Rabu, 28 September 2016

4 Tips Berkendara Aman di Lampung



Seorang teman saya pernah sempat berkelakar, “Sin mending lu tulis deh tips-tips aman berkendara di Lampung. Pasti guna banget. ” Saya ketawa. Opooo jal.


Lalu tiba-tiba jadi aja. Hahaha. Kalo kata teman saya yang lain -duta Lampung Tengah :p- waktu saya menunjukkan draft tulisan saya, “Lo pasti diketawain kalo yang baca tulisan lo ini orang Lampung asli. Cemen ini mah.” Yobeeen.

Jadi begini. Semenjak tinggal di Bandar Lampung, ada beberapa hal yang saya jadikan pedoman untuk “jaga diri” jika harus keluar, terutama kalau malam hari, motoran (karena saya punyanya motor saja) dan sendiri (ehm, karena….anu, itu…ah sudahlah). Ohya, bagi Anda pembaca yang kalau keluar malam tidak pernah sendirian dan biasa bermobil, boleh berhenti baca sampai paragraf ini lho ya.

Bukan bermaksud menciptakan rasa was-was terhadap kota yang saya tinggali selama setahunan terakhir, melainkan hanya ingin berbagi info remeh-temeh dari apa yang saya rasakan sebagai anak rantauan. Besar harapan saya agar nantinya, yang berencana merantau ke sini dan bertipe suka piknik/suka nggak betah di kontrakan, hidup dengan senang, ceria, dan aman juga di kota rantau. Kayak saya. Asek.

1.       Tempat sepi
Jangankan tempat sepi. Tempat cukup sepi, agak rame, dan rame pun, perlu dihafalkan titik koordinatnya. Saya bukan menyugesti diri menjadi penakut jalanan, tapi waspada toh perlu ya. Di tengah kota sekalipun. Di tengah kota sekalipun lho, ya, sekali lagi. Kalau Anda lagi berada di pinggiran kota, kecamatan, kampung kecamatan,kampung tua (sebutan untuk perkampungan yang ditinggali penduduk asli), ya beda lagi. Lho lalu harus bagaimana?
Tips dari saya : pelajari profil dan rekam daerah yang mau dikunjungi dari orang-orang yang anda kenal, walau itu hanya 1-2 orang. Jadikan info sekadarnya. Sisanya berdoa dan selalu bersugesti positif bahwa niat baik akan selalu dipertemukan dengan orang-orang baik. Aal is welll.

2.       Membawa tas
                Percakapan saya dan teman saya pada suatu malam.
“Lah siapa coba yang suruh pake tas kok aneh-aneh? Selempang-selempang gitu, belum lagi yang cuma digantungin di cantelan motor atau tas cantik yang disampirin di bahu gitu. Bawa tas tu ransel, udah titik, “ kata teman saya waktu saya cerita tentang maraknya penjambretan belakangan, yang sebagian besar korbannya perempuan. Saya langsung pasang muka nggak terima. Wah, gender ini.
“Lho, tas kan bagian dari gaya, Mas. Masa ga boleh variasi? Emang kalian, cowok, yang tasnya ransel mulu sepanjang hayat?” saya membantah keras.
“Ya sekarang mau cari aman apa mau cari gaya?”
Mingkem.

3.       Memarkir motor
Sebisa mungkin, parkir motor Anda dalam jarak pandang yang bisa ditengok setiap 10 menit sekali, jika bertamu di tempat orang dalam kondisi rumah dengan pagar terbuka dan pinggir jalan. Sekali lagi, bukan untuk memelihara rasa was-was ya. Santai, waspada tur rasah kemlinthi.
Kalau beli gorengan, soto, jus, atau telur sekilo, walau jarak antara penjual, Anda, dan motor Anda tidak lebih dari 5 meter, selalu usahakan stang motor dalam posisi terkunci dan kuncinya dicabut juga dari lubang kuncinya. Serius ini saya minimal sudah 3 kali dapat peringatan sejenis, sampe mikir “Segitu ngerinya kah 5 meter itu?”
Ya saya maklum sih ini kota ramai, bukan hutan sawit di Kalimantan yang kalau motor Anda mogok/habis bensin menjelang senja, tinggal di-jogrokke, pulang ke rumah/nyegat orang lewat, balik lagi esoknya ketika hari terang untuk ambil motor kembali, dan motor tetap utuh tanpa kekurangan suatu apapun. Utuh tetap mogok, tentunya.

4.       Siaga
Pengendara-pengendara terobosan, pengendara sepeda motor matic seukuran piyik (baca : bocah di bawah usia boleh berkendara motor), dan pengendara bertaraf baru belajar ngegas-ngerem-kadang-lupa-pasang-sen-kalau-mau-belok adalah salah tiga dari rekan-rekan yang akan kerap membersamai kita di jalanan. Jadi ya…gitu. Siaga aja.

Sebenarnya saya mau tambah 1 lagi tips tapi karena ingat di sebuah lagu tertuliskan bahwa balon yang jumlahnya ada 5 saja akhirnya pecah 1 dan hanya tinggal 4, maka cukuplah 4 di atas saya pegang erat-erat. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar