Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Desember 2016

Bersukacita Sama Willa



Suatu hari, aku naik kursi, naik ke bufet, mencoba membuka bagian radio yang ada kainnya. Mak berteriak-teriak, “Astaganaga Willa! Mau diapakan radio itu!” Waktu aku bilang mau melihat orang-orang kecil yang ada di dalam radio, yang selalu omong-omong dan menyanyi itu, Mak langsung menangkap tanganku.

Saya lupa dari siapa saya mendapatkan rekomendasi untuk membaca buku ini : Na Willa. Saya hanya tiba di salah satu kios buku di ujung Pasar Santa, daerah Kebayoran Baru, Jakarta – Post – lalu teringat ada yang pernah menyarankan untuk membacanya dan membelinya.

Ditulis oleh seorang dewasa, Reda Gaudiamo yang dalam waktu dekat ini (kata mas pemilik Post sore itu) akan menerbitkan buku terbaru yang ditulis bersama anaknya Soca : Aku, Mems, dan Beps yang tampaknya menggemaskan, Na Willa seperti anak baru-agak-malu-malu yang menyita perhatian hiruk pikuk kelas, jika saya memposisikan sudut pandang sebagai guru di ruangan itu. Ilustrasinya yang sederhana dan ceria, saya suka. Spasi di antara paragrafnya, saya suka. Willa, pilihan namanya saya suka. “Menengok Dul” dan “Berhenti Sekolah” menjadi dua cerita favorit saya.

Buku ini adalah cerita harian si Willa. Berlatar belakang Surabaya di jaman keemasan Lilis Suryani (sekitar tahun 1960-an) dengan kata-kata berbahasa Jawa dan situasi biasa-biasa. Ada konflik anak-anak ketika Willa bertengkar dengan Warno yang suka mengejek rasis, ada rasa penasaran anak-anak ketika Willa membongkar radio kesayangan Mak, ada kekesalan anak-anak karena “dicap” sebagai anak nakal padahal tidak nakal, dan ada juga saya ikut berbunga-bunga ketika Willa menemukan sekolah yang disukainya.


Membaca hari-hari Willa sambil ngemil almond crispy slondok seperti jalan-jalan pagi ke pasar tradisional : segar, riuh, hidup. Begitu. Selamat menyambut Senin yang libur, Pekerja!

Rabu, 05 November 2014

Sekolah : Dari Buku Hingga ke Film Drama

As long as we move forward, we will be able to see many things* – Edison’ No Haha

sumber gambar :
https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=5162005867100982596#editor/target=post;postID=4930790459765937567
Saya selalu suka membaca buku berlatar belakang sekolah lengkap dengan dinamikanya. Waktu saya kecil dulu, ada sebuah buku setebal buku Lupus berjudul “Cerita Hantu di Sekolah” yang mengambil latar tempat di Jepang. Dengan mengangkat isu hantu bernama Hanako yang kerap “mengajak main” kalau seorang murid sedang sendirian di dalam toilet nomor 4, atau hantu murid lama yang masih penasaran karena ada masalah yang belum terselesaikan di sekolah, atau sekolah yang dekat kuburan sehingga sedang di koridor lantai ke-sekian kerap terdengar suara-suara aneh, buku itu sukses membuat saya menaruh perhatian dengan bangunan bernama sekolah. Yah, walaupun fokusnya malah jadi ke cerita horor-nya, bukan kehidupan sekolah-nya. Tapi sekarang, daripada disuruh baca cerita horor, saya memilih disuruh lari pagi.

Selasa, 09 April 2013

Diuji Nasrini


Terakhir kali saya diuji, saya berada di sebuah ruangan kecil dan dihujani pertanyaan serta sanggahan mengenai isi skripsi oleh dosen penguji. Lalu di sini, hampir setiap malam saya “diuji” oleh siswa sendiri. Namanya Nasrini.

Siswi kelas 6 yang kesehariannya lebih akrab dipanggil Neneng ini hampir tak pernah absen berkunjung ke rumah saya. Bicaranya banyak sekali, hingga semua yang saya lakukan dikomentarinya habis tanpa malu-malu.
“Bu, kok kamarnya berantakan sekali?”
Atau, “Ibu jangan pakai baju yang itu. Jelek betul dilihatnya. Ini pakai yang ini saja, lebih cantik pakai baju yang ini. “
Atau, “Bu, kok rambutnya dipotong? Pendek betul. Jelek. “
Atau begini. “Ibu sekarang sudah hitam kulitnya, tinggal di desa, panas-panas, ndak makan enak seperti di kota. Seperti yang di TV itu ya Bu, yang Jika aku Menjadi itu.”
 Kadang buat saya agak risih, tapi akhirnya saya cuma senyum saja sambil menghela nafas dan bersiul-siul sampai akhirnya keluar komentar satu lagi (“Bu jangan bersiul malam-malam begini. Manggil setan itu namanya”). Sebenarnya tidak aneh mendengar celetukan jujur anak-anak seusianya. Tapi yang buat saya janggal adalah karena Neneng ketika di rumah berbeda dengan Neneng di sekolah.
Neneng  duduk di kelas 6 sekarang. Dengan anak-anak kelas 6, interaksi saya terbatas hanya mengajar Bahasa Inggris dan les matematika seminggu sekali. Di sekolah, Neneng bukan tipe anak yang banya bicara dan teman bermainnya pun terbatas. Ketika anak-anak lain bermain dan berteriak-teriak sesuka hati, Neneng cenderung menjadi kikuk dan diam. Hingga pernah suatu hari ketika sedang menunggu les,di kala anak-anak lain asyik main sepeda dan berteriak-teriak di luar, dia mendatangi saya di kantor.
“Lho Neneng nda ikut main sama teman-teman? Masih istirahat kok ini, ” tanya saya.
Neneng menggeleng. “Mau sama Ibu saja, “ jawabnya.
“Hahaha. Kenapa malah main sama Ibu? Kenapa ndak sama teman-teman saja?” tanya saya lagi.
“Saya malas bermain dengan anak-anak itu, habis mereka selalu olok-olok saya. Kalau ibu kan enggak, “ jawabnya.
Lonceng sekolah seperti berbunyi nyaring sekali di kepala saya. Seketika “ujian” mengenal Neneng mendadak dihentikan sejenak.

Mohon sudah semua prasangka kamu buang
Satu kata darimu itu adalah ruang
Dimana kamu bisa makin muram ataupun girang
Tinggal kamu pilih yang mana, Sayang
                Buat apa lelah kau pikirkan
                Ayo jalan dan kita buat ruang nyaman
                Agar aku dan kamu tak lagi segan
                Memugar mimpi, menyusun balok-balok masa depan




MARI MENULIS CERITA PENDEK (sebuah ajakan bermain)


Konsep menulis bersama ini awalnya kepikiran dari novel berisi kumpulan cerita pendek Djenar Maesa Ayu, “1 Perempuan 14 Laki-laki”. Bagi Anda yang sudah pernah membaca seri Djenar yang ini pasti tau bahwa dalam setiap cerpen di bukunya itu adalah hasil karya bersama dengan “seseorang yang lain”. Unik, dua pikiran berbeda, dua profesi berbeda, dua budaya berbeda, dan dua-dua yang berbeda lainnya melebur menjadi satu tulisan yang padu. Namun dalam “sayembara” kali ini, tentu saja yang paling mencolok adalah dua usia yang berbeda. Anak-anak murid saya, dan Anda. J

Berangkat dari situ, saya ingin ajak teman-teman untuk menulis cerpen bersama, sekaligus berkomunikasi dengan para penulis cilik ini. Kalau metode kirim surat dan kartu pos sudah kerap dilakukan, bagaimana dengan kirim-kiriman cerpen? Mari kita cari tahu jawabannya.

 Aturan menulis :
Mari kita buat yang sederhana saja ya.

1.     Anak murid saya akan menuliskan paragraf awal sebuah cerita yang mana cerita ini sifatnya unfinished atau belum terselesaikan. Bagian tengah hingga akhirnya, Anda yang bertugas meneruskan.  Isi BEBAS, tapi tetap bergenre anak-anak (halah emange lagu?) dan tidak mengandung SARA.

2.      Panjang paragraf yang boleh Anda tulis : BEBAS, ya sekitar 100-150 kata.

3.       Saya akan kirimkan cerita anak-anak yang masih setengah jadi itu melalui email. Selain cerita, di situ akan ada foto si anak serta biodata dia secara singkat. Anda bisa berkenalan dengan para penulis cilik ini lewat situ.

4.       Pada email balasan Anda, selain mengirim cerita balasan, kirimlah juga foto Anda dan paragraf singkat yang berisi cerita tentang Anda serta kesan pesan Anda buat partner menulis Anda. Mengenai foto, tidak harus melulu foto diri Anda. Bisa saja Anda dengan latar tempat kerja Anda, Anda dan binatang peliharaan, atau APAPUN yang mewakili Anda untuk dikenal lebih dekat oleh mereka.

5.       Cerita Anda dan anak murid akan diberi judul oleh anak murid partner Anda disini, segera setelah dia membaca lanjutan cerita yang Anda tulis.

6.       Tulisan tersebut nantinya akan dibaca dan dinilai oleh warga sekolah. Tiga tulisan yang terpilih akan ada rewardnya, Hehe  

Jadi, alurnya :
Siswa (buat cerita awal+biodata+foto) à berikan ke PM (Pengajar Muda, dalam hal ini saya) à PM mengirimkan ke email Anda- à Anda menulis ceritaà kirim balik (beserta foto+pesan kesan) à anak murid membaca ending dari ceritanyaa masing-masing dan memberikan judul untuk cerita tersebut à izin publish ya, kakak-kakak..

Ohya, ada juga yang bertanya : apa pembelajaran yang bisa dipetik dari kegiatan ini?
Secara ringkas saya jawab
1.       Latihan menulis runtut dan logis (pengembangan hardskill menulis buat anak murid)
2.       Apresiasi (karena mereka akan berinteraksi dengan Anda melalui karya tulis buatan mereka sendiri)
3.       Membuka pandangan dan motivasi (dari cerita, foto maupun pesan  yang Anda tuliskan, saya percaya akan meninggalkan kesan untuk mereka secara personal dan emosional. Di situlah saya percaya saya tidak sedang berjuang sendiri untuk membuka pikiran mereka) J

OK itu saja.
Kalau Anda merasa selo dan tertarik menerima tantangan menulis cerpen “nanggung” ini, langsung ya saya tunggu kesanggupan anda via wasap atw facebook atau twitter beserta email kalian. 15 cerpen “nanggung” siap mampir di sela-sela inbox kalian yang sibuk. J

Saya akan kirimkan cerita dari partner menulis kalian via email segera dalam minggu ini. Kami tunggu balasannya selambatnya 2 minggu kemudian yak. Terima kasih.
Salam hangat dari anak-anak desa Maruat di kab paser, Kalimantan Timur.

Kamis, 14 Februari 2013

Dia yang Sedang Membaca




Haris.
Empat hari menjelang ujian akhir semester ganjil kemarin, tangan kirinya patah karena salto di dalam kelas saat jam istirahat. Sore harinya sepulang sekolah saya menengoknya di rumah. Kata bapaknya, dia ingin masuk sekolah keesokan harinya. Jelas saja mustahil. Dan dia waktu itu cuma diam saja sambil nonton tivi membiarkan lengan patahnya terkulai di sampingnya.

Hari ini, tangannya sudah hampir sembuh dan setiap saya sapa dia kala berangkat dan pulang sekolah, dia selalu tersenyum lebar menyambutnya.

p.s : Gambar di atas diambil pada minggu ke-2 masukan semester baru. Merupakan salah satu gambar favorit saya selama tiga bulan ini karena...entahlah. Mungkin karena dia sedang membaca dengan sungguh-sungguh. :)


Untuk Aksay


Jangan menangis, Sayang
Karena pilumu buatku tersentak
Jangan menangis, Sayang
Karena sedih dalam air matamu
Pasti tak mampu kuganti dengan bahagia yang lebih


Satu lagi bocah menangis saat belajar dengan saya. Prestasi gemilang,  karena sepertinya saya hobi sekali buat anak orang menangis. Apa mungkin itu passion saya? Ah pret.

Tidak ada siapapun yang suka diperintah atau diminta melakukan apa yang tidak ingin dilakukan. Otak akan sangat resisten terhadap hal tersebut. Khawatirnya, ketika tiba di puncak resistensi tersebut, maka rasa kesal juga ikut naik yang berakibat pada tangisan. Sedikit demi sedikit, saya coba ubah pola kebiasaan itu dengan cara lain, salah satunya dengan kata“ayo kita coba dulu”. Kata “kita” ternyata punya efek cukup hebat dalam hal ini. Dengan kata ganti tersebut, seolah-olah orang yang didaulat sebagai objek yang diminta tidak akan merasa harus berjalan sendiri, setidaknya untuk beberapa waktu pertama.

Aksay, kelas 3, membuat saya menyadarinya. Ingat saya tentang anak ini adalah ketika guru wali kelasnya mengakatan bahwa Aksay adalah salah satu anak yang dicap “malas berpikir”. Aksay ini tinggal tak jauh dari rumah host saya. Kerap kali saya bertemu orangtuanya, dan dia pun cukup rajin datang untuk main dan belajar di rumah. Dari yang saya perhatikan, anak ini tak terbiasa diberi tantangan lebih. Yang dia suka hanya tiga : berlari, menggambar, dan perkalian satu angka (perkalian dari  angka 1-9). Dan dia hanya melakukan apa yang dia suka, selesai. Sekali saya coba ajari perkalian yang setingkat lebih maju dan memberikan latihan, dia langsung diam dan menangis. Tuhan, apa salah sayaaa?? Barulah saya dekati dia yang mematung sambil menyembunyikan air matanya yang mengalir jatuh sambil berucap :”Tidak apa, Say. Ayo, kita lajar bersama-sama. “

Lama dia tak bergerak. Saya tinggalkan dia untuk beralih mengurusi yang lain. Ketika menoleh lagi beberapa saat kemudian, Aksay masih juga menangis. Saya diamkan. Namun seiring waktu berlalu, dengan sendirinya dia perlahan kembali ke tengah teman-temannya, mengerjakan kembali tugasnya. Saya perhatikan tiap tingkahnya saat mewarnai pekerjaannya. Rasanya seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya, dia melakukan tugasnya dengan baik dan gembira, menanyakan beberapa hal yang perlu dilakukan. Heran saya dalam hati, cepat sekali dia pulih dari tangisnya. What a kid.


Melihatnya bekerja lebih mandiri dengan sesekali melongok ke teman di sampingnya buat saya tertawa-tawa kecil sepanjang sisa sore itu. Mungkin bukan karena Aksay “malas berpikir”, melainkan kebutuhan akan sebuah ruang dan kelegaan untuk “melakukan sesuatu”. Dan tentu saja : pembiasaan tanpa paksaan.


Mari Menulis Mimpi

"Kala kulihat layang-layang dapat terbang tinggi namun sesekali goyah dan dia jatuh lagi...." Bermimpi - Base Jam


Tempo hari saat mengisi pelajaran IPA di kelas 6, saya menyisipkan kegiatan menulis mimpi. Berbekal kertas lipat warna-warni, selotip kertas, dan kertas plano selembar, jadilah potongan-potongan mimpi tersebut. Terkejutnya saya adalah bahwa ternyata di usia mereka ini, mimpi itu bukan lagi semata ingin jadi dokter, supir truk, polisi, atau pengemudi jimbo (sejenis traktor pengeruk tanah yang oleh masyarakat setempat dipatenkan nama panggilannya sesuai nama perusahaan pembuatnya, JIMBO). Those dreams are silently created on real paths in their mind.

Ada empat hal yang saya minta mereka tulis di atas kertas lipat. Satu, tentang keinginan atau cita-cita mereka. Dua, tentang usaha mereka mencapainya. Tiga, tentang pelajaran yang paling disukai. Empat, tentang pelajaran yang paling dibenci TAPI ingin bisa menguasai. Kira-kira beginilah jadinya.


 Kalau tak punya mimpi, orang-orang seperti kita ini Cuma akan mati, Boy (Arai – Sang Pemimpi)


Kelas 6, polos dan bergairah. Beberapa yang menarik, here are some of them :


Saya ingin menjadi montir tapi orangtua saya melarang saya disuruh menjadi guru saya tidak bisa menjadi saya harus menjadi guru (Ardiyanto)



Keinginan saya = ingin menjadi Pengajar Muda seperti Ibu Vivin dan Ibu Sinta. Saya ingin meneruskan sekolah saya sampai kuliah. Setelah lulus kuliah saya mau giat belajar menjadi Pengajar Muda. Agar saya bisa menjadi Pengajar Muda saya harus giat dan Rajin belajar (Selviana) 



Keinginan saya : menjadi penghapal Al Quran 30 juz karena saya ingin memasukkan kedua orangtua saya masuk syurga beserta adik, tante, om, nenek, kakek, dan keluarga saya semuanya. Itulah keinginan saya (Hafidzah)




“Keinginan saya adalah ingin menjadi atlit yang sukses” (M. Jaiz)


Tiba di bagian “pelajaran yang paling tidak disuka”, tersebutlah disana Bahasa Inggris sebagai nominasi terbaiknya. Ardiyanto tetap menjadi juara saya dalam hal penyampaian opini pribadi.


