Rabu, 17 Agustus 2016

Cerita Si Marlina

Perempuan itu menyapu pandangannya ke setiap sudut kedai terang berarsitektur kuno itu. Kedai yang tidak terlalu besar, tidak pula terlalu ramai, dengan lagu-lagu jazz pelan yang mengalun sepanjang 50 menit terakhir kedatangannya di situ. Putri kecilnya yang baru menginjak usia 4 tahun sudah tertidur di pangkuannya. Sofa merah yang empuk sepertinya sukses memanggil-manggil Si Kecil ke alam mimpi untuk memberikan me-time ibunya.
Ingat betul ia, perempuan awal 30 tahun itu, 6 tahun lalu tempat ini tidak seperti ini. Bahkan, belum bisa dibilang kedai. Tempat ini dulu hanya memiliki sebuah meja bar dengan deretan toples berisi biji-biji kopi sangraian sendiri dan 3 meja duduk dengan masing-masing 4 kursi mengitarinya. Sisanya? Tumpukan barang antik. Mulai dari kaset pita, pemutar piringan hitam, majalah 90-an, buku-buku berejaan lama, lampu kapal kecil nan kusam, dan sejumlah barang antik lainnya. Label harga ditulis tangan, kadang digantung rapi dengan pita kecil yang diselipkan di sela lubang klip bulat di atas kertas bertekstur ukuran 3x1 sentimeter, kadang ditempel saja dengan kertas rekat dan ditulis tangan. Aldi pernah memberinya sebuah cangkir seng bercorak hijau tentara dengan lapis putih di dalamnya secara tiba-tiba dan hanya bilang, “Ini simpan. Nanti kalau kita ngopi tubruk bareng, pake ini”. Disodorkannya dengan santai satu cangkir ke perempuan yang duduk di sampingnya (mereka duduk di meja bar). “Saya ada satu di rumah. Pemberian seorang kakek baik di Sindoro”.
***
Pada saat itu, Marlina sedang bekerja di salah satu kantor penerbitan nasional sebagai seorang reporter yang sedang naik daun (baca : kesayangan Pemred) karena Marlina sangat perfeksionis dalam menuliskan setiap liputannya. Paling sering meliput mengenai berita politik dan ekonomi, padahal kesenangannya sebenarnya justru menulis feature yang mendalam. Sesekali menulis tentang sosial budaya membuatnya bahagia, tapi dalam sebulan, kolom sosbud yang dijatahkan kepadanya bisa dihitung dengan jari, pun dengan jatah menulis feature. Selama 3 tahun ia digembleng pemimpin redaksinya yang galak dan ampun-ampunan perfeksionisnya, sampai muak ia bolak-balik gedung parlemen, istana presiden, mengejar anggota DPR, membuat janji wawancara eksklusif dengan pejabat politik strategis yang kadang lancar seringnya mengesalkan, menghadiri konferensi pers (yang tentu saja bukan konferensi pers artis K-Pop yang mau manggung di Indonesia), tugas luar kota hanya berteman seorang fotografer atau kadang malah sendirian (sampai suka tersesat arah juga dengan kemampuan navigasi yang nyaris nol), mengulik kejanggalan aliran data keuangan salah satu kementrian, mengikuti proses persidangan sehari-semalam suntuk tanpa mandi, hanya makan nasi padang dan ngemil biji kopi (karena tidak sempat menyeduh secangkir kopi, Marlina berpendapat setidaknya dia bisa telan biji kopi yang selalu dibawanya ke mana-mana dalam toples kaca kecil. Dan menelan biji kopi lebih sehat daripada makan permen, menurutnya).
Tahun pertama pekerjaannya dihabiskan dengan penyesuaian tingkat stres yang luar biasa. Kadang-kadang Marlina berangan-angan untuk masuk majalah fesyen saja. Dia suka fesyen, meski tidak fashionable. Atau masuk ke dunia jurnalisme TV. Dia tidak cukup layar-genik, Marlina sadar itu, tapi dia juga sepenuhnya sadar bahwa dia adalah penulis naskah yang jago dan komunikatif, minimal liputan mudik lebaran bisa lah dapat slot buat sekedar tampil dan membiarkan ibunya di rumah melihatnya sekaligus mengobati rasa kangennya. Stres pekerjaan ternyata masih berhasil dia lalui dengan baik, dengan mencetak rekam sakit hanya 2 kali demam tinggi pakai opname 1-2 hari dan 1 kali gejala tipus yang membuatnya tergeletak 8 hari di rumah sakit. Selebihnya, sehat walafiat….
….raganya.
Lah, jiwanya?

Jiwanya juga baik-baik saja. Insya Allah, kata Marlina, jika ditanya. Setahun penggemblengan membuatnya kemampuannya meningkat pesat. Tahun ke-2, ia mulai berani mengajukan diri menulis beberapa feature atau kadang merengek diberi jatah topik sosial budaya. Alasannya, penyeimbangan diri. Hanya Marlina yang bisa mendebat Pemred “bengis” kepercayaan perusahaan macam Leo, dan beberapa kali menang argumen saat menyampaikan pandangannya atau jika sedang melakukan pendekatan persuasif. Marlina tidak lantas jumawa, karena bukan “kemenangan” yang diincarnya, melainkan “luapan” isi hatinya yang harus dan wajib keluar dari kecamuk pikirannya, sebelum terlalu banyak mengendap dan membuatnya makin stres. Untunglah, meskipun galak, Pemrednya adalah orang yang terbuka dan paling fair yang pernah dia temui di lini kerjanya ini. Berkat hal ini, jiwanya masih, yah, bisa dibilang stabil.
Pemrednya, laki-laki, berusia 39 tahun dengan 2 anak kecil lucu dan seorang istri berbadan mungil yang gambarnya bisa dilirik di meja kerjanya setiap kali Marlina harus menghampirinya untuk mendiskusikan sesuatu. Namanya Leo, hobi datang ke kantor dengan setelan jeans dan kaos polo Giordano yang dipercaya setidaknya dia punya 5 warna – hitam, putih, coklat, biru muda, dan merah marun – untuk 5 hari kerja. Tidak pernah dekat secara personal dengan siapapun di kantor kecuali dengan editornya, Hasyim (30 tahun, sedikit sinting, katanya sedang berencana menikah, kalem tak pernah terlihat marah-marah karena kata dia “terlihat emosi adalah hal yang tidak elegan, lebih baik nggambar”, kata dia, yang memang benar-benar dia lakukan karena semua orang di kantor tahu bahwa Hasyim lebih sering terlihat menggambar dan dikelilingi sketsa-sketsa aneh daripada melihatnya menulis atau mengedit seperti deskripsi pekerjaannya – editor) dan reporter tengil tahan banting bernama Marlina. Tiga sekawan beda generasi dan beda tabiat ini, disatukan dengan dua kesamaan : perfeksionis dan kopi.
Marlina, meski pergaulannya semenjak kuliah sudah sarat dengan dunia jurnalistik, teman-teman yang idealis, pemikir, diskusi-diskusi panjang, dan dekat dengan kepulan asap rokok, tidak pernah merokok. Leo dan Hasyim, keduanya perokok berat, tapi tidak pernah merokok kalau sedang ngobrol bertiga. Ya, si hijau yang baru kerja setahun ini jadi kesayangan mereka berdua, yang secara rutin minimal seminggu sekali, janjian di rumah kecil di bilangan Tebet dan mengisi salah satu slot meja bar sambil menghadapi cangkir kopi masing-masing dan cemilan. Rumah kecil itu milik orangtua Hasyim yang sudah tak terpakai dan diwariskan ke Hasyim sebagai anak sulung laki-laki. Hasyim yang tergila-gila pada benda kuno dan bekas kemudian dipertemukan dengan Aldi, pekerja LSM lingkungan yang tergila-gila pada aroma kopi habis sangrai (another weirdo, kata Marlina di balik telinga Leo, waktu dikenalkan pertama kali oleh Hasyim) dan bersepakat buka warung kopi sambil jualan barang kuno seni milik Hasyim.
Marlina – awalnya – tidak pernah terlalu tertarik ngobrol dengan Aldi, sekalipun hampir semua pengunjung bilang lelaki di balik bar ini menyukai caranya bercerita yang atraktif. Sampai suatu kali, Hasyim dan Leo mendadak membatalkan janji nongkrong mingguan mereka saat Marlina tiba di depan pintu kedai.
“Tubruk. Robusta apa aja terserah, “ pesan Marlina dengan nada agak kesal sembari meletakkan tas di meja bar. Aldi yang sedang menuang air di atas kertas saring yang melekat di alat keramik berbentuk kerucut sejenak melirik. Lagu Daughters-nya John Mayer mengalun pelan dari sumber suara di pojok kedai. Tiga meja hanya terisi 2, penuh semua. Satu meja berisi 2 pemuda yang sedang ngobrol santai sambil merokok, satu meja berisi 2 wanita-1 pria kelihatannya sedang reunian. Jarang melihat orang datang ke kedai itu dengan menenteng komputer jinjing. Biasanya mereka yang datang, paling lama di sana sekitar 1,5 jam, bercakap-cakap, lalu berganti dengan pengunjung lain.
“Tumben,” Aldi hanya berkomentar pendek sambil tersenyum. Ia mengomentari pesanan tubruk Marlina, yang biasanya jarang-jarang dipesannya. Pesanan Marlina selalu antara Americano atau seduh manual dengan pouring.
Marlina sebenarnya malas menjawab karena masih kesal kedua lelaki berinisial H dan L membatalkan janji begitu mendadak. Tapi lalu dia memaksakan tersenyum, membetulkan posisi duduknya, dan mengikat rambutnya.
“Lagi banyak biji kopi baru, baru selesai sangrai. Nih namanya Wening Galih dari Jawa Barat, mau coba di-pouring?” Aldi masih tampak mencoba memunculkan mood baik Marlina dengan menyodorkan setoples biji berwarna cerah berlabel “Wening Galih.”
“Nggak. Tubruk aja. Robusta,” jawab Marlina pendek. Kali ini sudah dengan membuka sebuah buku, cara terhalus untuk memberitahukan “Jangan ganggu gue.”
Aldi nyengir, membaca gelagat macan tidur tadi. Jelas ini bukan masalah pekerjaan yang membuat perempuan muda ini melipat muka.
“Saya baca tulisan kamu. Tentang petani kopi di Sindoro Sumbing”, kata Aldi sembari menyodorkan sloki berisi espresso. “Ohya, saya ketemu Mbah Paino juga sekitar 3 bulan yang lalu waktu jalan-jalan ke sana. Masih tanam kopi. Kopinya bagus, ngomong-ngomong.”
Kali ini suara ringan Monita Tahalea mendapat gilirannya, lagu ceria bertitel Hai. Kali ini Marlina mendongak. “Oh, kok bisa ketemu?” reflek pertanyaan tersebut meluncur bersamaan dengan memorinya yang langsung berganti dengan wajah lelaki tua pemetik kopi merah yang dia temui dan diajaknya bercerita sekitar setahun yang lalu. Tulisan terakhir yang dibuatnya sebelum bertolak ke Jakarta.
“Ya karena tulisan kamu tadi itu, apa lagi?” kata Aldi.

Aldi adalah anomali. Anomali yang begitu mencintai Marlina, pun sebaliknya. Waktu bertemu Mbah Paino, Aldi ingin sekali menelepon Marlina, meminta Mbah Paino berbicara dengan Marlina. Tapi Aldi tak pernah tahu nomor telepon Marlina. Seharusnya dengan mudah dia bisa meminta nomor Marlina dari Hasyim, tapi tak dia lakukan. “Kan saya nggak pernah benar-benar kenal sama kamu, walaupun Mbah Paino kenal dan masih ingat waktu saya sebut nama kamu di depannya, ” jelas Aldi waktu itu.
Balita di pangkuannya membuka mata sambil menggeliat manja.
“Bu,” panggilnya.
Marlina yang sedang membalas pesan di ponselnyanya tak menyadari anaknya terbangun, sedikit kaget mendengarnya dipanggil. “Oh, udah bangun. Mau minum air putih?” tanyanya.
Si Balita mengangguk sambil memandang mata ibunya, lalu perlahan bangun untuk duduk.
“Mana Om Aldi?”
Tepat saat Si Balita bertanya, seorang lelaki dan perempuan dengan bayi mungil di gendongan si perempuan masuk. Pemilik kedai dan istri-anaknya.

Pandangan mata Pak Paino terhadap tanaman kopi, sama seperti saat kamu memandang gelas kopimu sebelum meminumnya. Sama seperti saya memandang kamu dari balik mesin espresso. Kata orang, namanya cinta. Tapi toh ternyata kita mungkin tidak selalu bisa memiliki apa yang kita rasa kita cinta. Barang, hobi, manusia. Kopi. Kita bisa meletakkan rasa cinta pada mereka, mendalam, tapi tak pernah benar-benar tahu apakah Tuhan menggariskan kita bersama mereka. Tapi mari kita percaya, bahwa apa yang digariskan pada kita, pasti berdasar cinta, Tuhan ngasihnya. Seperti kopi tubruk yang sering kita minum setelah kelar masa resting. Rasanya sederhana, tegas, tanpa harus terlalu ribet memikirkan detail seduhan. Ya, karena kita sudah memilih tubruk, bukan pouring, press, atau drip. Jadi, mari bahagia dengan mencintai pilihan kita.
(Tulis Aldi, sebulan sebelum Marlina menikah dengan Hasyim)



*Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupStory diselenggarakan oleh Giordano dan nulisbuku.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar