Tampilkan postingan dengan label kopi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kopi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Januari 2017

Selamat Pagi, 2017!

Setelah semalam sukses merayakan tahun baru dengan riuh rendah pesta kembang api tidur, pagi yang malas pun datang bersama menyusupnya sinar matahari di sela-sela jendela kamar.  Terbangun pagi ini, saya ingat ada hal yang harus segera saya tulis sebelum benar-benar menguap karena lupa.

Minggu, 01 Mei 2016

Cerita Seduh : Arabika Kerinci di Kedai Anak Lanang





Reza
Kali ini cerita seduh datang dari Kedai Anak Lanang. Kedai baru yang terletak di pusat kota tapi melipir sedikit, suasananya serem-serem-syahdu, mengusung tagline : ngopi serasadi rumah sendiri. Haha sebenarnya ini tagline bikinan saya sih, tapi serius ini representatif sekali untuk kedai kopi ini. Bagaimana tidak?

Satu. Mereka menyewa sebuah rumah kuno berarsitektur Belanda dengan bagian belakang rumah yang masih dalam rekonstruksi. Pintu, jendela, dan kursi anyam yang mereka pilih untuk interior kedai sungguh sangat “rumahan”. Ada sebuah meja bar panjang dari kayu sebagai tempat untuk melakukan aktivitas seduh kopi di dalam rumah, dan sebuah rak buku anyam menempel di salah satu sudut rumah. Pintunya bercat hijau pastel, menambah ke-old school-an tempat ini. Haha.

Sabtu, 30 April 2016

Cerita Seduh : Red Bourbon


Saya lagi punya project kecil untuk mencatat setiap kopi yang diseduhkan buat saya. Namanya Brewing Story Project atau bahasa gampangnya cerita seduh. Dalam cerita super singkat, saya pingin menampilkan profil seduhan yang dikasih ke saya secara detil, berikut penyeduhnya, notes yang timbul, dan foto. Belum selengkap itu sih, tapi ini lagi usaha. Dimulai dari kopi.


Kenapa saya melakukan ini? Sederhana aja, sambil belajar, sembari menghargai setiap seduhan dan karya orang lain. Saya buka pakai cerita pertama ya.

Minggu, 13 Maret 2016

Kejutan Way Ratai (2)

[lanjutan]

fiuh
Ini baru cerita menuju kebun kopi. Belum kisah jalan pulangnya. Jadi ketika di atas gunung, hujan turun deras sekali. Sudah terbayang di benak saya bagaimana licinnya jalan pulang nanti. Dan benar saja. Beberapa korban terpeleset unjuk gigi, saya sendiri sempat terjerembab sekali bertumpu lutut, sekali terjun bebas sampai harus menggapai rumput liar untuk menghentikan plesetan, dan beberapa kali harus lari-lari karena ketidakmampuan mengendalikan rem kaki lalu berakhir dengan melompat ke rerumputan terdekat untuk menghentikan laju. Sebagian besar dilakukan dengan kemayu sambil bawa payung ungu. Haha. Untuk jalan pulang ini, saya hanya sekali naik motor selama 5 menit terakhir. Prestasi!

Kejutan Way Ratai (1)

Berawal dari perkenalan kami di sebuah kedai kopi, Hasti yang membawa bendera Coffee Trip dalam rantai bisnisnya ini membuat saya penasaran. Saya sendiri bukan maniak kopi, tapi saya suka sekali kopi (dan coklat #tetep). Lalu ada tawaran piknik ke kebun kopi? Wuah, orang dengan tingkat penasaran setinggi saya tentu saja nggak bisa tinggal diam. Akhirnya, begitu ada kesempatan, mintalah saya sama Hasti untuk diikutkan dalam trip, terserah trip siapapun, sebagai peserta. Rombongan yang bersama saya kemarin kebetulan adalah guru-guru TK dan SD di sekolah Tunas Mekar Indonesia, Bandar Lampung.
Ada beberapa kejutan di piknik kopi kali ini. Karena panjang, saya pecah jadi 2 bagian ya.