergopoh-gopoh
mencerna isi pentas, saya mengamati situasi di belakang dialog yang berbalas
tanpa henti. Sebuah level hitam kurang lebih sebesar kasur single standar,
layar kaku seukuran sekitar 3x8 meter untuk jarak pandang 100 meter-an diletakkan
horizontal dengan lekukan tengah seperti lipatan buku. Ringkas, kelam. Saya
ingat dulu pelatih teater saya yang super keren, Pak Sugeng, hanya memerlukan selembar kain
hitam besar seukuran 4x6 meter dan topeng-topeng buatan tangan dan mengantar
anak-anak didiknya juara 1 lomba teater se-Kota Yogyakarta. Sederhana itu
menakjubkan, Boi!
Baiklah,
karena saya jadi mendadak melankolis akibat mengingat-ingat beberapa kenangan
jaman dulu, lebih baik segera saya akhiri tulisan ini. Terima kasih Ajeng yang
sudah ajak saya merapat ke pentas ini dan menyelami beberapa kenangan lama
saya.
God, I miss
that stage.
Sajak Kecewa
Aku
tidak bisa bilang tidak sedang jatuh cinta
Apa namanya?
Ketika
kamu begitu menantikan sapaan pribadinya
Ketika
kamu berdebat tapi terasa nikmat
Ketika
kamu kesal tapi tak mampu marah
Ketika
kamu tak peduli apa yang dia miliki
Tapi hanya
peduli tentang “he’s the man!”
Ketika
kamu tidak khawatir tentang hari besok
Karena
kamu yakin kalian akan mengusahakannya
Bersama-sama
Aku tidak
bisa bilang tidak sedang jatuh cinta
Apa disebutnya?
Ketika
hati berdebar hanya karena baca namanya
Ketika
segala semangatnya menyemangatimu juga
Ketika
kata-kata pendeknya membuatmu tertawa
Tanpa
kecuali, tidak terkecuali
Aku tidak
bisa bilang tidak sedang jatuh cinta
Apa istilahnya?
Ketika
pikiranmu hanya ingin memastikan dia ada di seberang sana
Ketika
doa setelah orangtua dan hinder dari api neraka
Adalah
tentang menyebut namanya
Ketika
jarimu kemudian menyentuh gambar telepon warna hijau
Sedang
jari satunya menyentuh gambar telepon warna merah 2 detik setelahnya
Ketika
pesanmu sudah terketik sempurna
Tapi tanpa
ampun kamu menghapusnya
Bagaimana
sebaiknya meruntuhkan yang begini?
Rasanya
ingin sembunyi
Malu mengakui,
tapi memendam lama bakal tak kusanggupi
Bagaimana
aku seharusnya?
Kalau
dia ternyata sudah ada yang punya
Lalalalala….
Rabu, 28 Mei 2014
Surabaya dan Senky
Surabaya
kota besar, WAJAR kalau mal-nya banyak.
Walikotanya
sangat perhatian terhadap lingkungan, WAJAR kalau ruang hijau di tengah kota-nya
rapi dan menarik hati.
Harga
karcis tol Suramadu mahal sekali, WAJAR karena sebagai ganti waktu penyebrangan
yang terpangkas dari dahulunya yang masih pakai feri.
Segala
kewajaran itu kami pelajari dari seorang kawan baru, Senky namanya.
Karena
suatu proyek lepas, 5 orang pemuda-pemudi tanggung itu diharuskan bertemu di
ibukota Jawa Timur pada pertengahan Mei lalu. Saya dan Umur yang berangkat dari
Jogja, serta Neke, Nina, dan Wanya yang memulai perjalanan dari Jakarta. Itu pertama
kalinya bagi saya menginjakkan kaki di Bandara Juanda, karena jarang
terpikirkan oleh saya ke Surabaya pakai pesawat, mengingat jaraknya dengan
Jogja hanya dekat saja jika ditempuh dengan kereta (dibandingkan ke Jakarta sih maksudnya).
