Rabu, 01 Mei 2013
Selasa, 09 April 2013
Diuji Nasrini
Terakhir kali saya diuji, saya berada di sebuah ruangan kecil dan
dihujani pertanyaan serta sanggahan mengenai isi skripsi oleh dosen penguji.
Lalu di sini, hampir setiap malam saya “diuji” oleh siswa sendiri. Namanya
Nasrini.
Siswi kelas 6 yang
kesehariannya lebih akrab dipanggil Neneng ini hampir tak pernah absen
berkunjung ke rumah saya. Bicaranya banyak sekali, hingga semua yang saya
lakukan dikomentarinya habis tanpa malu-malu.
“Bu, kok kamarnya berantakan
sekali?”
Atau, “Ibu jangan pakai baju
yang itu. Jelek betul dilihatnya. Ini pakai yang ini saja, lebih cantik pakai
baju yang ini. “
Atau, “Bu, kok rambutnya
dipotong? Pendek betul. Jelek. “
Atau begini. “Ibu sekarang
sudah hitam kulitnya, tinggal di desa, panas-panas, ndak makan enak seperti di
kota. Seperti yang di TV itu ya Bu, yang Jika aku Menjadi itu.”
Kadang buat saya agak risih, tapi akhirnya
saya cuma senyum saja sambil menghela nafas dan bersiul-siul sampai akhirnya
keluar komentar satu lagi (“Bu jangan bersiul malam-malam begini. Manggil setan
itu namanya”). Sebenarnya tidak aneh mendengar celetukan jujur anak-anak
seusianya. Tapi yang buat saya janggal adalah karena Neneng ketika di rumah
berbeda dengan Neneng di sekolah.
Neneng duduk di kelas 6 sekarang. Dengan anak-anak kelas
6, interaksi saya terbatas hanya mengajar Bahasa Inggris dan les matematika
seminggu sekali. Di sekolah, Neneng bukan tipe anak yang banya bicara dan teman
bermainnya pun terbatas. Ketika anak-anak lain bermain dan berteriak-teriak sesuka
hati, Neneng cenderung menjadi kikuk dan diam. Hingga pernah suatu hari ketika
sedang menunggu les,di kala anak-anak lain asyik main sepeda dan
berteriak-teriak di luar, dia mendatangi saya di kantor.
“Lho Neneng nda ikut main sama
teman-teman? Masih istirahat kok ini, ” tanya saya.
Neneng menggeleng. “Mau sama
Ibu saja, “ jawabnya.
“Hahaha. Kenapa malah main
sama Ibu? Kenapa ndak sama teman-teman saja?” tanya saya lagi.
“Saya malas bermain dengan
anak-anak itu, habis mereka selalu olok-olok saya. Kalau ibu kan enggak, “
jawabnya.
Lonceng sekolah seperti berbunyi
nyaring sekali di kepala saya. Seketika “ujian” mengenal Neneng mendadak
dihentikan sejenak.
Mohon sudah semua prasangka kamu buang
Satu kata darimu itu adalah ruang
Dimana kamu bisa makin muram ataupun girang
Tinggal kamu pilih yang mana, Sayang
Buat apa lelah kau
pikirkan
Ayo jalan dan kita
buat ruang nyaman
Agar aku dan kamu
tak lagi segan
Memugar mimpi, menyusun
balok-balok masa depan
Label:
anak,
libur14bulan,
paser,
rasa
Mengukur Perjalanan
Nilai itu bukan dari angka-angka di atas kertas. Nilai itu asalnya dari
hati.
Sebuah kuotasi
milik Bapak Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Gantong di dalam film Laskar Pelangi
itu menghentak saya. Tengah asyik menelusuri penggalan-penggalan dialog film
yang sempat saya simpan di salah satu folder komputer jinjing saya, di kalimat
itu mata saya terhenti. Lama.
Saya
rasanya harus menginjak pedal rem dalam-dalam sekaligus menarik rem tangan
untuk segera berhenti saat itu juga. Sebelum berlalu terlalu jauh dan sebelum
terlalu asyik merencanakan ini-itu, kembali saya diingatkan untuk melakukan hal
satu ini : refleksi. Setelah cukup lama berjalan, agaknya sudah waktunya untuk
beristirahat sambil berkompromi dengan diri sendiri. Tidak, tidak sedalam
filsuf saya bisa berpikir mendalam. Cukup berpikir ringan, tapi membuka semua
celah utnuk dimasuki dan dikoreksi.
