Minggu, 14 Februari 2016

The Boss' Talks



Apa yang lebih baik ketimbang bertemu orang-orang menyenangkan yang suka berbagi, menjalani hari-harinya secara rendah hati, dan tahu ke mana arah hidup mereka akan berjalan? Namanya Sueng dan Hasti, orang-orang yang ceritanya semalam bikin saya masuk kamar kosan sambil ngelamun. 

Sabtu, 13 Februari 2016

Langit Samping Jendela

Tulisan super pendek (pas 200 kata) dalam rangka iseng menanggapi tantangan salah satu penerbit di Jogja untuk menulis dengan tema "petir" tanpa ada kata-kata petir di dalamnya. Aneh sih jadinya, tapi biarlah. Akhirnya menulis fiksi lagiiiiii kyaaaa.

Seorang wanita datang ke kedai. Katanya dia mencari tempat duduk dimana ia bisa melihat langit dengan leluasa. Kukatakan padanya, kedai kami tidak punya ruang terbuka.
Ia menggeleng. Kata dia, tempat itu ada di kedai ini. Kulirik jendela, awan gelap menggantung . Kilatan kecil cahaya di sela-selanya menyisik disusul geraman kecil geluduk. Kutawarkan pada wanita itu untuk duduk di meja bar sementara kucarikan tempat yang dia maksud.
“Bolehkah?” tanya wanita itu. Aku tersenyum, dan mengangguk. Duduklah wanita itu di depan meja bar, memandang ke luar lewat jendela. Tak lama kemudian, hujan benar-benar turun.
“Mbak dengar suara barusan? Suara seperti pecahan piring tapi di langit.” Aku tersenyum kecil. “Pacar saya bilang benar ini tempatnya. Dimana saya bisa lihat langit luas dan juga dia.”

Belakangan baru kusadari, meja bar kami terletak 4 anak tangga lebih tinggi daripada lantai meja para tamu dengan jendela besar tanpa terali dan mengarah ke sawah belakang. Jendela ini hiburan kami para barista saat menarik nafas dalam sebelum mulai mengucurkan susu di atas espresso dan me-latte. Wanita ini, tunangan Rama, barista kami yang beberapa bulan lalu meninggal tertimpa pohon tumbang di tengah badai hebat dalam perjalanan menuju bandara. Kata Rama sore itu, “Pacarku dateng. Aku jemput dia dulu ya.”

Senin, 08 Februari 2016

Cerita Ibu PKK - Pencicip Kopi Keliling (1)


Huft.
Rasanya Januari terlalu banyak perjalanan dadakan yang menguras energi. Oleh karena itu, di bulan Februari saya memilih untuk lebih banyak berdiam diri. Lalu atas nama kesenggangan waktu yang demikian banyak di akhir pekan panjang yang tanpa piknik ini, saya buka tulisan Februari dengan bercerita tentang ketidaksengajaan saya bertemu kumpulan orang hobi minum kopi di Lampung.

Sabtu, 07 November 2015

Bagaimana Jika Nanti....

Mbak, memangnya saya harus bisa Bahasa Inggris ya?

Seringnya, kekhawatiran selalu muncul di barisan paling depan. Jelas, karena yang muncul belakangan hanya penyesalan atau rasa jumawa berlebihan :p. Seperti sore itu, seorang teman kerja saya yang saat ini tengah giat belajar Bahasa Inggris, melontarkan pertanyaan di atas pada saya.

Rabu, 07 Oktober 2015

Piknik Dadakan ke Kiluan

In many times, I told you. It is not only a matter of "where", but "whom" you made a journey with.

Dilatarbelakangi oleh kesamaan nggak-mudik-idul Adha, dua orang teman (yang katanya kehabisan tiket mudik padahal sebenarnya kangen mau mengunjungi saya di Bandar Lampung :p) datang dari Jakarta, seorang yang mati gaya dari Tulang Bawang Barat, serta 4 orang yang berkutat di Bandar Lampung dengan pekerjaan masing-masing, secara ajaib dipertemukan dalam satu waktu dan sepakat piknik.

Sabtu, 12 September 2015

Oleh-Oleh dari Pahawang

Suatu malam di Pahawang. Photo by @priyankawibisono

Sejujurnya, saya agak ragu jalan-jalan alam macam ke laut ini karena kulit saya yang gampang gosong dan sulit kembali seperti semula (yang sebenarnya sudah masuk kategori “gelap” juga) membuat saya nggak terlalu percaya diri setiap kali habis pulang jalan-jalan. Tapi lalu saya terpacu oleh kuot Rinso “nggak ada noda ya nggak belajar”, yang memantapkan tekad saya untuk pergi #halah.

Sabtu, 22 Agustus 2015

Ultah Bapak yang Ke-Sekian

Di depan loket Stasiun Kiara Condong, Bandung, sekitar 15 tahun yang lalu.

“Sinta bisa sendiri kan? Nanti langsung cari kursi. Sampai Jogja nanti dijemput sama Ibu,” kata Bapak.

Ya, waktu berangkat dari Jogja ke Bandung, Sinta sudah dipesan sama Ibu kalau Sinta harus pulang sendiri ke Jogja setelah masa liburan di Bandung habis (cie liburan) karena Bapak capek kalau bolak-balik Jogja dan sudah harus masuk perkuliahan.