Dilatarbelakangi
oleh kesamaan nggak-mudik-idul Adha, dua orang teman (yang katanya kehabisan
tiket mudik padahal sebenarnya kangen mau mengunjungi saya di Bandar Lampung :p)
datang dari Jakarta, seorang yang mati gaya dari Tulang Bawang Barat, serta 4
orang yang berkutat di Bandar Lampung dengan pekerjaan masing-masing, secara
ajaib dipertemukan dalam satu waktu dan sepakat piknik.
Rabu, 07 Oktober 2015
Sabtu, 12 September 2015
Oleh-Oleh dari Pahawang
![]() |
| Suatu malam di Pahawang. Photo by @priyankawibisono |
Sejujurnya, saya agak ragu jalan-jalan alam macam ke laut ini karena kulit saya yang gampang gosong dan sulit kembali seperti semula (yang sebenarnya sudah masuk kategori “gelap” juga) membuat saya nggak terlalu percaya diri setiap kali habis pulang jalan-jalan. Tapi lalu saya terpacu oleh kuot Rinso “nggak ada noda ya nggak belajar”, yang memantapkan tekad saya untuk pergi #halah.
Sabtu, 22 Agustus 2015
Ultah Bapak yang Ke-Sekian
Di
depan loket Stasiun Kiara Condong, Bandung, sekitar 15 tahun yang lalu.
“Sinta
bisa sendiri kan? Nanti langsung cari kursi. Sampai Jogja nanti dijemput sama
Ibu,” kata Bapak.
Ya,
waktu berangkat dari Jogja ke Bandung, Sinta sudah dipesan sama Ibu kalau Sinta
harus pulang sendiri ke Jogja setelah masa liburan di Bandung habis (cie
liburan) karena Bapak capek kalau bolak-balik Jogja dan sudah harus masuk
perkuliahan.
Minggu, 21 Juni 2015
Training "Jadi Wanita"
Sudah jalan 3 malam sejak
penghuni di kos saya, termasuk keluarga Bapak-Ibu Kos juga, sahurnya sama-sama.
Berawal dari celetukan Ari (salah satu teman di kos) di warung soto untuk sahur
bersama, berlanjut membawa isu tersebut ke Ibu Kos hingga obrolan penentuan
udunan (istilah di Bahasa Sunda yang artinya urunan atau patungan kalo di
Bahasa Jawa) di teras yang berjalan cukup alot, akhirnya terjadilah rutinitas
makan bareng itu setiap jam 4 pagi. Bah, saya nggak pernah menyangka hidup bisa
selucu ini di tempat perantauan.
Pertanyaan Revi
“Emang sebenernya apa sih
yang lu cari?”
Pertanyaan pendek itu
terlontar tepat beberapa detik setelah giliran saya bercerita selesai dengan
penutup, “ Jadi gitu, Vi. Random idup gue mah.” Obrolan kami sebenarnya hanya berawal
dari seputar hal remeh temeh tentang musik kesukaan. Bukan, jelas bukan obrolan
serius tentang perkembangan musik dunia ala pengamat musik, melainkan lagu-lagu
yang sering lewat saja di telinga kami. Dari
kamarnya, saya sering mendengar ada suara petikan gitar mengalunkan nada-nada
lawas yang lebih familiar di telinga saya dibandingkan lagu-lagu kekinian. Sebulan
berjalan, saya baru tahu bahwa orang inilah yang sering mengalunkan nada-nada
petik itu dari kamar sebelah. Namanya Revi.
Sabtu, 23 Mei 2015
26!!
Entah
harus tertawa gembira atau tersenyum kalem dengan bertambahnya simbol satuan di
belakang angka 2. Tapi tentu saja saya sungguh bersyukur, sebab 4 tahun
terakhir pasca kelar kuliah, saya bisa merasakan momen pertambahan usia di 4
tempat yang berbeda : Jakarta-Kalimantan Timur-Jogja-Lampung. Yey!
Senin, 27 April 2015
Salam Kenal, Lampung!
Relatif sama
seperti kota-kota kabupaten di Pulau jawa (terutama bagian tengah dan timur), Bandar
Lampung memiliki komposisi penduduk mayoritas berparas Jawa (baca : berkulit
gelap manis kayak saya). Meski begitu, logatnya sudah bercampur, tidak terlalu
“medhok”. Di daerah perkotaannya, lalu lintas tidak terlalu padat, lahan kosong
yang dipagari lempengan seng tanpa status jelas bertebaran dimana-mana , tidak
ada bangunan tinggi kecuali beberapa hotel yang tingginya hanya bisa diimbangi oleh
1-2 pusat perbelanjaan , dan pasar tradisional cukup mudah dijumpai. Penunjuk
waktu saya sepertinya habis diputar mundur, membawa saya ke 5-7 tahun silam.
Langganan:
Postingan (Atom)