Setiap
habis ulangan atau tugas, sebuah nilai akan terpampang rapi di bawah jawaban
terakhir sebagai cerminan dari pekerjaan murid saya pada kala itu. Biasanya,
saya memberikan pengurangan poin 2,5 per kesalahan untuk nilai maksimum 100. Kemudian
di samping nilai akan ada gambar orang mungil dengan ekspresi muka berbeda-beda
tergantung berapa nilainya, berikut balon kata-kata dengan kata penyemangat.
Kemudian anak-anak itu akan mengambil bukunya masing-masing dan membandingkan
dengan teman-temannya. Sudahkah tugas belajar itu selesai di situ dan diukur
ketika ulangan?
Nilai nyatanya
memang menjadi salah satu data terukur untuk mempertanggungjawabkan kinerja
mengajar guru di kelas. Tapi saya masih mencari tahu apakah nilai-nilai “yang
lain” juga sudah tertanam pada mereka, dan kalau sudah bisa diukur dengan cara
apa. Saya masih sibuk mencari-cari cara yang ternyata dengan berhenti sejenak
di tengah perjalanan panjang ini, saya disadarkan bahwa nilai “yang itu” tidak
dicari tapi dimunculkan. Jelas, karena asalnya dari hati, maka sepanjang saya sedang
tidak memberikan nilai angka di atas kertas, maka selama itulah nilai-nilai
yang berasal dari hati mencetak rapornya.
Dan sudah
sampai sejauh mana hatimu bekerja, Sin?
Perlahan
saya angkat pedal rem dan melepas rem tangan untuk memulai melaju lagi. Saya
belum tahu akan harus berhenti dimana lagi, tapi saya pasti akan lebih sering
berhenti untuk melihat apa saja yang sudah terlalui. Tidak apa-apa agak lebih
lama sampai tujuan, tapi saya yakin bahwa setiap pondasi jalan yang saya lalui
aman sehingga suatu hari anak-anak saya bisa melewatinya dengan lancar, bahkan
mengembangkannya menjadi lebih baik lagi. Karena sekali lagi, pondasi itu
hendaknya dibangun dari hati, bukan melulu dari tambah-kurang-bagi-kali.
MARI MENULIS CERITA PENDEK (sebuah ajakan bermain)
Konsep menulis bersama ini awalnya kepikiran dari novel berisi
kumpulan cerita pendek Djenar Maesa Ayu, “1 Perempuan 14 Laki-laki”. Bagi Anda
yang sudah pernah membaca seri Djenar yang ini pasti tau bahwa dalam setiap
cerpen di bukunya itu adalah hasil karya bersama dengan “seseorang yang lain”.
Unik, dua pikiran berbeda, dua profesi berbeda, dua budaya berbeda, dan dua-dua
yang berbeda lainnya melebur menjadi satu tulisan yang padu. Namun dalam
“sayembara” kali ini, tentu saja yang paling mencolok adalah dua usia yang
berbeda. Anak-anak murid saya, dan Anda. J
Berangkat dari situ, saya ingin ajak teman-teman untuk
menulis cerpen bersama, sekaligus berkomunikasi dengan para penulis cilik ini. Kalau
metode kirim surat dan kartu pos sudah kerap dilakukan, bagaimana dengan
kirim-kiriman cerpen? Mari kita cari tahu jawabannya.
Aturan menulis :
Mari kita buat yang sederhana saja ya.
1. Anak murid saya akan menuliskan paragraf awal
sebuah cerita yang mana cerita ini sifatnya unfinished
atau belum terselesaikan. Bagian
tengah hingga akhirnya, Anda yang bertugas meneruskan. Isi BEBAS, tapi tetap bergenre anak-anak
(halah emange lagu?) dan tidak mengandung SARA.
2. Panjang
paragraf yang boleh Anda tulis : BEBAS, ya sekitar 100-150 kata.
3.
Saya akan kirimkan cerita anak-anak yang masih
setengah jadi itu melalui email.
Selain cerita, di situ akan ada foto si anak serta biodata dia secara singkat.
Anda bisa berkenalan dengan para penulis cilik ini lewat situ.
4.
Pada
email balasan Anda, selain mengirim cerita balasan, kirimlah juga foto Anda
dan paragraf singkat yang berisi cerita tentang Anda serta kesan pesan Anda
buat partner menulis Anda. Mengenai foto, tidak harus melulu foto diri Anda.