Di
terminal pertama kami pagi itu, sebuah kantor yang mengurusi masalah pendidikan
di bilangan Jagir Wonokromo, kami bertemu dengan anggota tim ke-6 kami. Namanya sudah saya sebutkan di atas
tadi, Senky. Iya, itu namanya, bukan typo
atau nama samaran. Saya nggak tahu
usianya, tapi waktu dia memperkenalkan diri sebagai mahasiswa semester 10, saya
bisa menebak sekiranya dia lebih muda 2 tahun dari rata-rata kami. Oh kecuali
Wanya, tentu saja, yang belakangan terungkap bahwa angkatan tahun kuliahnya
adalah 200* (digit angka terakhir dirahasiakan demi hajat hidup orang banyak).
Masing-masing
dari kami punya teman asli Jawa Timur juga, tapi kami berlima sepakat
berpendapat bahwa Senky termasuk salah satu spesies Jawa Timur yang langka. Bagaimana
tidak? Dia selalu bisa menjawab dan menjelaskan segala hal yang kami tanyakan
tentang dirinya maupun tentang pengetahuan ke-Surabaya-annya kecuali 1, letak
rumah makan Bu Rudi yang sambal rumahannya terkenal hingga kemana-mana. Momen yang
paling unik tentu saja adalah kami mampir ke tempat karaoke dan playlist nya si
Senky ini luar biasa bervariasi mulai dari lagu super jadul, top forty, lagu
rohani jaman SD hingga lagu rohani kekinian macam band Wali. Dan kata Senky,
ini pertama kalinya dia bernyanyi setelah sekitar 2-3 tahun yang lalu terakhir
kali melakukannya. Hmm…saya sepintas jadi bertanya-tanya apakah yang kami
lakukan dengan mengajaknya menyanyi malam itu adalah dosa atau luar biasa.
Mulai
dari Tugu Pahlawan, hotel Majapahit tempat perusakan bendera Belanda pada
September 1945 dulu, taman Bungkul yang sedang hits karena problematika eskrim
gratis tempo hari, hingga museum rokok HM Sampoerna sempat terjamah di
perjalanan singkat lalu. Selain itu, satu lagi hal yang menarik buat saya adalah
tentang bagaimana hampir setiap narasumber yang kami jumpai tidak pernah tidak
menyebut nama Bu Risma dalam cerita panjangnya. Mengutip kata favorit Senky, “WAJAR,
“ karena proyek yang kami bawa kebetulan nyerempet
banyak dengan topik lingkungan dimana beliau sangat concern dalam menanganinya. Terlepas dari wawancara menggetarkan di
Mata Najwa serta artikel dan buku yang ditulis tentang sepak terjang Bu Risma,
saya kali ini benar-benar takjub karena ada juga masanya saat berita di TV
serta kesaksian rakyat sendiri bisa sejalan.
Yah,
intinya saya sih tulisan ini mau bilang terimakasih sama Senky dan untuk
bantuannya selama kami berada di kota kesayangannya itu. Cepetan lulus ya, Senk, terus jadi PM! (hahahahah) dan berpetualang
lebih jauh sampai rindu kampung halaman. Seperti Neke dan Wanya yang selalu kangen
Bogor, Umur yang selalu bangga akan ke-Cirebon-an nya, saya yang selalu cinta sama
Yogyakarta, atau Nina yang tak pernah jenuh kembali ke Jakarta.
Salam
metal!
Rabu, 21 Mei 2014
Usia Dua Lima
Lahir di tengah-tengah keluarga yang jarang menselebrasi
hari lahir, sesekali kado manis yang datang buat saya betul-betul gembira .Namun
mengulang kembali peringatan hari lahir untuk ke-25 kalinya, rasanya jadi
lebih tegang sekaligus lebih santai daripada
sebelum-sebelumnya. Kok bisa? Ya nggak
tahu juga.
Kalau kata teman saya, manusia berumur 25 tahun itu seperti
ini.
Mungkin buat saya sendiri, 25 itu seperti harus sudah berani
memperjuangkan pilihan dan menghadapi segala risiko yang menyertainya. Sekian.
Langganan:
Postingan (Atom)





