Minggu, 13 Maret 2016

Kejutan Way Ratai (2)

[lanjutan]

fiuh
Ini baru cerita menuju kebun kopi. Belum kisah jalan pulangnya. Jadi ketika di atas gunung, hujan turun deras sekali. Sudah terbayang di benak saya bagaimana licinnya jalan pulang nanti. Dan benar saja. Beberapa korban terpeleset unjuk gigi, saya sendiri sempat terjerembab sekali bertumpu lutut, sekali terjun bebas sampai harus menggapai rumput liar untuk menghentikan plesetan, dan beberapa kali harus lari-lari karena ketidakmampuan mengendalikan rem kaki lalu berakhir dengan melompat ke rerumputan terdekat untuk menghentikan laju. Sebagian besar dilakukan dengan kemayu sambil bawa payung ungu. Haha. Untuk jalan pulang ini, saya hanya sekali naik motor selama 5 menit terakhir. Prestasi!

3. Makan siang
Makan siang adalah bagian terbaik dari piknik kopi ini. Ini dia makan siangnya.

amazing lunch

Maka Kawan-kawan, nikmat Tuhan yang mana yang kau dustakan?
Ini pertama kali saya makan kecombrang, yang sensasinya bertahan hingga 6 jam setelahnya terlebih kalau bersendawa. Rasanya asam-asam lucu, segar, dan saya memakan kecombrang cocol sambal terasi dengan sesekali tutup mata (saking bahagianya). Lalu lele goreng, buntil, sambal trasi, labu siam, rebusan daun singkong, sayur jantung pisang, daaaan nasi tiwul.
SURGAAAAAAAAA.
Juara banget menu makan siangnyaaaa. Ayam kentaki atau holikow lewaaaaattttt.

 4. Air terjun Sinar Tiga
Berkat alam yang dikenalkan Hasti dkk lewat trip ini adalah air terjun. Air jernih, udara dingin sejuk, dan segelas kopi petik merah panas. Apa lagi? Ah ya, pasangan hidup #eh.

Perjalanan menuju titik air terjun ini cukup panjang (untuk yang tidak terlatih jalan kaki) yaitu selama 30 menit melewati kebun kakao dan hutan rimba lengkap dengan tanaman liar, ular bergelantungan (ular yang cantik, asal nggak mendekat), serta batang-batang pohon yang tumbang tercerabut sampai akarnya. Saya sendiri bahkan bertanya 2 kali “Ini masih berapa hari lagi mbak sampai air terjunnya?” dengan muka letih sambil pijet-pijet kaki untuk mengaburkan keluhan “Mbak kok jauh banget sih”. Haha. Tapi ya akhirnya sampai juga.






5.  Kesimpulan
Menggenggam hangatnya kopi di tangan
Begitulah akhir pekan saya kemarin, 12 Maret 2016. Catatan dari saya selaku peserta cemen adalah :
a)      Bawalah air putih di tumbler sendiri, karena kalau kelelahan di tengah jalan, nggak ada dayang-dayang yang sukarela datang untuk menyodori air minum ;

b)     Bawalah payung. Oke ini memang super cemen, tapi lebih baik antisipasi kan? Biasalah, golongan darah A. Hahah. Oh atau kalau ada mantel, itu lebih baik ;

c)      Minimal seminggu sebelum piknik, biasakan jogging setiap pagi atau sore. Trust me, it helps. Paling tidak, kaki Anda tidak harus meronta-ronta minta pijat keesokan harinya;

d)      Sandal gunung atau sepatu hiking, pokoknya yang bisa membantu Anda menjejak tanah licin dengan mantap. Hindari sandal jepit, karena sekalipun sandal jepit anda seharga lembaran uang biru, pada akhirnya Anda cuma akan menentengnya kalau cuacanya seperti yang saya kemarin. Tapi kalau cuaca berpihak pada Anda, jangan lupa sujud syukur setelah sampai di bawah lagi dengan selamat.

e)       Baju ganti. Karena ajakan air terjun untuk direnangi terlalu menggoda #sigh;

f)       Kamera yang bagus dan case yang aman. Kamera itu pilihan, tapi case yang aman itu kewajiban. *loh

g)       Info tambahan : Trip ini seharga Rp 200.000, seharian penuh dari jam 7 pagi sampai jam 8 malam.



Terima kasih Hasti dkk. Keep evaluating and growing ya!

2 komentar:

  1. Kecombrang ki opo to tuk?

    BalasHapus
  2. googling vi..wakakak..asem-asem enak ngono rasane

    BalasHapus