Bisa saja Anda dengan latar tempat kerja Anda, Anda dan binatang peliharaan,
atau APAPUN yang mewakili Anda untuk dikenal lebih dekat oleh mereka.
5.
Cerita Anda dan anak murid akan diberi judul oleh anak murid partner Anda
disini, segera setelah dia membaca lanjutan cerita yang Anda tulis.
6.
Tulisan tersebut nantinya akan dibaca dan dinilai
oleh warga sekolah. Tiga tulisan yang terpilih akan ada rewardnya, Hehe
Jadi, alurnya :
Siswa (buat cerita awal+biodata+foto) à berikan ke PM (Pengajar
Muda, dalam hal ini saya) à
PM mengirimkan ke email Anda- à
Anda menulis ceritaà
kirim balik (beserta foto+pesan kesan) à
anak murid membaca ending dari ceritanyaa masing-masing dan memberikan judul
untuk cerita tersebut à
izin publish ya, kakak-kakak..
Ohya, ada juga yang
bertanya : apa pembelajaran yang bisa dipetik dari kegiatan ini?
Secara ringkas saya jawab
1.
Latihan menulis runtut dan logis (pengembangan
hardskill menulis buat anak murid)
2.
Apresiasi (karena mereka akan berinteraksi
dengan Anda melalui karya tulis buatan mereka sendiri)
3.
Membuka pandangan dan motivasi (dari cerita,
foto maupun pesan yang Anda tuliskan,
saya percaya akan meninggalkan kesan untuk mereka secara personal dan emosional.
Di situlah saya percaya saya tidak sedang berjuang sendiri untuk membuka
pikiran mereka) J
OK itu saja.
Kalau
Anda merasa selo dan tertarik menerima tantangan menulis cerpen “nanggung” ini,
langsung ya saya tunggu kesanggupan anda via wasap atw facebook atau twitter
beserta email kalian. 15 cerpen “nanggung” siap mampir di sela-sela inbox
kalian yang sibuk. J
Saya
akan kirimkan cerita dari partner menulis kalian via email segera dalam minggu
ini. Kami tunggu balasannya selambatnya 2 minggu kemudian yak. Terima kasih.
Salam
hangat dari anak-anak desa Maruat di kab paser, Kalimantan Timur.
Label:
anak,
libur14bulan,
paser,
tulis
Sabtu, 23 Februari 2013
Kado Buat Ibu
Kalau Himalaya punya
puncaknya yang tertinggi di Everest, maka rinduku pun punya puncaknya di bulan
ini. Melebihi apapun yang tengah berputar di kepalaku, inginku ucap satu :
Selamat ulang tahun, Ibu.
Tiga puluh tahun. Dan Sinta baru tiga bulan mencoba merasakannya.
Tapi dengan kondisi dan situasi yang Sinta yakin jauh lebih baik dari jaman
tiga bulan-nya Ibu dulu. Sinta tahu betapa Ibu pun mempertanyakan kenapa Sinta
memilih jalan yang ini, karena cukup bercakap dengan Ibu pun sebenarnya Sinta
sudah akan bisa tahu.
Menjadi guru. Bukan tentang rasanya menjadi, tapi tentang
rasanya melihat anak-anak ini wira-wiri. Menjadi guru. Bukan tentang lamanya
mengabdi, tapi tentang seberapa banyak bisa berbagi. Menjadi guru, (tentu saja)
bukan tentang gaji, tapi tentang memaknai fonem “mensyukuri”.
Ibu saya yang lugu dan apa adanya, yang tanpa sadar saya pun
tumbuh serupa tapi dengan tambahan bandel dan keras kepala di belakangnya. Ibu
saya yang sudah jarang masak menjelang saya dewasa tapi tetap rajin masak kalau
Lebaran. Ibu saya yang ngga punya fesbuk atau watsap atau twitter tapi
(katanya) selalu baca blog saya, how I
amaze how you remind me to update my blog frequently.
Selamat ulang tahun, Bu.
Maafkan anakmu yang bandel, serampangan, dan selalu menghindar
dari pertanyaan “mau menikah kapan?” ini
yang belum bisa kembali. No more words.
Only “Just for my mom” (Cuma Buat Ibuku) for you. Arti lagunya tanya mas
Duta atau mas Eross aja ya bu. Haha.
