Kamis, 14 Februari 2013

Untuk Aksay


Jangan menangis, Sayang
Karena pilumu buatku tersentak
Jangan menangis, Sayang
Karena sedih dalam air matamu
Pasti tak mampu kuganti dengan bahagia yang lebih


Satu lagi bocah menangis saat belajar dengan saya. Prestasi gemilang,  karena sepertinya saya hobi sekali buat anak orang menangis. Apa mungkin itu passion saya? Ah pret.

Tidak ada siapapun yang suka diperintah atau diminta melakukan apa yang tidak ingin dilakukan. Otak akan sangat resisten terhadap hal tersebut. Khawatirnya, ketika tiba di puncak resistensi tersebut, maka rasa kesal juga ikut naik yang berakibat pada tangisan. Sedikit demi sedikit, saya coba ubah pola kebiasaan itu dengan cara lain, salah satunya dengan kata“ayo kita coba dulu”. Kata “kita” ternyata punya efek cukup hebat dalam hal ini. Dengan kata ganti tersebut, seolah-olah orang yang didaulat sebagai objek yang diminta tidak akan merasa harus berjalan sendiri, setidaknya untuk beberapa waktu pertama.

Aksay, kelas 3, membuat saya menyadarinya. Ingat saya tentang anak ini adalah ketika guru wali kelasnya mengakatan bahwa Aksay adalah salah satu anak yang dicap “malas berpikir”. Aksay ini tinggal tak jauh dari rumah host saya. Kerap kali saya bertemu orangtuanya, dan dia pun cukup rajin datang untuk main dan belajar di rumah. Dari yang saya perhatikan, anak ini tak terbiasa diberi tantangan lebih. Yang dia suka hanya tiga : berlari, menggambar, dan perkalian satu angka (perkalian dari  angka 1-9). Dan dia hanya melakukan apa yang dia suka, selesai. Sekali saya coba ajari perkalian yang setingkat lebih maju dan memberikan latihan, dia langsung diam dan menangis. Tuhan, apa salah sayaaa?? Barulah saya dekati dia yang mematung sambil menyembunyikan air matanya yang mengalir jatuh sambil berucap :”Tidak apa, Say. Ayo, kita lajar bersama-sama. “

Lama dia tak bergerak. Saya tinggalkan dia untuk beralih mengurusi yang lain. Ketika menoleh lagi beberapa saat kemudian, Aksay masih juga menangis. Saya diamkan. Namun seiring waktu berlalu, dengan sendirinya dia perlahan kembali ke tengah teman-temannya, mengerjakan kembali tugasnya. Saya perhatikan tiap tingkahnya saat mewarnai pekerjaannya. Rasanya seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya, dia melakukan tugasnya dengan baik dan gembira, menanyakan beberapa hal yang perlu dilakukan. Heran saya dalam hati, cepat sekali dia pulih dari tangisnya. What a kid.


Melihatnya bekerja lebih mandiri dengan sesekali melongok ke teman di sampingnya buat saya tertawa-tawa kecil sepanjang sisa sore itu. Mungkin bukan karena Aksay “malas berpikir”, melainkan kebutuhan akan sebuah ruang dan kelegaan untuk “melakukan sesuatu”. Dan tentu saja : pembiasaan tanpa paksaan.


Mari Menulis Mimpi

"Kala kulihat layang-layang dapat terbang tinggi namun sesekali goyah dan dia jatuh lagi...." Bermimpi - Base Jam


Tempo hari saat mengisi pelajaran IPA di kelas 6, saya menyisipkan kegiatan menulis mimpi. Berbekal kertas lipat warna-warni, selotip kertas, dan kertas plano selembar, jadilah potongan-potongan mimpi tersebut. Terkejutnya saya adalah bahwa ternyata di usia mereka ini, mimpi itu bukan lagi semata ingin jadi dokter, supir truk, polisi, atau pengemudi jimbo (sejenis traktor pengeruk tanah yang oleh masyarakat setempat dipatenkan nama panggilannya sesuai nama perusahaan pembuatnya, JIMBO). Those dreams are silently created on real paths in their mind.

Ada empat hal yang saya minta mereka tulis di atas kertas lipat. Satu, tentang keinginan atau cita-cita mereka. Dua, tentang usaha mereka mencapainya. Tiga, tentang pelajaran yang paling disukai. Empat, tentang pelajaran yang paling dibenci TAPI ingin bisa menguasai. Kira-kira beginilah jadinya.


 Kalau tak punya mimpi, orang-orang seperti kita ini Cuma akan mati, Boy (Arai – Sang Pemimpi)


Kelas 6, polos dan bergairah. Beberapa yang menarik, here are some of them :


Saya ingin menjadi montir tapi orangtua saya melarang saya disuruh menjadi guru saya tidak bisa menjadi saya harus menjadi guru (Ardiyanto)



Keinginan saya = ingin menjadi Pengajar Muda seperti Ibu Vivin dan Ibu Sinta. Saya ingin meneruskan sekolah saya sampai kuliah. Setelah lulus kuliah saya mau giat belajar menjadi Pengajar Muda. Agar saya bisa menjadi Pengajar Muda saya harus giat dan Rajin belajar (Selviana) 



Keinginan saya : menjadi penghapal Al Quran 30 juz karena saya ingin memasukkan kedua orangtua saya masuk syurga beserta adik, tante, om, nenek, kakek, dan keluarga saya semuanya. Itulah keinginan saya (Hafidzah)




“Keinginan saya adalah ingin menjadi atlit yang sukses” (M. Jaiz)


Tiba di bagian “pelajaran yang paling tidak disuka”, tersebutlah disana Bahasa Inggris sebagai nominasi terbaiknya. Ardiyanto tetap menjadi juara saya dalam hal penyampaian opini pribadi.


Pelajaran Bahasa Inggris tapi saya ingin bisa. Sapa tau ada turis atau buleee datang kesini saya akan tanya how are you tokke tokke you nau (Ardiyanto)


Oh man. Sesungguhnya saya tidak begitu mengerti dan tidak kasih lajar “tokke-tokke you nau”. Tapi apa boleh buat, kadang-kadang imajinasi bisa jauh lebih liar daripada babi hutan.

 Dan satu testimoni lain yang paling membuat kening saya berkerut adalah dari Rahman.

Saya tidak suka pelajaran Bahasa Inggris karena bahasa munafik (Rahman)


Karena sangat penasaran, tanyalah saya pada si penulisnya sendiri. Ternyata pernyataan tersebut dia peroleh dari mulut salah seorang guru. Ujarnya, “ Karena bahasa inggris itu tulisan sama ucapannya berbeda, Bu. Misalnya lima. Tulisannya f-i-v-e tapi bacanya faif bukan fife”. Saya hanya ketawa saja dengar jawaban Rahman yang demikian.  Luar biasa, karena sungguh apa yang dikatakan guru mereka adalah pemahaman mereka, dan mereka mengadopsinya secara alamiah, walau kadang meleset karena dijelaskan secara utuh.

Mungkin sekali mimpi-mimpi dan kesukaan mereka ini berubah nantinya, bukan? Tapi sembari mereka bertumbuh, saya merasa beruntung bisa melihat sebagian prosesnya. 

Minggu, 03 Februari 2013

Janji Ibu Guru


Adalah Risma, gadis Bugis chubby yang tinggal di rumah sebelah, yang menanyai saya ketika saya sedang berkunjung melayat neneknya yang baru saja meninggal. “Kapan kita jalan-jalan lagi, Bu?” Lagi, dia maksudkan karena sudah pernah kami jalan-jalan dengan sepeda waktu kapan hari. Tujuan jalan-jalan kami waktu itu adalah empang (semacam petak kolam atau tambak) di dusun saya, Urip. Berawal dari rasa penasaran saya terhadap ujung dusun yang misterius, berakhir dengan tenggelamnya kaki saya hingga selutut ke dalam lumpur empang sisa hujan semalam sebelumnya.
Pertanyaan Risma membuat saya terdiam beberapa detik. Memang sudah agak lama saya tidak jalan dengan anak-anak, dikarenakan ada liburan antar semester dan kejadian ini itu yang mengharuskan saya tak bisa pulang ke desa cukup lama. Dan setelah memastikan bahwa hari Minggu terdekat masih bebas agenda, segera saya buat kesepakatan untuk jalan di hari tersebut. “Jam 8 saja ya, biar ndak terlalu panas, “ ujar saya kala itu.
Hari Minggu yang dimaksud pun tiba. Jam setengah 7 pagi, ketika saya sudah akan bersiap-siap jalan-jalan, Nanda, adik angkat saya mengajak saya untuk cuci baju di sumur bor. Hari itu sudah sekitar 10 hari hujan tak turun sehingga air hujan yang biasanya digunakan sebagai sumber air bersih untuk mandi, cuci baju, hingga masak, ludes. Akibatnya, sumber air untuk mandi dan cuci baju bergeser ke air sumur pada hari ke-7. Air sumur ini adalah air yang disimpan di galian tanah berbentuk persegi panjang menyerupai kolam, asalnya dari tanah. Rasa air sumur yang sedikit asin dan “berlogam” membuat air ini tidak bisa dibuat memasak. Namun lagi-lagi, karena sudah lamanya tak turun hujan, persediaan air di situ pun menipis sehingga sumur bor lah alternatif ke-3 nya.
Sumur bor ini letaknya sekitar 10 menit berjalan kaki dari rumah saya, melewati kebun belakang rumah yang penuh pohon kelapa dengan jalur berupa jalan setapak bernyamuk. Jadilah, setelah menimbang-nimbang dan melirik tumpukan cucian di sudut kamar, saya mengiyakan ajakan Nanda dengan perkiraan jam setengah 9 kelar dan bisa memenuhi janji jalan-jalan. Lekas saya ambil baju-baju kotor dan saya rendam selama 30-45 menit. Kemudian, baju hasil rendaman yang sudah diperas dimasukkan ke dalam kantong besar dan diikat di boncengan sepeda. Jam sudah menunjukkan pukul 8 kurang seperempat ketika saya dan Nanda berangkat.
Ternyata mencuci butuh lebih dari sekedar membilas dan menggosok. Ya mengantri, ya naik turun badan, ya menunggu. Dan karena cucian Nanda sangat banyak, akhirnya kami baru bisa pulang sekitar sejam kemudian. Di tengah jalan pulang, kami disusul oleh dua makhluk kecil berbaju rapi yang mengayuh sepeda. Ternyata mereka sudah menunggu di rumah sejak jam 8, dan karena saya tidak kunjung pulang maka mereka susul saya. Risma dan Doni.
Jalan-jalan yang saya janjikan waktu itu adalah menggunakan sepeda dengan asumsi bahwa Lola sudah diperbaiki. Namun karena si Lola rantainya putus di tengah perjalanan pulang dari mencuci baju di sumur bor tadi, saya pun membatalkan agenda jalan-jalan (ohya, Lola ini adalah nama sepeda saya). Tentu saja usulan ini langsung ditolak mentah-mentah oleh Risma. Segera saja dia menawarkan untuk jalan kaki saja dan mengabarkan bahwa rute jalan yang akan ditempuh tidak terlalu jauh. Doni kecil pun hanya menurut . Saya tersenyum saja dengarnya. Saya tinggalkan mereka untuk menjemur baju, mandi dan sebagainya sampai sejam kemudian baru selesai dengan dugaan mereka akan capek menunggu dan mengurungkan niat jalan-jalan.
Namun apa yang terjadi? Mereka berdua masih nongkrong dengan bahagia di depan TV, menunggu saya selesai mandi dan ganti baju. Akhirnya, atas nama kemanusiaan, saya pun “menjadikan” agenda jalan-jalan hari itu. Walau jam sudah menunjukkan waktu tak layak jalan karena sudah terlampau siang, kami tetap jalan. Sinar matahari terik, ketika dengan lugu Doni berkata sebelum berangkat, “Ibu lama sekali kami tunggu”. Oh God.
Kami memilih untuk jalan ke dusun sebelah lewat jalan tembus hutan. Di tengah jalan, seorang anak ikut bergabung, Mawar namanya. Saya di belakang menyaksikan mereka bercakap banyak sekali. Sesekali mereka tanyai saya, “Ibu suka buah jambu kah? Suka buah belimbing? Suka buah ceri (ceri yang dimaksud ini dikenal luas dengan sebutan kersen atau talok dalam Bahasa Jawa)? Tapi cerinya habis. Ibu suka sirsak? Bu nanti kita beli es ya. Bu istirahat di bawah pohon situ saja naah”, dan seterusnya. Kami berjalan di tengah teriknya matahari yang mulai naik tepat di atas kepala, latihan memotret, beli es, dan melakuan razia ceri di rumah tukang jualan es. Sederhana, tapi saya senang bisa terlaksana. Dalam hati saya berjanji, walau apapun yang terjadi, sebuah janji haram hukumnya untuk diingkari. Menunda janji mungkin bisa saja, tapi tak terpenuhinya janji akan lain lagi persoalannya.
Janji itu seperti matahari ya ternyata. Mengikuti di atas kepala kita dari pagi hingga senja, tak hilang dengan alasan apapun kecuali karena kodratnya berakhir saat waktunya tiba. Kalau janji, berakhir kalau memang kedua pihak (si pemberi janji dan yang diberi janji) lupa.
“Bu, kapan kita ke Muara (desa sebelah yang letaknya sekitar 20 menit naik motor, -Pen)? Katanya kemarin setelah terima rapot, “ celetuk Mawar di tengah jalan pulang.
Saya menatap Mawar sambil tersenyum. “Hmm..iya, terima rapor kenaikan kelas, kan?”


                                                                 Memetik ceri



 Membugkus hasil petikan sendiri


                                                  Tiga tokoh utama

Minggu, 06 Januari 2013

Empat Januari

Setiap tanggal ini tiba saya selalu diingatkan untuk mengingat-ingat sesuatu. Saya memang tidak pernah berusaha melupakannya karena percuma. Dua hal yang bisa membantu saya lupa adalah hanya kalau saya tiba-tiba amnesia atau terlahir kembali. 

Kala itu waktu SMP kelas satu, kamu ditunjuk menjadi ketua kelas dalam kelasku. Menurutku kamu cengengesan, tapi entah kenapa semuanya teryakinkan bahwa kelas kita akan aman jika ketua kelasnya itu kamu. Aku yang selama di SD langganan jadi ketua kelas sempat kesal juga karena harus kalah penunjukan. Sama kamu, lagi, kalahnya. Haha. Meski begitu, tahukah kamu bahwa semester itu adalah yang terbaik karena kamu ajarkan aku bahwa jadi ketua kelas tidak harus galak?

Kala itu, ulang tahun sekolah kita dan tiap kelas akan melakukan pawai di sore hari. Kita sekelas semua sepakat untuk berpakaian ala gembel dan bernyanyilah kita ramai-ramai dengan lagunya Oppie Andaresta “andai a...a...a...a...aku jadi orang kaya”. Dan tahukah kamu bahwa tidak ada yang lebih mengherankan selain kamu yang tak lepas dari tawa sepanjang jalan?

Kala itu, ketika kita berangkat untuk lomba musik ansambel beramai-ramai. Seragam putih-putih dengan rompi bunga-bunga (eh atau batik ya?) dan dasi kita pakainya. Demam panggung sudah aku saat itu, terlebih karena takut salah not saat menyanyi. Bersamaan dengan itu, saat sedang bengong melihat giliran sekolah lain tampil tiba-tiba kamu datang dan minta tolong padaku untuk merapikan dasimu. Tahukah kamu bahwa setengah mati aku betulkan dasimu dengan tanganku yang tiba-tiba kena tremor?

Kala itu, ketika kita tidak sekelas lagi, aku sudah hampir sukses lupa punya teman kamu. Tapi terkadang aku ingin jajan juga di kantin yang berarti mengharuskanku lewati kelasmu. Tak terpikir olehku apapun hingga aku tahu bahwa seringnya kamu duduk di bangku paling belakang di dekat jendela yang dekat dengan koridor tempat lalu-lalang orang. Dan mulai saat itu, tahukah kamu bahwa aku selalu ingin menyapa kamu setiap lewat situ saat kamu masih ada kelas tapi aku tak pernah berani?

Kala itu, kita sudah kelas tiga SMP. Kamu seringnya duduk di tempat itu, tepat di belakang kursiku. Hingga suatu hari, karena teman-teman mengolok-olok kita, kamu marah dan menghindar selama beberapa hari dengan tidak duduk di kursi itu dan memalingkan wajah jauh-jauh dariku. Tahukah kamu, itu adalah pertama kalinya aku mengerti kalau patah hati itu sakit? Hahaha.

Kala itu, aku tahu pasti tanganmu menunjuk ke atas dengan mantap saat seorang guru bertanya ke seluruh siswa dalam kelas itu mengenai SMA yang ingin dituju setelah lulus : sebuah SMA berpredikat teladan di kota kita. Sedih juga aku melihatnya karena aku tidak pernah berkeinginan untuk masuk sekolah itu. Satu, jauh dari rumahku. Dua, terlalu teladan buatku. Tapi rasanya aman saat itu, karena tahu bahwa aku tidak akan susah-susah kesal menahan diri untuk tidak nangis dan marah kalau kamu sudah mulai menghindari komunikasi denganku. Tapi tahukah kamu betapa kagetnya aku ketika kita bertemu di sebuah SMA yang sama dan kamu juga mendaftar di sana, sekolah yang tidak pernah kamu janjikan dengan acungan jarimu?

Kamu mungkin tidak akan pernah membaca tulisan ini. Ya, karena saya juga terlalu malu untuk katakan sama kamu apa adanya, walau jika kamu ingat saya pernah katakan langsung sama kamu dan langsung menghilang ditelan asap bus kota. But as we grow old, cerita ini rasanya jadi semacam joke saja ya, bukan lagi rentetan curhat masam di atas kertas diary yang wangi. Terima kasih ya, karena kamu sudah menjadi satu-satunya alasan kenapa saya sempat tertarik baca ramalan zodiak di majalah-majalah atau siaran TV remaja.

Selamat ulang tahun.

Sabtu, 05 Januari 2013

About a Family


Tinggal bersama keluarga Jawa mulanya sedikit buat saya kecewa, karena harapan saya awalnya ingin belajar bahasa lain ketika tiba di tanah Borneo. Tapi perlahan selama dua bulan saya menyadari bahwa rasa kecewa itu sebenarnya hanya excuse murahan saja yang justru membuat saya jadi tidak maju. Mengapa begitu? Di penghujung tahun 2012 ini ternyata baru saya diberitahu jawabannya.

Saya tinggal di tengah perkampungan kelapa. Ya kelapa sawit, ya kelapa hijau. Kalau sawit dibuat minyak, kalau kelapa hijau dibuat gula dari hasil sadapan niranya. Di perkampungan saya, Maruat khususnya Dusun Urip, hidup suku Jawa dan Bugis sebagai suku mayoritasnya, dengan label transmigran yang datang semenjak jaman pemerintahan bos besar Soeharto. Keluarga host saya adalah murni orang Banyuwangi. Bukan keluarga muda, tapi bukan juga keluarga yang sudah melepaskan anaknya kemana-mana.

Bapak adalah pria berusia awal 40 yang acuh. Pribadi yang hangat memang tidak melekat dalam dirinya, tapi beliau sangat penyayang. Kalau bertemu Bapak, jangan kaget dengan sikapnya yang agak kaku dan cenderung dingin tak banyak bicara. Meski begitu, Bapak adalah orang yang sangat perhatian dan nggak tegaan. Well, tiap orang betul memang punya caranya sendiri untuk menunjukkan sebenar-benar dirinya, terlebih caranya memberikan perhatian terhadap sesuatu. Itu Bapakku.

Ibu, perempuan di awal 30an yang cekatan dan ramah. Hobi karaoke, suaranya bagus dan cengkoknya mendekati sempurna. Beliau merdu sekali jika menyanyikan lagu-lagu jawa timuran, dan kebaikan hatinya cukup menyelamatkan saya dalam kebimbangan ikut karaokean dengan menyodorkan Nike Ardila sebagai salah satu list lagu karaoke favoritnya. Yeah! She is absolutely a good learner, showed by her enthusiasm when i play some videos at night for her children, discuss about anything, and teach the children every noon.

Anak pertama mereka bernama Nanda, dan dia mandiri sekali. Duduk di kelas 1 SMP, rajin cuci motor, dan suka dengan musik yang saya sendiri nggak tahu musik apa yang sedang dia perdengarkan. Untuk anak seusianya, menurut saya dia sangat keren, mengingat hidup saya dulu di usia yang sama adalah untuk bersekolah dengan baik (saja). Tapi satu kelemahan dia adalah tidak terbiasa jalan jauh dan bau ikan. Sekali lagi, lingkungan rumahmu akan menentukan KAMU. Pernah sekali saya ajak ke desa nelayan tempat salah satu teman saya mengajar, dan dalam waktu singkat dia langsung mabok ikan asin. Hahaha. She’s cute, and will become my blessed roommate along this year. Rock On!!

Si bungsu Doni tentu saja menjadi yang paling disayang di rumah. Beberapa hal yang paling menarik perhatian dari bungsu satu ini adalah warna rambutnya dan model potongan rambutnya. Dengan rambut sekuning jagung saat saya pertama kali bertemu dengannya, sebagian rambut di atas tengkuknya dibiarkan gondrong sementara bagian lagin dicepak. Bertemu pertama malu-malu, lama-lama dia tak bisa lepas dari sampingmu. Doni, adek kecilku.

Tinggal lama di Jawa tidak menjamin tahu betul akan budaya dan adat istiadatnya. Tidak berbatas keluarga sendiri juga, bukan, untuk belajar berbudaya? We are exactly created in a same way, but also put on each, makes a thing called differences. All we need to do is just learn how to learn lots and adapt it well to ourselves.

Rabu, 26 Desember 2012

Indekos Baru


Selamat datang di rumah baru!
Empat belas bulan ke depan saya punya rumah tinggal baru. Sebuah keluarga kecil di tengah perkampungan Jawa-Bugis yang cukup ramai, dengan dua orang anak, satu laki dan satu perempuan. Perjalanan menuju rumah tinggal baru dilakukan pada hari ke-4 saya di Kalimantan setelah tiga hari awal dibuka dengan acara pisah-sambut (pisahan dengan Pengajar Muda/PM lama dan penyambutan PM baru) di ibukota kabupaten Paser, Tanah Grogot.
Kiranya tak perlu terlalu panjang tentang deskripsi perjalanan ya. Tapi sekilas, saya mau coba gambarkan rekam transprtasi yang bisa ditempuh jikalau Anda kebetulan tersesat di Balikpapan dan seberangannya. Pendaratan pertama adalah di Bandara Sepinggan, Balikpapan. Ingat, bahwa Balikpapan bukan ibukota Kalimantan Timur! Saya entah kenapa masih menyangka bahwa Balikpapan adalah ibukota provinsi Kaltim hingga saat naik angkot dari bandara menuju dermaga penyeberangan. Parah ya. Tapi yasudah, yang penting kan sudah sadar toh? Hehe.
Tadi dari bandara, naik angkot dulu kita, men, ke dermaga penyeberangan Balikpapan-Penajam Pasir Utara atau kerap orang sebut Penajam saja. Mengekor pada teman-teman PM 3, kami (PM 5) dinaikkan ke kapal yang mereka sebut dengan nama perusahaan penyedia jasa angkutan kapal tersebut. Belakangan saya baru tahu bahwa perusahaan penyedia jasa ini cukup tersohor di daerah Paser. Menyeberang Cuma butuh waktu 30 menit. Belum lepas penat beristirahat di kapal, lanjut lagi dengan perjalanan darat nan panjang selama 3-4 jam dari Penajam menuju Tanah Grogot.

Seperti yang sudah disinggung di atas, hari ke-4 baru dimulailah perjalanan menuju rumah tinggal permanen kami para PM 5 selama bertugas. Lokasi penempatan saya ada di Kecamatan Longkali, yang sebenarnya sudah dilewati saat pertama kali datang. Jadi kalau ditarik garis lurus dari dermaga Penajam ke Grogot (kata “Tanah” sering dihilangkan untuk mempersingkat waktu bicara, sama seperti “Tanjung Priok” yang lebih sering disebut “Priok” saja ketimbang disebut lengkap), maka Longkali adalah titik lokasi pertama penempatan. Garis lurus tersebut adalah jalan raya yang menurut saya mirip jalanan Pantura tapi versi imut dikit dan lebih bergelombang, dan patokan menuju desa penempatan PM di Longkali adalah sebuah gang yang disebut Gang Ali. Konon katanya dipilih nama “Ali” karena di dekat situ ada rumah besar milik Haji Ali, rumah yang semula saya sangka masjid karena dibangun dengan arsitetur agak ke-timurtengah-an mengingatkan saya dengan istana dalam cerita 1001 malam.

Dari gang Ali, lumrahnya bagi yang tidak punya motor adalah harus ngojek. Tak tanggung-tanggung, biaya satu kali ngojek dari gang Ali ke rumah hostfam saya ditembak sebesar 35ribu rupiah. Ada bagian jalanan yang sudah aspal, ada yang berbatu-batu, ada yang tanah lembek dan licin. Pemandangan kanan-kiri sawah seperti berasa di Jawa, serta alang-alang tinggi ketika melewati Desa Sarang Alang, desa tetangga yang kaya akan alang-alang.  

Dan taraaaa!! 30 menit dari Gang Ali, sampailah di desa saya, Desa Maruat namanya. Sebelum mencapai rumah hostfam, terlebih dulu saya dipertemukan dengan sekolah tempat saya mengajar, SDN 019 Longkali. Ada lapangan rumput yang becek dengan rumput liar setinggi lutut di beberapa tempat, cat hijau pudar yang bertuliskan nama sekolah, dan tembok-tembok polos yang rasanya ingin saya gambari suatu saat nanti.
Saya kini menjadi anggota keluarga ke-5. Setelah Bapak, Ibu, Nanda, dan Doni, turutlah saya dalam daftar transmigran Jawa yang berijin tinggal selama 14 bulan di Kalimantan Timur. Rock onnn!!!!

-ditulis tanpa mendengarkan musik apapun selain musik cecak dan suara fan laptop-

Keliru


Sudah pernah membuat anak orang menangis tersedu-sedu? Berapa kali?

Saya sudah pernah, dan berkali-kali. Haha. Salah satu kelemahan saya di depan anak-anak adalah meihat mereka menangis, meskipun seringnya saya yang buat mereka begitu. Rasanya seperti disalahkan oleh dunia ketika melihat mereka murung dan mulai menangis. Apa yang telah salah saya lakukan dan ucapkan? Mulai dari membimbing untuk melakukan sesuatu, mengerjakan latihan, hingga maju tampil ke depan entah menjawab soal atau sekedar bernyanyi sudah pernah saya coba. Niat awalnya benar-benar suci lho ini, yaitu ingin agar anak-anak lebih berani. Ohya, tipikal anak-anak saya mayoritas adalah anak-anak yang “baik di sekolah”. Nakal dan hiperaktif sih iya pasti, tapi bukan itu masalah terbesarnya. Barulah ketika menangani sendiri anak-anak ini, pertanyaan macam “seperti apa mereka di rumah?” mulai muncul ke permukaan. Makin lama, pertanyaan ini makin tebal, mengeras, dan ukuran font-nya membesar, trus berubah warna makin lama makin pekat. Halah.

Berkaca dari diri sendiri terlebih dahulu, saya melihat bahwa cara didikan orangtua di rumah ternyata terbukti menyeleksi sikap-sikap tertentu yang kita gunakan di masa depan. Selebihnya, alam dan lingkungan yang membentuk pribadi kita. Orangtua saya tidak pernah memukul, saya tidak tinggal di lingkungan orang yang suka main tangan, maka saya pun tak terbiasa menggerakkan tangan untuk ‘menegur” orang lain. Orangtua saya tidak marah dengan kata-kata kotor, lingkungan saya kadang sangat “kotor” kadang “bersih”, maka saya memilah-milah. Tentu saja lebih banyak terseret lingkungan pada akhirnya. Hahaha!! :p. Orangtua saya selalu mengerjakan segala sesuatunya dengan tidak bergantung pada harapan untuk dibantu orang lain, lingkungan saya kadang sangat “memanjakan”, maka saya pun tumbuh menjadi orang yang suka kelayapan (pergi jalan-jalan)  sendiri.

Terlalu seringnya anak-anak minta tugasnya untuk dipentan (huruf “e” dibaca seperti pada kata “desa”, yang artinya diberi nilai) membuat mereka mengukur kemampuan melakukan sesuatu berdasarkan benar-salah. Ya, saya sendiri juga seringkali memberikan nilai angka pada mereka di beberapa kesempatan. Terkadang ada tugas-tugas kecil yang tidak untuk saya ambil nilainya, tidak saya beri nilai, melainkan hanya diberi semacam tanda penyemangat. Saya bilang bahwa penanda-penanda tersebut memiliki rentang nilai sendiri-sendiri. Kalau di Hogwarts punya sistem penilaian O untuk Outstanding hingga T untuk Troll, eh bukan, P untuk Poor, maka secara sederhana saya kenalkan anak-anak disini dengan Excellent hingga Keep Spirit (sering dibaca oleh anak-anak dengan “escelekete” dan “kip sprit”. Hadeh).

Inilah kemudian yang sempat jadi bumerang untuk saya sendiri. Suatu ketika saya sedang menemani anak-anak belajar malam di rumah saya. Tugas mereka malam itu adalah membuat soal dari kotak-kotak angka yang saya berikan, dengan cara membuat pohon soal. Pohon soal adalah pohon dimana daun-daunnya ditulisi soal-soal hitungan dari angka-angka yang diberikan dan “berbuah” jawaban. Instruksinya adalah masing-masing anak membuat soal dan jawaban sendiri untuk nantinya ditukar dan mengerjakan milik teman lain.  Tiap “daun pertanyaan” akan memiliki warna yang sama dengan “buah jawabannya” sendiri, dimana letak daun dan buah adalah acak.

Salah satu anak, Hasna, membuatnya dengan memberikan nomor baik pada soal maupun jawaban tanpa saya instruksikan. Hal ini tentu saja menjadi tinggal pelajaran mewarnai saja akhirnya. Pada saat membahas, jadilah teman-temannya mempermasalahkan pekerjaan Hasna yang kurang benar, tidak sesuai instruksi yang diberikan. Disinilah proses “penilaian” secara alamiah dilakukan oleh anak-anak : menilai benar-salah dari tingkat kebenaran mengikuti instruksi yang diberikan. Betul memang harapan saya agar semuanya mengikuti instruksi dengan baik dengan kebebasan mengembangkan apapun selama proses membuat tugasnya. Karena dalam pikiran saya, hal apapun itu, konsep dasar harus dibangun dengan benar dulu, barulah kran pengembangan kreativitas sepanjang proses belajar dibuka pol.
Tapi apa yang terjadi? Tak selamanya cinta itu indah, Jon (nostalgia lagunya Wayang – Tak Selamanya. Ingat? :D). Maksud saya, tak selamanya apa yang dibangun dalam kepala saya tersampaikan dengan cara yang tepat ke sasaran. Dalam diam Hasna kecil saya menangis, membelakangi saya. Punggung tangannya sesekali mengusap pipinya. Saya datangi ia, menanyakan alasan tangisannya malam itu. Lama ia menghabiskan air matanya. Adik Hasna yang masih 3 tahun, Hasni, juga ikut menenangkan kakaknya dengan duduk di samping Hasna. Lucu melihat Hasni mengelus-elus tangan kakaknya dan berucap “sudah kak, jangan menangis. Ayo kita pulang”.

Hingga akhirnya, setelah habis airmata di pipi dan matanya, Hasna menjawab pertanyaan saya (“Kenapa Hasna tiba-tiba menangis? Ibu jadi bingung ini kan?”) :

“Keliru, Bu. “ Lalu dia meneruskan. “ Saya salah mengerjakan. Harusnya ndak seperti ini. “ Sambil menunjuk buku tugasnya.

Dan seorang anak pun terkadang bisa sangat sedih ketika keliru dalam mengerjakan suatu hal, bahkan sebelum sempat dimarahi. Ada dua poin yang saya baca di sini. Yang pertama, pengaruh kebiasaan di rumah yang menjadikannya “perasa”, entah kebiasaan apa. Jelas tidak semua anak akan bersikap demikian pada kasus yang sama. Kembali ke apa yang dibicarakan di awal tadi, bahwa apa yang membentuk karakter anak sekolah usia di bawah 11 salah satunya adalah rumahnya. Saya pun jadi menghela nafas dalam-dalam, memperingatkan pada diri sendiri bahwa sebenarnya anak-anak pun menyadari kalau dia keliru. Poin yang kedua, jadi tanpa harus disalahkan atau dipojokkan karena kesalahannya, sebenarnya jauh di dalam hati mereka sudah sangat sedih. Lalu apa yang harus dilakukan?

Saya pikir tiap guru punya caranya masing-masing. Kalau saya pribadi, yang bisa saya lakukan adalah melapangkan hatinya dulu. Mengiyakan kekeliruannya, ya, tapi juga membesarkan hatinya bahwa dari yang keliru itulah kita beranjak untuk menjadi benar.

Karena saya percaya, apapun yang baik untuk mereka nanti, baiknya dimulai sejak saat ini. Ajari mereka hari ini, maka yakinlah mereka akan bisa melakukannya sendiri. Nanti.

-Dibuat sambil mendengarkan Bila Kau Tak di Sampingku dari album 7 Desember-nya Sheila On 7. Walaupun konteks lagunya bercerita tentang hubungan orang dewasa, tapi judul lagu ini menegunkan saya sebuah hal : bahwa akan kurang bisa dibayangkan kalau para pembelajar cilik ini nanti tidak lagi di samping saya-