Pelajaran Bahasa Inggris tapi saya ingin bisa. Sapa tau ada turis atau buleee datang kesini saya akan tanya how are you tokke tokke you nau (Ardiyanto)


Oh man. Sesungguhnya saya tidak begitu mengerti dan tidak kasih lajar “tokke-tokke you nau”. Tapi apa boleh buat, kadang-kadang imajinasi bisa jauh lebih liar daripada babi hutan.

 Dan satu testimoni lain yang paling membuat kening saya berkerut adalah dari Rahman.

Saya tidak suka pelajaran Bahasa Inggris karena bahasa munafik (Rahman)


Karena sangat penasaran, tanyalah saya pada si penulisnya sendiri. Ternyata pernyataan tersebut dia peroleh dari mulut salah seorang guru. Ujarnya, “ Karena bahasa inggris itu tulisan sama ucapannya berbeda, Bu. Misalnya lima. Tulisannya f-i-v-e tapi bacanya faif bukan fife”. Saya hanya ketawa saja dengar jawaban Rahman yang demikian.  Luar biasa, karena sungguh apa yang dikatakan guru mereka adalah pemahaman mereka, dan mereka mengadopsinya secara alamiah, walau kadang meleset karena dijelaskan secara utuh.

Mungkin sekali mimpi-mimpi dan kesukaan mereka ini berubah nantinya, bukan? Tapi sembari mereka bertumbuh, saya merasa beruntung bisa melihat sebagian prosesnya. 

Minggu, 03 Februari 2013

Janji Ibu Guru


Adalah Risma, gadis Bugis chubby yang tinggal di rumah sebelah, yang menanyai saya ketika saya sedang berkunjung melayat neneknya yang baru saja meninggal. “Kapan kita jalan-jalan lagi, Bu?” Lagi, dia maksudkan karena sudah pernah kami jalan-jalan dengan sepeda waktu kapan hari. Tujuan jalan-jalan kami waktu itu adalah empang (semacam petak kolam atau tambak) di dusun saya, Urip. Berawal dari rasa penasaran saya terhadap ujung dusun yang misterius, berakhir dengan tenggelamnya kaki saya hingga selutut ke dalam lumpur empang sisa hujan semalam sebelumnya.
Pertanyaan Risma membuat saya terdiam beberapa detik. Memang sudah agak lama saya tidak jalan dengan anak-anak, dikarenakan ada liburan antar semester dan kejadian ini itu yang mengharuskan saya tak bisa pulang ke desa cukup lama. Dan setelah memastikan bahwa hari Minggu terdekat masih bebas agenda, segera saya buat kesepakatan untuk jalan di hari tersebut. “Jam 8 saja ya, biar ndak terlalu panas, “ ujar saya kala itu.
Hari Minggu yang dimaksud pun tiba. Jam setengah 7 pagi, ketika saya sudah akan bersiap-siap jalan-jalan, Nanda, adik angkat saya mengajak saya untuk cuci baju di sumur bor. Hari itu sudah sekitar 10 hari hujan tak turun sehingga air hujan yang biasanya digunakan sebagai sumber air bersih untuk mandi, cuci baju, hingga masak, ludes. Akibatnya, sumber air untuk mandi dan cuci baju bergeser ke air sumur pada hari ke-7. Air sumur ini adalah air yang disimpan di galian tanah berbentuk persegi panjang menyerupai kolam, asalnya dari tanah. Rasa air sumur yang sedikit asin dan “berlogam” membuat air ini tidak bisa dibuat memasak. Namun lagi-lagi, karena sudah lamanya tak turun hujan, persediaan air di situ pun menipis sehingga sumur bor lah alternatif ke-3 nya.
Sumur bor ini letaknya sekitar 10 menit berjalan kaki dari rumah saya, melewati kebun belakang rumah yang penuh pohon kelapa dengan jalur berupa jalan setapak bernyamuk. Jadilah, setelah menimbang-nimbang dan melirik tumpukan cucian di sudut kamar, saya mengiyakan ajakan Nanda dengan perkiraan jam setengah 9 kelar dan bisa memenuhi janji jalan-jalan. Lekas saya ambil baju-baju kotor dan saya rendam selama 30-45 menit. Kemudian, baju hasil rendaman yang sudah diperas dimasukkan ke dalam kantong besar dan diikat di boncengan sepeda. Jam sudah menunjukkan pukul 8 kurang seperempat ketika saya dan Nanda berangkat.
Ternyata mencuci butuh lebih dari sekedar membilas dan menggosok. Ya mengantri, ya naik turun badan, ya menunggu. Dan karena cucian Nanda sangat banyak, akhirnya kami baru bisa pulang sekitar sejam kemudian. Di tengah jalan pulang, kami disusul oleh dua makhluk kecil berbaju rapi yang mengayuh sepeda. Ternyata mereka sudah menunggu di rumah sejak jam 8, dan karena saya tidak kunjung pulang maka mereka susul saya. Risma dan Doni.
Jalan-jalan yang saya janjikan waktu itu adalah menggunakan sepeda dengan asumsi bahwa Lola sudah diperbaiki. Namun karena si Lola rantainya putus di tengah perjalanan pulang dari mencuci baju di sumur bor tadi, saya pun membatalkan agenda jalan-jalan (ohya, Lola ini adalah nama sepeda saya). Tentu saja usulan ini langsung ditolak mentah-mentah oleh Risma. Segera saja dia menawarkan untuk jalan kaki saja dan mengabarkan bahwa rute jalan yang akan ditempuh tidak terlalu jauh. Doni kecil pun hanya menurut . Saya tersenyum saja dengarnya. Saya tinggalkan mereka untuk menjemur baju, mandi dan sebagainya sampai sejam kemudian baru selesai dengan dugaan mereka akan capek menunggu dan mengurungkan niat jalan-jalan.
Namun apa yang terjadi? Mereka berdua masih nongkrong dengan bahagia di depan TV, menunggu saya selesai mandi dan ganti baju. Akhirnya, atas nama kemanusiaan, saya pun “menjadikan” agenda jalan-jalan hari itu. Walau jam sudah menunjukkan waktu tak layak jalan karena sudah terlampau siang, kami tetap jalan. Sinar matahari terik, ketika dengan lugu Doni berkata sebelum berangkat, “Ibu lama sekali kami tunggu”. Oh God.
Kami memilih untuk jalan ke dusun sebelah lewat jalan tembus hutan. Di tengah jalan, seorang anak ikut bergabung, Mawar namanya. Saya di belakang menyaksikan mereka bercakap banyak sekali. Sesekali mereka tanyai saya, “Ibu suka buah jambu kah? Suka buah belimbing? Suka buah ceri (ceri yang dimaksud ini dikenal luas dengan sebutan kersen atau talok dalam Bahasa Jawa)? Tapi cerinya habis. Ibu suka sirsak? Bu nanti kita beli es ya. Bu istirahat di bawah pohon situ saja naah”, dan seterusnya. Kami berjalan di tengah teriknya matahari yang mulai naik tepat di atas kepala, latihan memotret, beli es, dan melakuan razia ceri di rumah tukang jualan es. Sederhana, tapi saya senang bisa terlaksana. Dalam hati saya berjanji, walau apapun yang terjadi, sebuah janji haram hukumnya untuk diingkari. Menunda janji mungkin bisa saja, tapi tak terpenuhinya janji akan lain lagi persoalannya.
Janji itu seperti matahari ya ternyata. Mengikuti di atas kepala kita dari pagi hingga senja, tak hilang dengan alasan apapun kecuali karena kodratnya berakhir saat waktunya tiba. Kalau janji, berakhir kalau memang kedua pihak (si pemberi janji dan yang diberi janji) lupa.
“Bu, kapan kita ke Muara (desa sebelah yang letaknya sekitar 20 menit naik motor, -Pen)? Katanya kemarin setelah terima rapot, “ celetuk Mawar di tengah jalan pulang.
Saya menatap Mawar sambil tersenyum. “Hmm..iya, terima rapor kenaikan kelas, kan?”


                                                                 Memetik ceri



 Membugkus hasil petikan sendiri


                                                  Tiga tokoh utama