Love you, Bu. :))
22feb2013 –Sheila On
7 – Just for My Mom
Sometimes I feel my
heart so lonely but that's ok
No matter how my girl just left me, I just
don't care
Whenever the rain comes down and it's seems
there's no one to hold me
She's there for me, she's my mom
Just for my mom, I write this song
Just for my mom, I sing this song
Coz just my mom, can wipe my tears
Coz just my mom, can only here
Trap in a subway, can't remember the day but I
feel ok
Damped in damn situation, in every condition
with no conclusion
Whenever the rain comes down and it's seems
there's none to hold me
She's there for me, she's my mom
You may say I have noone, to cover me under
the sun
You only get it from your mom, Mom!
p.s : waktu itu ibu bilang mau tau bentuk sinta sekarang. Nih : tetap sehat dan tetap gendut. Haha
Kamis, 14 Februari 2013
Dia yang Sedang Membaca
Haris.
Empat hari menjelang ujian akhir semester ganjil kemarin,
tangan kirinya patah karena salto di dalam kelas saat jam istirahat. Sore
harinya sepulang sekolah saya menengoknya di rumah. Kata bapaknya, dia ingin
masuk sekolah keesokan harinya. Jelas saja mustahil. Dan dia waktu itu cuma diam saja sambil nonton tivi membiarkan lengan patahnya terkulai di sampingnya.
Hari ini, tangannya sudah hampir sembuh dan setiap saya sapa
dia kala berangkat dan pulang sekolah, dia selalu tersenyum lebar menyambutnya.
p.s : Gambar di atas diambil
pada minggu ke-2 masukan semester baru. Merupakan salah satu gambar favorit
saya selama tiga bulan ini karena...entahlah. Mungkin karena dia sedang membaca
dengan sungguh-sungguh. :)
Label:
anak,
bicara,
libur14bulan,
paser
Linda Linda Linda!!!
Karena twitter cuma
menyediakan 140 karakter, dan karena baca SMS panjang bikin pusing, maka tulisan
pendek rasa-rasanya lebih pas. Buat teman saya yang barusan menikah, Linda.
Pada hari itu, saya sama
sekali nggak menyangka bahwa kesamaan niat kami untuk masuk ke Unit Kegiatan
Mahasiswa (UKM) yang sama, SKM UGM Bulaksumur, ternyata mengantar kami jadi
lebih sering bertemu dalam kegiatan-kegiatan yang sama di kemudian harinya.
Mari kita ingat-ingat : tugas pembawa nampan ijazah kelulusan, jadi panitia
ECC, nonton konser Sheila On 7, bahkan sampai topik skripsi kita sama meski
kamu lulus lebih dulu daripada saya. Sadar atau tidak, ternyata banyak sekali
tali-tali yang menyambungkan empat tahun kita di masa mahasiswa, lho #tsaaah. Kalo ibaratnya kita ini
pengrajin kemoceng rafia, maka mungkin kemoceng kita mayoritas warna rafianya
sama. Halah.
Saya tidak tahu apakah kamu
menikmati semua proses itu seperti saya. Kadangpun, jujur, saya merasa bersalah
karena banyak menyeret kamu masuk ke tempat-tempat yang sebenarnya kamu ragu
masuki, tapi saya pengaruhi sampai betul terseret. Hahaha.. Kalau betul itu
sempat kejadian, saya minta maaf sekalian ya disini. Hehehe. Tapi di luar itu,
saya lebih berharap agar kamu membuat porsi irisan “menikmati” yang jauh lebih
besar daripada porsi untuk irisan yang lain.
Lalu datanglah hari ini, hari
ketika kamu memutuskan untuk menikah.
Well, Linda, tentu saja saya nggak akan tahu kemana kapalmu akan
berlayar. Tapi kamu sudah memilih nahkodamu sendiri, dan kapal sendiri untuk
berlayar. Menurut saya itu sangat hebat, di kala temanmu yang satu ini masih
terlalu senang menumpang kapal lewat, kamu sudah membidik kapal pribadimu sendiri.
Hahaaa.. Congratulation, anyway, buat
kamu dan suami berdua. Doaku, semoga kalian hidup dalam berkah yang luar biasa,
bahagia, dan baik-baik saja. Seperti lagu ini.
Pilih perahu tidaklah mudah
Kita tentu tak mau tenggelam
Perahu ini milik kita
Naiklah jangan pernah kau turun
Berlayarlah denganku bertumpulah di pundakku
Bersamaku engkau tak perlu ragu
Semuanya ‘kan baik saja
(Berlayar-nya SO7, buat Linda sama
Ginsa )
Cuma ini foto yang kupunya li.. :p
Langganan:
Postingan (Atom)




